Vinodii adalah salah satu nama yang harus diperhitungkan di scene fotografi musik Indonesia. Dengan spesialisasinya di scene party/ dance, ia merekam banyak peristiwa penting yang bisa jadi pencatatan sejarah tentang betapa dinamisnya musik Indonesia. Ia menggelar eksebisi solo pertamanya sekaligus merilis zine eksklusif untuk merayakannya. Eksebisinya sendiri akan berlangsung di Gedung Aksara mulai 25 Januari – 1 Februari 2019.

Wawancara di bawah ini, membawa kita semua berkenalan lebih jauh dengan Vinodii. Selamat membaca. (*)

Vin, apa sih yang membuat elo berkarya sebagai seorang fotografer? Bisa dikisahkan bagaimana ceritanya bisa sampai jatuh cinta dengan fotografi dan kemudian jadi profesional?

Pas awal-awal merantau ke Jakarta itu, gue butuh kerjaan. Sebelum megang kamera, dulu sempat juga jadi DJ main di event-event kecil. Terus sempat jadi manajer DJ. Karena gue banyak di lingkungan DJ dan party, gue join ke forum Ravelex.net. Di situlah gue kenal Akhda yang ngajakin gue untuk bikin konten di website namanya Clubbersmedia.com dan Dancesignal.com. Seiring waktu, hampir setiap weekend gue ke klub dengan tujuan liputan dan megang kamera untuk foto-fotoin eventnya. Gue kerja sama Akhda empat tahun, sampai akhirnya gue pindah ke Free Magz dan punya job desc yang kurang lebih mirip-mirip. Tapi gue jadi makin sering ke event yang lebih gede kayak konser-konser gitu. Ada yang di Indonesia dan di luar negeri. Kerja di media tuh jadi batu loncatan gue untuk bisa melihat event-event berjenis lain, kayak opening restoran, launching produk, event musik yang kayak Superbad dan lain-lain. Tapi, party tetap jalan juga. Di tahun 2012 kira-kira gue mulai kepikiran untuk jadi fotografer profesional. Akhirnya mulai nabung beli kamera sendiri dan mengambil sejumlah pekerjaan freelance. Bisa dibilang kecintaan terhadap fotografi itu mengalir begitu saja sih. Memang butuh waktu dan proses, tapi cinta sama fotografi itu tumbuh awalnya dari tuntutan buat membiayai hidup di kota besar ini.

Mulainya susah nggak sih jadi seorang fotografer di Jakarta dengan kacamata perantau model begitu?

Wah, pertanyaan lo bikin gue mikir. Sebenarnya sih, ya susah-susah gampang. Yang penting harus pintar bergaul dan mencari cara supaya elo bisa dikenal sebagai fotografer tanpa harus menunjukkan kamera apa yang elo gunakan dan bilang, “Hey, gue fotografer loh!” Semakin banyak teman, semakin banyak kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan. Itu kalau elo mau jadi profesional.

Dalam kasus lo, membangun pergaulan itu susah nggak? Maksudnya, karir lo kan nggak sebentar nih, ada investasi waktu yang sudah dilakukan.

Seperti tadi gue bilang, gue sih dari dari dulu ya ngalir aja. Karena gue sering ke event-event di klub gitu, gue suka fotoin candid orang-orang joget, minum-minum, ngobrol di bar. Tapi itu dulu malah nggak gue sadari bahwa bisa jadi jembatan untuk kenal orang baru. Misalnya habis gue foto, dia kaget dan malah nanya, “Eh, mas, bilang-bilang dong (kalau mau foto). Bagus nggak?” Kalau ternyata bagus akhirnya ngobrol terus minta kontak deh buat kirim fotonya atau tag foto di Facebook. Atau ada juga yang cuek gue foto, pas posting dan orang itu menemukan, terus kasih komentar, “Eh, ini gue!” Biasanya, foto-foto itu gue mulai setelah jam dua belas. Karena suasana klub itu mulai hidup di jam segitu.

Momen besar yang elo alami apa? Yang membuat orang langsung ngeh, wah si Vinodii ini ok nih.

Wah, itu gue bingung jawabnya sih. Karena ada foto yang menurut gue bagus dan gue suka tapi pas ditanya ke temen, jawaban jujurnya biasa aja. Tapi, kalau mau diambil satu peristiwa sih, sebenarnya pas tahun 2013 gue mulai foto Djakarta Warehouse Project (DWP). Impact ke karir setelah itu gokil sih. Lalu 2015 atau 2016 gitu, gue pernah kontribusi foto buat Hypebast.com untuk artikel yang kalau nggak salah judulnya Hypebeast City Guide to Jakarta. Kalau momen paling favorit sih, tahun 2017. Gue buat video untuk Flume yang menampilkan lagu unreleasednya dia untuk dijadikan video seri waktu dia tur asia pertama kali. Ada yang di Seoul, Bangkok, Tokyo, Singapura dan lain-lain. Gue mewakili Jakarta. Flume muncul pas awal-awal gue kerja di Free Magz dan gue suka banget sama lagu-lagu dia. Gue ngefans sama dia dan dapat kesempatan itu bikin senang banget. Itu kali ya?

