Album perdana Umar Haen Gumam Sepertiga Malam baru saja dirilis. Album berisi sembilan lagu rilisan Akik Records ini dengan lugas menceritakan lekuk kehidupan mahasiswa di Jogjakarta, kota yang memang sudah dikenal sepanjang sejarah modern Indonesia sebagai kota pelajar. Lirik yang bertebaran berasal dari pengalaman pribadi maupun observasinya selama tujuh tahun menuntut ilmu dengan jatah waktu maksimal.

Di luar kebiasaan band yang dibentuk di Jogjakarta yang biasanya bubar setelah para anggotanya kelar kuliah, Umar Haen justru merilis album setelah lulus.

Menurut Umar, mitos band yang bubar setelah personilnya lulus kuliah itu sebagian besar karena mereka merasa senasib sebagai mahasiswa yang ketika lulus harus realistis terhadap hidupnya, termasuk ketika harus mencari nafkah di luar Jogjakarta. Baginya, hal tersebut bisa dilihat secara terbalik; Ia merasa realistis dengan hidupnya dan kemudian memilih musik sebagai jalan yang tepat.

Ia berasa dari Temanggung, Jawa Tengah. Dilengkapi latar belakang keluarga yang tidak mempunyai darah seni. “Ya, suka aja (sama musik). Aku sejak kecil selalu menyanyi di rumah walaupun sering dianggap fals oleh keluarga” kenangnya sembari menjelaskan alasannya menjadi seorang musisi.

Karena ada ujian ketika kelas tiga SMP, barulah Umar giat belajar bermain gitar. Membentuk band tetap menjadi obsesinya ketika pindah kuliah ke Jogjakarta. Di tahuun 2013, ia sempat membuat band bersama teman-teman kampusnya. Band itu belum punya nama tapi sudah menulis komposisi asli mereka, ada tiga lagu.

“Saat itu paling suka dengan musik rock dengan karakter vokal yang berat model Creed dan lain-lain,” ceritanya. Bandnya tidak berkembang dan kemudian ia mencoba peruntungan baru sebagai solois. Tahun 2016 dengan bekal gitar dan tabuhan Arok (instrumen kayu yang berfungsi sebagai cajon dan tamborin), munculah proyek solonya.

“Aku percaya dengan kehidupan sebagai musisi, percaya bahwa musik itu jalan yang ideal walaupun untuk menghidupi secara kongkrit ya harus dengan bekerja” ujarnya. Saat ini, ia punya rencana. Mencoba untuk mencari jalan sebagai musisi. Tengat akhirnya adalah usia 27, tiga tahun mendatang. “Aku berjanji sampai nggak akan bubar bermain musik, setelah umur 27 tahun baru berpikir realistis,” lanjut Umar yang saat ini masih berumur 24 tahun. Di waktu yang diaturnya sendiri, ada ruang selama tiga tahun untuk menjadikan musik sebagai pilihan yang realistis.

Tahun 2018 ini, pasak pertamanya untuk menjadikan musik sebagai jalan hidup dipancang. Album perdana yang berjudul Gumam Sepertiga Malam dirilis. Album ini banyak bercerita tentang pengalaman pribadi dan observasinya ketika bersinggungan dengan kehidupan keseharian mahasiswa yang uniknya, tidak banyak dibahas.

Salah satunya tentang berbagai macam kenakalan yang mungkin terjadi.

“Misalnya level paling cemen itu kayak kalau di rumahnya nggak ngerokok, pas hidup di Jogja jadi perokok. Terus lanjut minum alkohol, terus aktif secara seksual lalu makai narkoba itu level kenakalan yang lebih tinggi. Pintu masuknya dari merokok,” jelasnya. Observasi itu ada di lagu Di Jogja Kita Belajar.

Dari kacamata orang yang mengalaminya, Umar tidak melihat hal tersebut sebagai bentuk kelakuan yang negatif melainkan sebagai proses pendewasaan seseorang sebagai perantau. Ketika pindah ke Jogjakarta, ia merasa mendapatkan kebebasan dan harus bisa belajar sendiri untuk bertanggungjawab. “Itu menjelaskan kenapa aku menyebutnya belajar bukan nakal, karena kenakalan itu bentuk pembelajaran,” katanya.

Jogjakarta dianggap sebagai laboratorium berkarya, tempat bereksperimen, sementara kalau persoalan mencari uang, ya harus mengarahkan busur ke Jakarta. “Aku melihat situasi ini entah kesulitan dari teman-teman atau kulturnya emang begitu, tapi aku pengen berupaya untuk tidak hanya menjadikan Jogja sebagai laboratorium membuat musikku tapi juga sebagai jalan mencari nafkah,” jelasnya tentang analisa yang ia temukan berkaitan dengan siklus ini.

Gumam Sepertiga Malam adalah kendaraan yang ia tumpangi untuk mencari tahu banyak hal yang perlu dijawab. Semoga berkelanjutan dan berkesinambungan. (*)

 

Teks: Indra Menus
Foto: Dok. Umar Haen