Untuk para Pembela HAM dari Dialog Dini Hari

Di Indonesia, perkara Hak Asasi Manusia (HAM) selalu menjadi narasi yang terpinggirkan oleh pemerintah. Di tengah semakin represifnya negara terhadap kebebasan berekspresi dan segala macam polemik di dalamnya, bertepatan dengan Hari Hak Asasi Manusia (10/11) trio blues/folk asal Bali, Dialog Dini Hari (DDH) melepas lagu tunggal terbarunya berjudul ‘Payung Hitam’. Peluncuran lagu ini sekaligus menjadi pengingat bahwa masih begitu banyak kasus pelaggaran HAM di masa lalu maupun hari ini yang belum selesai.

Musik selalu berhubungan dengan banyak hal, termasuk menyoal Hak Asasi Manusia dan segala macam fenomena di baliknya. Di tengah situasi ekonomi yang sedang terpuruk akibat pandemi Covid-19, seorang petinggi negara sekelas menteri tega melakukan korupsi bantuan sosial bagi mereka yang terdampak. Di lain sisi, agenda pemilihan kepala daerah serentak yang berpotensi memicu penambahan kasus Covid-19 pun terus dilaksanakan. Melalui singlenya ini, DDH berupaya untuk merespon segala kekacauan yang kini terjadi, terlebih dalam urusan HAM.

“Kami sengaja meluncurkan lagu ini (Payung Hitam) pada hari peringatan HAM sedunia untuk mengingatkan kembali bahwa masih banyak pelanggaran HAM yang tidak kunjung diselesaikan Jokowi, tetapi justru menggelar Pilkada yang tidak jelas di tengah pandemi seperti saat ini,” kata Dadang SH Pranoto, gitaris dan vokalis DDH melalui rilisan persnya.

Diceritakan, penciptaan lagu ini bermula dan terinspirasi dari perjuangan para ibu yang setia menggelar aksi Kamisan di depan Istana Negara. Meskipun Dadang dan personel DDH yang lain belum pernah secara  langsung terlibat dalam aksi tersebut, namun mereka tentu ikut mendukung termasuk melalui lagu terbarunya ini. Lanjutnya Dadang bercerita, pada saat DDH konser di Jakarta tahun lalu, mereka memang pernah dihubungi aktivis KontraS yang ingin mengajak Bu Sumarsih, salah satu aktivis Kamisan dan ibu dari korban tragedi Semanggi I.

“Tetapi waktu itu kami belum siap karena belum ada karya apapun tentang mereka. Dari situ aku jadi mengingat kembali. Akhirnya pada saat lagu ini jadi, aku coba mulai mewujudkan sebuah keprihatinan pribadi sebagai musisi terhadap pelanggaran-pelanggaran HAM yang masih terjadi sekaligus dukungan terhadap aksi Kamisan,” ungkap Dadang.

Proses penggarapan lagunya sendiri memakan waktu satu bulan. Dadang merupakan orang dibalik lirik yang eksplisit itu, kemudian Brozio Orah (bass) dan Deny Surya (drum) menggarap dan menyelaraskan aransemennya. Setelah sempat bongkar pasang komposisi selama sebulan, akhirnya lagu ‘Payung Hitam’ pun selesai. Tiupan klarinet dari Yuvenus Donny Hermawan turut memperindah irama lagu berdurasi 4 menit 23 detik ini.

Dadang menambahkan, peluncuran Payung Hitam pada peringatan Hari HAM tahun ini juga sebagai pengingat, terutama anak-anak muda, tentang pentingnya HAM. Menurutnya HAM merupakan fondasi utama demokrasi di negara manapun juga. “Setiap orang harus menghormati HAM, terutama penguasa,” tegasnya. Harapan DDH itu diwujudkan dalam salah satu bait lirik lagu mereka.

Kesabaranku bagai denyut jantung
Berdetak mengetuk gerbang istanamu
Hingga waktunya nanti darah ditubuhku tak mencapai otak Kuharap jawaban jawaban yang ku mau bisa kutemukan Payung payung hitam menunggu

“Apa yang kami sumbang mungkin tidak besar, tetapi hal-hal baik tetap harus didukung seperti perjuangan para korban pelanggaran HAM. Apa yang mereka lakukan lewat aksi Kamisan pun sudah menggaung ke mana-mana,” lanjutnya.

“Mungkin dengan karya ini kita bisa menunjukkan bahwa jauh dari Jakarta, kami juga peduli pada apa yang mereka perjuangkan,” pungkas Dadang.

Lagu ‘Payung Hitam’ dirilis oleh Rain Dogs Records dan artwork dikerjakan oleh Cempaka Surakusumah. Sedangkan untuk sesi rekaman, lagu tersebut direkam di Posko Studio, Ubud sementara vokal direkam di Kawanbaik Studio, Rumah Sanur. Selain dirilis dalam format audio, ‘Payung Hitam’ pun dirilis dalam bentuk video lirik garapan Toma & Kako yang sudah bisa kalian saksikan di channel Youtube Dialog Dini Hari.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Dialog Dini Hari

My Bloody Valentine Kritik Spotify Soal Lirik yang Salah

Di antara kalian pasti ada dong yang pernah memutar lagu di Spotify sambil menikmati fitur lirik yang disediakan. Lewat fitur ini, para pengguna Spotify bisa sambil bernyanyi sesuka hati. Tapi,...

Keep Reading

Patahan Imajinasi Masa Kecil di Nomor Terbaru Latter Smil

Latter Smil, duo asal kota Palu yang dihuni oleh Dian dan Eko, dipermulaan tahun 2022 ini kembali melepas karya teranyarnya bertajuk “Kalila”. Lewat single ini Latter Smil mencoba untuk memberikan...

Keep Reading

Perjalanan Skena Musik Ambarawa dalam Album Kompilasi They Hate Us

Terlihat dalam beberapa tahun terakhir, produksi album kompilasi skena musik lokal mulai kembali marak. Tercatat ada beberapa deretan kompilasi yang terbit pada setahun-dua tahun ke belakang, seperti Bikin Kompilasi: Bless...

Keep Reading

Dua Album Milik Semiotika Akhirnya Dilepas Secara Digital

Usai merilis album penuh bertajuk Eulogi, unit post-rock asal Jambi, Semiotika akhirnya merilis dua album terdahulunya Ruang (2015) dan album mini Gelombang Darat (2018) ke dalam format digital. Sementara album...

Keep Reading