Urban Farming, Cara Perlawanan Ala Drummer Pemuda Garis Depan

“Daya hidup”, “roh”, “nyawa”, “spiritual” – atau apapun itu namanya – dalam musik hari-hari ini kian menipis, sebagaimana kata Dhila Baharudin, drummer grup musik beraliran punk rawk asal Makasar, Pemuda Garis Depan. Dhila, begitu ia akrab disapa, menuturkan di eranya dulu lirik dan aransemen musik sebuah band muncul untuk merekam sekaligus merespons realitas sosial. Itulah sebabnya ia tak heran mengapa musik kala itu sangat “bernyawa”, punya daya hidup dan daya dobrak yang kuat bagi pendengarnya. “Karena itu, musik di zaman itu mampu memicu segala hal, entah perubahan atau pembaruan.” 

Tapi, Dhila tak hanya berbicara musik yang baginya sudah kehilangan “nyawa” itu. Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk melakukan wawancara di sebuah rumah di wilayah Jatihandap, Kota Bandung. Dalam wawancara dengannya itu, Dhila menuturkan banyak hal, terlebih aktivitasnya yang tengah ia geluti kini, urban farming. Berikut kutipan wawancaranya.

Kebun milik Ardy Siji yang dikelola Dhila

Halo, Mas. Selain bermusik, kesibukan sekarang apa, Mas?

Halo, juga. Selain musik sih, lagi berkebun aja, karena kita tinggalnya dekat dengan lingkup perkotaan sekarang umumnya mungkin lebih dikenal dengan sebutan urban farming. Pengembangannya juga pelan-pelan sih, secara alamiah saja. Ini kan juga belum lama sekitar tujuh bulan. Metode berkebunnya sendiri tergabung dari banyak disiplin ilmu yang berangkatnya dari materi di Bumi Langit di Jogjakarta. Saya kebetulan sempat belajar di Bumi Langit.

Desain urban farmingnya meliputi apa saja, Mas?

Kalau di Bandung, di Jatihandap khususnya, sekarang kita lagi garap rumah belajar berbasis komunitas (saat ini untuk anak-anak jenjang TK dan SD kecil) dan menyiapkan materi berkebun yang cocok untuk segala usia. Materi belajarnya sendiri sebisa mungkin sesuai dengan situasi/ merespon apa yang sedang terjadi di kebun. Karena lahannya miring/ berkontur, sekalian kita respon area tanamnya menjadi beberapa desain untuk media belajar. Dari yang urban farming sampai yang sederhana/tradisional/langsung di tanah contohnya.

Kebun milik Ardy Siji yang dikelola oleh DhilaSejak kapan menggeluti urban farming?

Dari tahun 2014. Tapi dulu enggak di jatihandap. Dulu sempat di Dago atas gabung sama kelompok petani organik disana, lebih tepatnya belajar bareng mereka sih. Nah, di 2014 di wilayah Dago dulu kebetulan para petaninya banyak menanam/ ngembangin sayuran eksotis (seperti bayam Jepang, sayur rocket, dll.) yang bisa kita temui di supermarket tertentu di kota Bandung. Tak berapa lama setelah di Dago, mendadak kita harus bergeser ke Jakarta karena minuman yang kita produksi sendiri waktu itu (kombucha, minuman probiotik berbasis teh hijau, red.) mendapat respon yang bagus di sana. Di Jakarta kita banyak sharing soal berkebun dari satu komunitas ke komunitas lainnya. Juga, di Jakarta kita membantu Warung Kebunku, sebuah restoran organik di Jakarta Selatan, untuk menggarap projek urban farming disana. Yang menarik, saat itu, kita bikin kebun sayurannya di tempat bekas kolam renang di dalam area restoran. Jadi, konsepnya itu semi indoor dengan atap yang bisa digeser-geser.

Teknik urban farming yang dipakai masih tradisional atau seperti apa?

