Ada banyak hal yang sedang terjadi di dalam karir musik Vira Talisa. Penyanyi yang berdomisili di Jakarta itu, beberapa waktu yang lalu, baru saja melepas single paling barunya, Down in Vieux Cannes. Ini merupakan single keduanya tahun 2018 ini, sebelumnya ia juga merilis Janji Wibawa. Kedua lagu ini, ternyata jadi sneak peak untuk album penuh yang sedang dikerjakan.

Sudah dua hitungan tahun masehi berlalu sejak ia merilis self titled EP bersama Orange Cliff Records tahun 2016 yang lalu. Karir musiknya berkembang. Ia mencoba banyak format musik dan, menurut pengakuannya, telah menemukan versi ideal bagaimana musik yang ia hasilkan harus dipresentasikan.

Memantau penyanyi perempuan yang satu ini, merupakan sebuah kegiatan yang menyenangkan. Jalur yang ditempuh soal pengkaryaan terasa beragam dan ada faktor mengejutkan di dalamnya. Kesederhanaan masih ada di sana, tapi pengembangannya bisa ke mana-mana. Membayangkan Janji Wibawa dan Down in Vieux Cannes saja sudah begitu jomplang auranya.

Editor Felix Dass, berbincang dengan Vira Talisa. Tapi, ada satu yang harus diingat. Layaknya kisah klasik dalam industri musik, jangan menunggu kapan debut album penuh yang sedang dikerjakan itu akan dirilis. Nikmati saja apa yang ada di hadapan mata sekarang ini. Syukurilah dengan maksimal, bahwa Vira Talisa berkembang sebagai seorang musisi dan punya banyak hal untuk dibagi di masa depan.

Vir, menurut lo, sekarang gimana karir musik seorang Vira Talisa? Ada banyak hal terjadi sejak EP pertama dulu dirilis. Single berbahasa Indonesia dan kini Bahasa Prancis. How’s music been treating you?

Never been better karena banyak faktor. Tapi yang paling berpengaruh itu menurut gue dari tim internal yang membantu, baik dari manajemen dan bandnya itu sendiri. Dari situ, gue merasa main musik ada purposenya. Musiknya sendiri otomatis jadi makin berkembang. Dulu gue sendirian bikin lagu, sekarang bisa tukar ide. Dulu gue bahkan nggak mengira bakal bisa melibatkan orang dalam proses kreatif. Ternyata dengan orang-orang yang cocok, justru musiknya malah jadi makin berwarna.

Jadi format main band ini sudah jadi yang ideal? Gimana proses menemukan ini selama beberapa tahun terakhir?

Untuk materi yang sekarang sudah ideal. Mungkin ke depannya akan ditambah lagi untuk menyocokan dengan materi-materi baru. Prosesnya naik turun sih. Sempat mengalami pergantian pemain dua kali, sampai akhirnya menemukan orang-orang yang betul-betul senang dengan musik gue. Juga ketemu produser dan music director yang cocok. Proses menemukannya satu-satu. Jadi awalnya manajer gue kenal si A terus si A memberi rekomendasi temennya, si B. Terus temennya kenal si C dan begitu seterusnya sampai akhirnya terkumpul lima pemain di band yang sekarang sudah gue anggap seperti keluarga sendiri ini.

Sekarang penggarapan segala sesuatunya jadi kolektif berarti? Atau masih berpusat di elo atau si music director yang tadi elo sebut?

Biasanya ide awal pasti dari kita berdua, lalu waktu workshop untuk rekaman kita pasti minta pendapat anak-anak gimana. Kita bawa guide tapi waktu workshop pasti ada ide-ide baru dari mereka. Mau itu isian atau soundnya.

Kami yang mendengarkan, jadinya bisa mengira-ngira bahwa materi selanjutnya akan terasa seperti single baru ini?

Kira-kira rasanya bakal seperti di tengah-tengah Janji Wibawa dan Down in Vieux Cannes. Hehe. Kalau diibaratkan, Down in Vieux itu starting pointnya. Sementara Janji Wibawa finish pointnya gitu.

Haha. Bisa begitu… Anyway, musik-musik aura begini kan nggak banyak dimainkan oleh band di Indonesia. Rasanya eropa dan mixturenya kaya. Ada kesulitan nggak sih mengkomunikasikan musiknya ke audience?

Gue berusaha memasukkan unsur nostalgic atau sesuatu yang familiar di kuping orang tanpa sadar. Sebenarnya musik bossanova itu dekat banget di kehidupan kita juga. Misalkan lagi ngopi, banyak kok cafe yang suka menyetel lagunya (Antonio Carlos) Jobim. Tapi mungkin mereka nggak pada ngeh karena kadang cuma jadi background music aja. Gue lumayan yakin kalau sebenarnya materinya itu sangat mudah dicerna, karena kita sangat familiar dengan jenis musiknya. Sadar atau tidak sadar.

