Penyanyi solo Wangi Gitaswara akhirnya menyelesaikan debut album penuhnya setelah tiga tahun. Ia terjun ke kolam besar di mana banyak musisi baru mencoba peruntungan lewat karya. Retas Imaji, album berisi sepuluh lagu, menjadi perkenalan yang lengkap untuk publik. Sebelumnya, ia telah merilis EP berisi tiga lagu yang rasanya super tanggung karena durasi putarnya pendek.

Sebagai seorang pendatang baru, yang ia tawarkan cukup bervariasi. Dan variasi itu pulalah yang mengundang terjadinya wawancara ini. Belum banyak yang mendengar karyanya, tapi layaknya musik bagus yang ditemukan di tengah belantara, ia harus dikabarkan kepada orang yang lebih banyak.

Selamat membaca, selamat menikmati Wangi!

Wangi, gimana rasanya menyelesaikan debut album perdana?

Lega sekali. Setelah dalam prosesnya ketemu banyak hambatan seperti mengalami kebuntuan nggak bisa menulis lagu dalam waktu yang lama. Dan juga insecurity dan self doubt yang hampir bikin saya mundur untuk jadi solois. Tapi di sisi lain, banyak sekali yang menunggu-nunggu karya saya. Banyak sekali yang percaya kalau saya bisa menyelesaikan album ini. Banyak sekali pendengar yang mengaku tersentuh sama karya-karya saya sebelumnya. Begitulah, support dari orang terdekat dan para pendengar akhirnya bikin saya semangat lagi sampai akhirnya album ini selesai.

Interaksi begitu muncul sebagai feedback dari karya-karya yang pernah dirilis sebelumnya?

Iya. Banyak yang istilahnya sering menagih, “Mana nih single barunya?” dan lain-lain. Karena memang dari rilis EP sampai rilis full album jaraknya cukup jauh. Hampir tiga tahun.

Terus, yang sebenarnya membuat kamu sempat ingin berhenti?

Dulu awal-awal manggung setelah debut EP, masih sering demam panggung yg bikin saya ngerasa nggak bisa nyanyi tiap kali tampil live ataupun taping. Anxiety mengalahkan segalanya sih, awalnya. Sempet nggak yakin aja kalau saya cocok jadi performer. Nah, saat itu kebetulan saya juga mulai ngajar di sebuah playgroup di Bandung. Kerjaannya main sama anak-anak terus. Dan seiring berjalannya waktu, lama kelamaan saya makin luwes dan rileks untuk tampil di depan umum. Jadi, bisa dibilang anxiety saya berkurang semenjak kerja di dunia anak-anak.

Dorongan untuk main musik juga lebih besar?

Iya. Jadi semakin ingat kalau ada banyak orang yang pingin dengerin lagi karya-karya saya.

Nah, proses menggarap albumnya memang perlu waktu segitu lama? Selain persoalan yang tadi, apa yang menyebabkan perlu waktu tiga tahun untuk menyelesaikannya?

Proses pengumpulan materi, recording sampai mixing mastering kira-kira dua tahun lamanya. Yang bikin lama adalah sayanya susah puas di bagian ngisi vokal, jadi didiutak-atik terus. Take ulang terus. Sambil eksplorasi teknik bernyanyi juga. Begitupun dengan aransemen musiknya, pak produser Wira Achmady butuh waktu lama untuk memadukan berbagai referensi supaya warna Wangi Gitaswara bisa melekat di setiap lagu di album saya.

Ketemu produser prosesnya cepet? Atau lama? Seberapa penting kontribusinya di debut album ini?

Produser di album Retas Imaji kebetulan orangnya masih sama dengan produser saya di EP Timeless. Kontribusinya sangat besar karena kebetulan aransemen di tiap lagu hampir seluruhnya dia yang buat dan dia juga yang mengisi sebagian besar instrumen di lagu-lagu saya.

Menemukan orang yang sevisi itu susah nggak? Proses kerja yang menghasilkan Retas, nemunya susah nggak?

Susah sih sejujurnya. Apalagi aku yang awalnya fleksibel, mulai agak keras kepala dan makin into details saat mengerjakan album. Dalam penggarapan album ini nggak jarang kami cekcok dan beda pendapat. Tapi balik lagi, kita tetep tahu porsi masing-masing. Produser yg lebih ngerti komposisi. Tinggal aku yang berusaha mastiin kalau setiap lagu tetap membawa pesan lewat nuansa yang kebangun dari aransemennya.

Puas nggak dengan hasilnya?

90 dari 100 deh.

Kalau boleh tahu, apa yang bikin nggak puas?

Pengennya bikin lebih banyak lagu dengan Bahasa Indonesia. Tapi susah. Jadinya Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia 50:50.

Tapi itu kan masalah banyak orang. Katanya banyak penulis lagu, memang lebih sulit menulis dalam Bahasa Indonesia, kan? Kalau dari segi musik, gimana? Puas? Saya sih mendengarkannya merasakan sesuatu yang baik-baik saja.

Kalau dari segi musik cukup puas sih. Nggak ada lagu yang jadi least favorite. Cuma ya itu, sedikit gemas karena meleset dari kehendak. Mungkin di album berikutnya bisa terwujudkan.

Tapi berarti punya rencana untuk meneruskan ini? Seru ya main musik dan berkarya?

Tentu. Masih ingin membuat karya-karya lainnya. Masih ingin jadi bagian dari inspiration cycle karena menyenangkan sekali bisa mengolah inspirasi sampai bisa jadi sesuatu yang menginspirasi lagi.

Sebenarnya, apa sih yang kamu harapkan dari album Retas Imaji ini? Persaingan musik kan lumayan. Banyak yang merilis karya…

Yang diharapkan dari album Retas Imaji, untuk saya sendiri, semoga jadi awal yang baik untuk menuju panggung-panggung baru. Juga untuk bertemu orang-orang baru. Untuk para pendengar, dan siapapun yang mendengarkan lagu-lagu di album ini, semoga bisa semakin dekat dengan perasaannya masing-masing. Pasti butuh perjuangan untuk bisa tetap kelihatan di tengah-tengah musisi keren lainnya. Tapi selama masih ada segelintir orang yang setia mendengarkan dan menunggu karya-karya saya, saya akan terus kerja keras dan tentu saja tetap berkarya di dunia musik.

Sejauh ini, dengan pola interaksi yang begitu digital, menjual cd persoalan susah nggak sih?

Iya sih, jadi tantangan tersendiri karena sekarang semua lebih praktis digital. Makanya sekarang lagi nyiapin boxset juga untuk bantu push penjualan cd.

Tapi, masih menganggap rilisan fisik itu penting?

Masih penting sih mas menurut saya. Karena rilisan fisik itu seperti tropi tersendiri bagi para musisi. Dan pembelian cd adalah bentuk apresiasi yang sangat berarti buat para musisi. (*)

Teks dan wawancara: Felix Dass
Foto: Dok. Wangi Gitaswara