Kembali ke karir. Tapi, setelah dijalankan, sebenarnya karir menjadi seorang fotografer itu menjanjikan nggak sih?

Menjanjikan sih. Tapi lima tahun lagi gue nggak tahu ya. Soalnya sekarang aja fotografer baru muncul terus kan? Persaingan makin ketat. Harus tahu gimana caranya bertahan.

Apa yang diperlukan untuk bisa bertahan kalau begitu?

Sebenarnya alami aja sih. Kalau gue yang sudah berjalan sampai sekarang, ya kalau dapat klien kalau dijaga hubungan baiknya. Jadi nextnya diajakin lagi, bahkan kalau bisa sampai direkomendasikan ke kerabat-kerabatnya juga. Kalau lagi nggak ada kerjaan motret, ya terus motret aja apa yang disuka. Jangan lupa posting ke social media juga untuk update orang-orang bahwa elo tuh rajin foto. Gue juga masih kayak pecun sih, ada kerjaan foto ulang tahun anak kecil ya gue ambil, baby shower juga, foto makanan ayok aja, interior juga bisa. Beberapa kali gue mengerjakan foto-foto begitu sih.

Ada sesuatu yang ingin elo capai nggak sih dari segi artistik? Menjadi pecun kan sebenarnya konsekuensi dari profesinya yang belum sustainable. Nah, yang ingin elo kejar apa? Pengen bikin karya yang kayak gimana?

Simple sih, gue sebenarnya pengen ngikut band atau DJ yang masih main di gig-gig kecil buat gue dokumentasiin terus jadi buku atau film dokumenter ketika mereka jadi superstar nanti. Tapi banyak pertimbangan yang bikin gue belum bisa memulai itu.

Pameran yang akan elo buat idenya apa?

Life After Midnight itu muncul karena kebiasaan gue ketika ke party buat foto, suasananya lebih hidup setelah jam dua belas. Ketika table 1 sudah nambah botol, table 2 orang-orangnya sudah mulai berdiri, ketika dancefloor udah mulai getar. Jadi, yang gue tampilkan adalah foto-foto yang menceritakan momen-momen itu.

Lucu juga idenya. Tapi, itu ide yang elo tangkap ketika berkecimpung di scene party ibukota?

Iya, benar. Muncul pas gue sudah sering motret di ibukota dan merasakan kalau hampir semua klub atau party di Indonesia, suasananya baru mulai hidup setelah lewat tengah malam. Jadi, kalau bikin party terus open gatenya jam sepuluh malam, elo datang jam segitu, yang ada malah ngantuk. Bahkan ada yang masih minum intisari di warung seberang, jadi masuk tinggal joget.

Secara teknis, orang di party itu suka nggak sih difoto? Secara umum. Ngumpulin materi untuk ini susah nggak?

Dulu tuh nggak susah. Gampang banget. Tapi biasanya gue candid. Biasanya, gue langsung ke depan dia dan motret aja langsung. Atau dari belakang, gue colek. Begitu dia balik badan, langsung gue potret. Segampang itu. Tapi kalau ada yang nggak suka, ya paling gue hapus fotonya. Anak-anak sekarang masih banyak yang doyan difoto, tapi kalau pergi party sama selingkuhannya biasanya menghindari kamera. Kalau materi untuk proyek ini sih lebih dari cukup. Malah gue bingung milih fotonya mana yang mau dimasukkin.

Selingkuhan banget nih ke party? Haha. Nah, ketika mau buat pameran, susah nggak sih? Apa aja tantangan yang elo hadapi?

Ada banget. Atau mungkin karena sama gebetan A tapi nggak mau ketahuan sama gebetan B kali ya? Atau mungkin pamit keluar rumahnya kerja kelompok. Haha. Untuk bikin pameran, gue kan nggak bisa desain dan karena gue mau bikin zine, jadi kerjasama dengan Anggra –Melina Anggraini— yang bantu gue buat layout zine dan desain pameran fotonya. Kendalanya ya waktu, Anggra kerja kantoran dan sibuk. Juga ngumpulin copyright untuk zinenya. Di pamerannya sendiri, akan ada banyak foto dalam bentuk kolase. Karena menurut gue, menampilkan foto satu per satu gitu jenuh juga. Dan kadang terlalu proper.

