Warna. Nada. Skena.: Akhir Pekan dengan Dokumenter Musik

Kineforum, bioskop alternatif yang secara konsisten menyediakan tontonan di luar arus utama, menggelar sebuah seri khusus yang fokus pada dokumenter musik. Seri berjudul Warna. Nada. Skena akan digelar pada 21-23 Juni 2019. Akan ada tujuh film yang ditayangkan sepanjang tiga hari. Juga termasuk di dalamnya, sebuah diskusi yang membahas perjalanan scene musik independen Indonesia secara umum.

Sejak kemunculannya sebagai cara alternatif, Kineforum, yang berlokasi di kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, sudah sering memberi ruang untuk film-film dokumenter musik dari berbagai macam negara. Seperti layaknya fungsi film sebagai produk budaya, pemutaran-pemutaran itu dimaksudkan untuk memberi inspirasi sekaligus referensi tentang sebuah topik. Tidak terkecuali kali ini, ketika menu utamanya diisi lebih banyak karya dokumenter dari negeri sendiri.

“Idenya muncul sejak bergabung dengan Kineforum di awal 2017, saya sudah memilih tema dokumenter musik. Karena saya hobi nonton film dan juga pencandu berat musik. Muncul ide untuk menggabungkan keduanya. Entah kenapa baru terealisasi sekarang. Mungkin timingnya tepat, apalagi setelah ada kabar dicabutnya RUU Permusikan dari Prolegnas kemarin,” cerita Amiata Rukita, kurator Warna. Nada. Skena.

Tujuh buah film yang akan ditayangkan di Warna. Nada. Skena adalah Jalanan (Indonesia), My Buddha is Punk (Myanmar), Bising (Indonesia), The Obs: A Singapore Story (Singapura), #Blackbook Indonesian Hiphop Documentary (Indonesia), Don’t Think I’ve Forgotten: Cambodia’s Lost Rock n’ Roll (Kamboja) dan Ini Scene Kami Juga (Indonesia). Jadwal lengkapnya bisa dicek di bawah ini:

Rukita menjelaskan bagaimana ketujuh film ini dipilih untuk ditayangkan di Kineforum akhir pekan ini, “Proses kurasinya cukup sederhana, karena yang ingin disorot adalah beragam skena musik dari angle yang personal dan unik, sehingga medium yang dipilih adalah film dokumenter. Tadinya hanya ingin fokus pada skena musik di Indonesia, tapi karena ada teman yang menyarankan film My Buddha is Punk, saya terpikir untuk memperluas cakupannya sedikit menjadi Asia Tenggara. Alasan di balik pemilihan film-filmnya adalah representasi skena musik yang berbeda-beda, karena Asia Tenggara, khususnya Indonesia, memang seberwarna sekaligus seproblematik itu.”

Proses kurasinya cukup sederhana, karena yang ingin disorot adalah beragam skena musik dari angle yang personal dan unik, sehingga medium yang dipilih adalah film dokumenter. Tadinya hanya ingin fokus pada skena musik di Indonesia, tapi karena ada teman yang menyarankan film “My Buddha is Punk”, saya terpikir untuk memperluas cakupannya sedikit menjadi Asia Tenggara. Alasan di balik pemilihan film-filmnya adalah representasi skena musik yang berbeda-beda, karena Asia Tenggara, khususnya Indonesia, memang seberwarna sekaligus seproblematik itu.

Detail pemutaran bisa dicek langsung di situs resmi dan akun media sosial Kineforum. Termasuk apakah pemutarannya gratis, berharga tiket atau mengenakan donasi sukarela. Kapasitas Kineforum tidak besar, hanya 45 kursi per pemutaran. Jadi, silakan diagendakan. (*)

Teks dan wawancara: Felix Dass
Foto: Arsip Kineforum

Fragmen Keinginan sheisjo di Nomor "OOE"

Solis asal Jakarta Chika Putri Bagaskara dengan moniker sheisjo telah melepas materi lagu berikutnya yang bertajuk “OOE” (15/08). Sedikit berbeda dari tiga single sebelumnya yang memiliki sound acoustic, “OOE” diracik...

Keep Reading

Inspirasi Film di Materi Teranyar Eastcape

Tahun 2021 lalu menjadi tahun yang bisa dibilang ‘manis’ bagi Eastcape karena di tahun tersebut mereka resmi memperkenalkan dirinya di kancah industri musik dengan menelurkan sebuah single dan Split EP...

Keep Reading

Bersama Ello dan Virzha, Dewa19 Rilis Ulang Materi Lama "Still I’m Sure We’ll Love Again"

Dewa19 melanjutkan perilisan karya-karya lama mereka dalam format baru. Kali ini, mereka merilis “Still I’m Sure We’ll Love Again”, sebuah lagu dari album Format Masa Depan yang aslinya menampilkan vokal...

Keep Reading

Langkah Berikutnya dari Bilal Indrajaya

Usai melepas beberapa materi singel dan album mini Purnama (2019) solis dari Jakarta, Bilal Indrajaya, akhirnya melanjutkan perjalanannya dengan meluncurkan karya terbarunya bertajuk “Saujana” lewat label rekaman legendaris yang kini...

Keep Reading