Menurut lo sebagai yang punya karya, apa reaksi ideal penonton ketika menyaksikan lo bermain di atas panggung? Karena, kita kan punya crowd yang kebanyakan malu-malu dan super asing pada musik2 mid tempo model gini. Haha. Kebanyakan awkward momentnya…

Reaksi ideal ya tergantung lagunya gimana. Hanya karena orang nggak singalong bukan berarti lagunya nggak impactful kan? Misalnya gue punya lagu sedih, kalau orangnya sampai bengong dan berkaca-kaca itu ideal. Kalau lagunya genit, orang bisa sampai malu-malu, itu ideal. Kalau lagunya singalong-able, mereka singalong, itu juga ideal. Hehe. Musiknya jadi bahasa utama sih intinya. Yang penting perasaannya tersampaikan.

Proses ke album berikut sudah sampai mana?

Lagi rekaman.

Haha. Nggak usah dijanjikan akan keluar kapan ya?

Belum berani. Haha.

Haha. Anyway, proses menciptakan album yang kali ini kalau dibandingkan yang dulu gimana? Kayak, respon orang sama karya lo kan lumayan ok tuh. Apakah itu memengaruhi elo jadi pengen punya ekspektasi banyak dengan karir musik ini?

Proses menciptakan album ya, seperti yang sudah kita obrolin sebelumnya. Kali ini lebih kolektif aja sih. Musiknya jadi lebih seru karena merupakan hasil tukeran ide ramai-ramai. Respon pendengar juga lumayan berpengaruh, ketika gue tahu kalau karya yang dihasilkan bisa memberi impact ke mereka. Jadinya makin semangat bikin lagu dan selalu nggak sabar untuk membawakannya ke panggung dan lihat reaksi penonton.

Tapi, punya misi besar dengan main musik nggak sih?

Besar itu relatif ya. Misi gue sih selalu pengen main musik bareng teman-teman, jalan-jalan sambil membawa pesan yang baik ke orang dan (bikin) musik yang enak.

Ngomong-ngomong jalan-jalan, apa sih yang paling seru dari pergi ke banyak tempat dan main musik?

Dapat kenalannya sih. Kenalan sama makanan, panggung, orang-orang baru. Mikir harus ngomong apa ke crowd A, harus berbeda dari crowd B, melihat respon orang yang berbeda-beda dan harus spontan menyesuaikan beberapa hal di atas panggung. Hal-hal seperti ini yang bikin tetap penasaran dan nggak pernah bosan main musik jadinya.

Susah nggak sih menjalankan itu? Memikirkan hal-hal yang harus dicustomized terus itu?

So far belum terlalu susah sih. Masih bisa dibawa senang. Haha. Biasanya research dulu acaranya apa, tanya-tanya ke panitia dan lain-lain. Biar tahu mau ngomong apa. Untungnya orang-orang pada baik, jadi gue terbantu. Haha.

Paling jauh udah ke mana sih sekarang?

Ke Makassar.

Pernah yang super gagal gitu nggak pas manggung?

Merasa super gagal sih, nggak juga. Tapi saking kepanasanannya samai pengen cepet-cepet turun panggung pernah. Waktu itu manggung jam empat sore di Lapangan Parkir Istora Senayan. Mataharinya pas di depan muka, lagi terik-teriknya.

Terakhir. Sebagai musisi, enakan manggung apa recording?

Keduanya enak. Sensasinya beda. Haha. Recording lebih ngeladenin kesenengan gue sama detail, hal-hal kreatif dan lain-lain. Sedangkan manggung tuh lebih ke kumpul-kumpul, kenalan, ketawa-ketawa. Sebagai orang ambivert (ada di tengah-tengah antara introvert dan ekstrovert –red), gue senang dua sisi itu diladenin di recording dan manggung. Jadi jujur nggak bisa milih salah satu. Jadi musisi rasanya komplit aja bisa melakukan keduanya. Ini profesi yang gue rasa paling cocok untuk dijalani. Justru karena dapat dua hal tersebut. Bisa nulis lirik sendirian, rekaman dan berkutat dengan hal-hal detail yang lumayan teknis, ngulik sound dan instrumen waktu recording. Lalu bisa manggung, ngobrol sama orang dan mendeliver hasil masakan ke orang banyak di saat manggung. (*)

Teks dan wawancara: Felix Dass
Foto: Dok. Vira Talisa, foto tema dan foto terakhir oleh Kelvin Alexander