Eksplorasi foto itu, idenya dapat dari mana?

Kolase? Idenya dari pas dulu zaman sekolah, gue suka bikin kolase foto-foto. Dulu zaman sekolah, suka banget kalau dapat jatah bikin mading. Dan gue kan suka kultur skateboarding, ada zine dari Antihero Skateboards yang mengingatkan gue ke zaman itu.

Kenapa formatnya hanya zine? Tidak langsung buku?

Mental gue belum siap.

Kenapa merasa belum siap?

Gue merasa belum segede itu sih untuk bikin buku. Pameran ini bisa berlangsung karena dorongan dari Labrana. Mereka membuat gue memutuskan untuk, “Ya udah deh, bikin aja.”

Tapi sebenarnya kan, foto-foto yang elo ambil itu, bisa jadi materi dokumentasi untuk orang? Untuk bisa memahami bagaimana keadaan scene party Jakarta, misalnya. Elo nggak mikir ke arah sana, Vin?

Sempat kepikirannya malah bikin film dokumenter. Tapi sepertinya rumit karena satu sisi gue harus kerja untuk menyambung hidup dan keadaan scene partynya juga mulai seperti lost 2017. Karena mulai terjadi regenerasi dan yang lama-lama dulu udah banyak yang nggak aktif scenenya.

Loh, elo justru sekarang merasa lost dengan scene yang sedang berlangsung?

Yah, nggak lost-lost banget sih. Sekarang tuh lebih beragam dan banyak pilihan party. Tapi buat gue jadinya kayak harus milih nih, gue mau ke mana. Karena semuanya keren. Yang ujung-ujungnya gue memilih untuk datang ke party yang isinya orang-orang yang gue kenal.

Ok, balik lagi ke karya lo sebagai bukti dokumentasi. Berarti, pameran ini akan dilanjutkan dengan bikin buku nantinya? Karena kalau pameran kan one off aja. Sementara, kalau orang nggak bisa datang ke pamerannya, gimana?

Gue punya plan dalam setahun ini mungkin akan jadi buku, atau zine lagi juga nggak apa. Atau malah lanjutin rencana gue untuk bikin film dokumenter yang udah pernah direncanakan.

Di balik semua rencana ini, menjaga stabilitas antara job yang menyambung hidup dan pengkaryaan yang sifatnya mendokumentasikan, susah nggak sih?

Nah, itu yang gue pikirin. Mudah-mudahan nggak susah. Tapi gue sih selama ada waktu dan tenaga untuk datang ke party-party, ya pasti gue datangin.

Dari kacamata lo, sekarang scene fotografi musik sudah gimana sih? Kalau kita datang ke show kan makin banyak tuh orang nenteng-nenteng kamera.

Kalau dibilang bagus, ya bagus. Kayaknya semua orang bisa motret panggung ya sekarang? Datang ke konser pakai kamera-kamera kecil yang mahal untuk kebutuhan social media buat naikin engagement dan awareness. Banyak yang mulai pegang kamera di konser, tapi baru motret beberapa panggung udah langsung jualan ke promotor banting harga. Bebas sih sebenarnya, memang akan mempermudah mereka mulai karirnya. Tapi ya bakalan stuck di situ. Dua atau tiga tahun kemudian, pasti beralih ke bidang yang lain. Ada yang udah gitu, bilangnya, “Ah, foto event nggak ada duitnya, bro!” Padahal dia sendiri yang jatuhni harga. Menurut gue, fotografi musik itu nggak melulu tentang foto bagus atau alat yang bagus. Tapi tentang suasana dari konser itu sendiri yang bisa dirasakan ketika melihat hasil fotonya. Kalaupun foto pakai ponsel tapi pas lihat fotonya bisa jadi merasakan suasananya, berarti foto itu keren.

Haha. Persaingannya banyak yang sehat juga dong jadinya karena pemainnya banyak?

Gue beberapa kali disleding ama teman. Tapi ya berusaha positif aja, bahwa rezeki sudah ada yang mengatur. Makanya itu gue masih suka mecun aja sekarang. Hehe. Persaingan ada di mana-mana sih, gimana menyikapinya saja. Kalau gue sih lebih banyak mengalahnya aja deh.

Nah, arah lo sebenarnya mau ke mana? Jadi pekerja atau ke seniman foto?

Gue pekerja. Gue suka kerja. Gue doyan banget kerja. Dan itu yang bikin gue nggak ngerasa kerja ketika gue kerja. Gue lebih ngerasa sedang having fun!

 

Teks dan wawancara: Felix Dass
Dokumentasi: Dok. Vinodii