Videoklip Tak Biasa dari The Adams

18 September 2020 adalah waktu di mana The Adams kembali dengan sesuatunya yang baru. Tentu saja bukan album. Yang dirilis kali ini adalah videoklip dari lagu “Esok” yang juga terdapat di album paling barunya yaitu “Agterplass” (Belakang Teras Records, 2019). Di sini mereka menghadirkan ragam eksplorasi visual cahaya yang dimainkan dengan cara yang berbeda dan tidak biasa. Videoklip yang disutradarai oleh Gigih Suryo Prayogo (dia juga pemain drum dari band ini dong) ini memiliki durasi 7 menit, dan di sini kita akan diperlihatkan suguhan gelap namun juga berwarna sekaligus. Memasuki awal dari si lagu, kita akan disuguhkan dengan petikan gitar gitar dan pukulan drum bertempo pelan, yang kemudian disusul dengan munculnya para personil satu per satu dengan instrumennya masing-masing, dan mereka tampil dengan balutan cahaya yang kontras dengan latar gelap. Lalu, video tersebut memperlihatkan efek Glow in the dark.

Selain hal-hal di atas, videoklip ini juga menampilkan frame yang berputar seperti kita sedang masuk ke dalam dunia fantasi. Menurut mereka, efek ini sengaja diadakan guna mendapatkan konsep sempurna dari cerita dari lagu “Esok” dan memiliki warna musik yang pelan. Kemudian efek tambahan seperti slow dan fast motion pun juga hadir di beberapa bagian di dalam videoklip ini. Sejak menit kedua, selama 60 detik, “Esok” memamerkakan pendar cahaya yang masif dengan gerak kamera yang semakin cepat mengambil gambar. Gigih juga menumpuk gambar wide dan close-up di bagian ini. Membubuhkan citra psikadelia yang cukup pekat.

Lalu, di detik-detik terakhir si video, efek yang sama kembali hadir, nuansa epik pun semakin jelas berasa dengan hadirnya nyanyian penutup dari suara semua personil. Ide bagus ini pun ternyata adalah ide dadakan yang tercetus begitu saja. Mungkin karena efek adanya pandemi yang dengan sangat terpaksa membuat banyak orang berdiam diri di rumah, kreativitas seseorang pun semakin membuncah. Hal itu pun turut dirasakan oleh Gigih, beragam hal ia kerjakan, beragam ide pula muncul. Salah satunya ide klip “Esok” ini.

Namun, ide yang dadakan tentu saja cukup sulit untuk diimbangi dengan kondisi yang serba terbatas. Tentu saja ada usaha yang sangat besar dalam pembuatan videoklip ini di masa PSBB. Dirinya pun perlu melakukan banyak eksplorasi dan mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan produksi. Dalam prosesnya, dia juga banyak dibantu oleh beberapa penata artistik, desainer, dan pelukis. Bisa dibilang semua proses awal ini memerlukan waktu selama tiga bulan.

“Propertinya dibikin nyicil antara Maret sampai Juni. Karena untuk menimbulkan warna dalam gelap dengan lampu UV itu perlu menggunakan cat khusus. Baju gue tes dulu bahannya. Gue juga riset tentang UV, apakah aman buat shooting berikut warna turunnnya. Juni kelar, Juli baru shooting,” kata dia.

Dengan panjangnya persiapan dan riset ini, tak heran kalau kemudian klip “Esok” lekat dengan banyak eksperimentasi seni. Dia memadukan proyeksi mapping, detil dan kejelian pada pembuatan properti, hingga lukisan yang semuanya berpadu menjadi deretan gambar bergerak yang solid. Menyiasati Covid-19, shooting dilakukan bergantian. Membuat tim produksi dan personel The Adams tidak harus berada di satu tempat dalam waktu bersamaan. Ini menjadi salah satu keunikan sekaligus tantangan sendiri yang dialami The Adams dalam proses penggarapan klip yang dihelat di Studio Teras Belakang ini.

“Jadi hari ini shooting, selang sehari baru kita shooting lagi untuk personel yang lain. Karena sebelumnya kita ngatur buat set-nya,” ucap Gigih.

Kehadiran set yang berbeda di dalam videoklip ini pun memiliki alasan tersendiri yang cukup menarik, selain membawa kembali kesan pesta rilis “Agterplaas” setahun ke belakang di dalam sebuah klip, di setiap set yang ada juga dibuat untuk memvisualkan tiap karakter dari para personil The Adams. Untuk diketahui, pada acara di Studio Palem, Kemang 2019 lalu itu, lima personel The Adams tampil pada lima panggung berbeda dengan layout yang berbeda pula. Alasan yang sama juga disematkan untuk teknik pengambilan gambar yang bertumpu pada gerakan kamera. “Kameranya yang bergerak terus, sementara personel biar jadi karakternya masing-masing,” kata dia. Adapun klip “Esok”, bertutur tentang hidup. Pengambilan gambar yang berputar searah jarum jam serupa simbol dari dunia yang berputar. Gelap, dirasa cocok dengan kondisi pandemi saat ini. Tapi di setiap gelap, ada pendar cahaya yang selalu menyala. Dia adalah kabar suka cita yang sudah saatnya diserukan pada dunia.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip The Adams

Debut Kathmandu Dalam Kancah Musik Indonesia

Musisi duo terbaru di Indonesia telah lahir. Penyanyi bernama Basil Sini bersama seorang produser sekaligus multi-instrumentalist bernama Marco Hafiedz membentuk duo bernama KATHMANDU. Dengan genre Pop-Rock, KATHMANDU menyapa penikmat musik...

Keep Reading

Sisi Organik Scaller Dalam "Noises & Clarity"

Kabar baik datang dari Scaller yang baru saja merilis live session (8/7/23) yang kemudian diberi tajuk “Noises & Clarity”. Dalam video ini, grup musik asal Jakarta tersebut tampil membawakan 5...

Keep Reading

Single Ketiga Eleanor Whisper Menggunakan Bahasa Prancis

Grup Eleanor Whisper asal kota Medan yang telah hijrah ke Jakarta sejak 2019 ini resmi merilis single ke-3 yang diberi tajuk “Pour Moi”. Trio Ferri (Vocal/ Guitar), Dennisa (Vocals) &...

Keep Reading

Sajian Spektakuler KIG Live!

Umumkan kehadirannya sebagai pemain baru pada industri konser musik Indonesia, KIG LIVE yang merupakan bagian dari One Hundred Percent (OHP) Group menggelar acara peluncuran resmi yang juga menampilkan diskusi menarik...

Keep Reading