Kita menggunakan teknik kombinasi antara tradisional dan modern. Salah satu metode dasar untuk desain landscaping kebun yang kita gunakan disebut dengan Permaculture atau permanent agriculture. Teknik menanam sayurannya juga disesuaikan berdasarkan kebutuhan sendiri dulu berdasarkan jumlah kalori per orang. Jadi sebelum kita olah lahan kebunnya, kita melakukan riset mulai dari air, kontur lahan sampai jenis tumbuhan apa yang sudah tersedia dan ingin ditanam. Jadi desain bentuk kebun/area tanam sangat menyesuaikan lahan yang tersedia (mengoptimalkan yang ada). Misalnya, tadi yang lahannya miring, area datar paling atas kita pakai teknik square food garden sebagai sample untuk orang yang tinggal di area perkotaan/urban yang sangat minim lahan/area tanam. Dengan teknik persegi seperti square food garden di tempat manapun kita jadi bisa berkebun. Di lahan perkotaan, di apartemen, dan sejenisnya teknik square food garden sangat cocok. Lalu area datar di level bawahnya kita desain dengan model yang lainnya lagi merespon ukuran dan kondisinya.

Kisaran ukurannya untuk yang teknik square food itu berapa?

Ukuran perseginya itu hanya 60×60 cm saja untuk satu tanaman sayur ukuran sedang. Kalau ada lahan lebih besar tinggal diperbanyak saja jumlah kotaknya. Pokoknya, teknik square food garden itu modular, menyesuaikan luas lahan. Jenis sayuran yang ditanam juga beda-beda sesuai pasangan-pasangannya, bukan monokultur seperti petani pada umumnya. Jika tidak ada sama sekali lahan kita masih bisa menanam micro greens, tanaman usia muda yang tidak butuh waktu panen lama. Sayuran micro greens bisa langsung dimakan dan memiliki nilai gizi 4-6 kali dari sayuran dewasa.

Kebun milik Ardy Siji yang dikelola Dhila

Dalam urban farming apakah ada target dalam jumlah produksi?

Yang diterapkan dalam kebun kita ini  tidak berorientasi pada target produksi secara industri. Bukan seberapa banyak jumlah sayur yang bisa kita jual, tetapi lebih ke mencukupi kebutuhan harian konsumsi pribadi/ rumah kita dulu. Jika terjadi surplus itulah yang akan dibagikan/diolah/dijual kepada yang membutuhkan. Karena pola industri itulah (umumnya) yang menjadi jebakan utama yang akhirnya menciptakan budaya konsumtif. 

Misalnya, ketika praktek industri dipakai dalam beternak sapi, hasilnya notabene ya pemanasan global yang kita rasakan sekarang ini. Prosentasi terbesar penyebab pemanasan global itu berasal dari kotoran sapi, bukan dari Freon ac atau asap pabrik dan kendaraan bermotor, dan itu banyak orang yang tidak tau. Silahkan cek sendiri datanya ya, kalo tidak salah ada film dokumenternya kok. Disisi lain, jika kita telusuri lebih lanjut pada dasarnya tubuh kita ini tidak harus mengkonsumsi daging merah setiap hari juga. Jadi, kebutuhan dalam dunia industri sekarang itu direkayasa sebenarnya, diada-adakan yang sebetulnya kita tidak terlalu membutuhkannya. Tak heran dewasa ini banyak penyakit aneh bermunculan.

Kebun milik Ardy Siji yang dikelola Dhila

Oh ya? Berarti kalau Untuk Urban Farming ada aturan sendiri yang baku?

Kita tidak seperti itu. Pola tanam dan mendesain area kebun yang terbaik adalah menyesuaikan bagaimana situasi tempat itu sendiri. Tetapi ilmu hitungan untuk memenuhi kebutuhan sayuran/hijauan 1 orang dewasa selama 1 tahun sudah ada, yaitu kurang-lebih 400m2. Jadi sebetulnya jumlah produksi bisa dihitung, disesuaikan kebutuhan tubuh, kebutuhan makan sehari-hari. Kalaupun ada lebihnya baru kita berikan ke yang membutuhkan atau bisa juga dijual, tergantung yang membuat projek kebunnya. Yang jelas, kita tidak berorientasi produksi secara industri yang malah akan membuat jadi mubazir, menciptakan budaya konsumtif di masyarakat. 

Kenapa lebih memilih aktivitas berkebun?

Nah, itu. Orang di luar, kan ngelihatnya cuma sisi berkebunnya saja. Kita ngelihatnya beda. Jadi, berkebun bagi kita adalah kegiatan “spiritual”. Berbicara tentang semua lini kehidupan, karena semua berkaitan. Dulu saya menemukan nilai “spiritual” itu, kan, di musik, nah sekarang “yang kelihatannya” lewat berkebun. Kalau ditanya kenapa berkebun, menurut kita, berkebun lebih relate dengan situasi zaman sekarang, situasi sosial dan dunia saat ini pada umumnya menghendaki kita untuk meresponsnya dengan berkebun karena pengrusakannya sudah sangat luar biasa. Ini menurut pribadi saya, ya, jadi “spiritual”, “daya hidup”, “roh”, “nyawa”, atau nilai apapun itu namanya dulu saya temukan di musik.

Tapi pernah merasakan musik itu adalah nyawa kan?

Dulu, jika kita telaah lebih lanjut, medium untuk merespons situasi sosial dan yang paling efektif menyentuh psikis orang-orang untuk sadar dengan keadaan sosialnya itu adalah dengan musik. Sesuatu yang sangat dekat menyentuh “hati” yang tidak heran di beberapa aliran agama tertentu melarang kegiatan ini. 

Jadi, genre musik berkembang itu sejatinya untuk menanggapi perubahan sosial/situasi pada zamannya, maka muncullah blues, rock n roll, punk rock, grunge dan sebagainya. Black metal di Norwegia, misalnya, awalnya gerakan musik bawah tanah itu muncul sebetulnya adalah bentuk perlawanan dengan situasi sosial, merespon situasi real di sana. Masuknya Kristenisasi, McDonald’s (gelombang kapitalisme baru), dll. yang mengancam kultur mereka waktu itu.

Tapi, menurut saya ini, ya, “spiritual”, “daya hidup”, “roh”, “nyawa”, atau nilai apapun itu namanya sekarang sudah tidak bisa saya temukan lagi, sudah hilang di musik. Lirik dan aransemen musik sekarang, menurut saya, cuma jadi template. Hanya di teknis bermusik saja. Musisi harusnya sadar dengan itu. Intinya, saat ini, berkebun, buat kami, adalah salah satu bentuk pemberontakan yang relevan melawan situasi zaman saat ini.

Aktivitas berkebun pernah dituangkan dalam lagu?

Pernah, bersama Pemuda Garis Depan. Albumnya juga sudah kita siapkan, tapi waktu releasenya kapan belum ditentukan.

Teks: Emha Asror
Visual: Arsip dari Dhila

PARTIKILAS Part II: Favorit Siasat Partikelir di 2021

Ada begitu banyak jumlah karya yang dirilis oleh para musisi di sepanjang tahun 2021. Seperti yang sudah diulas dalam Partikilas Part I, berdasarkan pantauan di email Siasat Partikelir, setiap harinya...

Keep Reading

PARTIKILAS Part I: Mereka yang Berbagi Kabar di 2021

Untuk menyambut tahun 2022 yang penuh harapan, di bawah ini kami menyuguhkan kilas balik yang bersumber dari data dan dokumen internal Siasat Partikelir di sepanjang tahun 2021.

Keep Reading

5 Alasan Kenapa Rock In Celebes 2021 Begitu Penting Untuk Disimak

Memasuki tahun ke-12, Rock In Celebes kian menunjukan taji atas kiprahnya di ranah festival musik. Tahun ini, festival yang berbasis di pulau Sulawesi tersebut kembali menggulirkan agendanya dan akan digelar selama 10...

Keep Reading

Interview: Caccia dan Perjalanannya Menyusuri Musik

Apa rasanya bisa band-bandan dengan pasangan? Caccia mungkin salah satu dari beberapa unit musik yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Duo asal Jakarta ini dimotori oleh sepasang kekasih, Anya (vokal) dan...

Keep Reading