Keberadaan Grrrl Gang sebagai band yang cult, sedikit banyak bisa direkam oleh sebuah wawancara panjang yang diterbitkan dalam bentuk fisik ini. Judulnya What You Don’t Need To Know About Grrrl Gang. Dicetak terbatas sebanyak seratus eksemplar.

Ketika melihatnya pertama kali, saya langsung bersyukur sebesar-besarnya. Inisiatif untuk membuat pengalaman menikmati band jadi lebih panjang dari apa yang tersaji lewat halaman layar datar bernama Spotify, Instagram dan Youtube, ternyata masih menyenangkan.

Tiga orang personil Grrrl Gang berbincang dengan representasi Kamboja Press, penerbit yang merilis zine ini. Wawancara panjang ini menawarkan beberapa hal yang sifatnya ekstensif. Keberadaan hal baru yang bisa didapatkan dari membaca sebuah produk fisik, merupakan tujuan yang bisa dicapai.

Tanpa bermaksud memberikan spoiler, misalnya saja bagian di mana tindakan Angeeta Sentana menendang salah seorang penonton yang ternyata punya efek yang tidak lurus-lurus saja pada beberapa dua orang personil lainnya. Kendati mereka ada di belakang si vokalis. Atau, pertanyaan tentang sematan lagu terbaik yang diberikan oleh Rolling Stone Indonesia yang lumayan seru untuk dibahas lebih lanjut di tongkrongan sembari bertukar gosip-gosip underground.

Zaman mungkin berubah, penyesuaian mungkin ada di mana-mana, tapi merekam sebuah periode tetap jadi kebutuhan yang perlu dilestarikan.

Bayangkan saja, bagaimana jika kemudian zine ini ditemukan kembali oleh mereka yang menyimpannya dan dibaca ketika nanti Grrrl Gang sudah menjadi band yang lebih besar dan ramai ditanggap di mana-mana sepuluh tahun dari sekarang. Atau sebaliknya (yang amit-amitnya semoga tidak kejadian), ketika masing-masing personilnya menjelma menjadi pekerja bank yang terlalu teratur hidupnya setelah menemukan bahwa main band bukan hal yang menyenangkan lagi, juga sepuluh tahun dari sekarang.

Silakan gantikan variabel sepuluh tahun itu dengan apapun hitungan tahun yang lain. Sebuah masa perlu direkam dan dirayakan.

Jadi plus besar untuk saya ketika kemudian ini bercerita tentang band yang disukai. Sayang, harganya mahal untuk sebuah publikasi berjumlah dua puluh enam halaman. Bisa jadi karena eksklusivitas yang coba ditawarkan, tapi rasanya publik berhak dapat harga yang lebih masuk akal. Jika kamu yang membaca tulisan ini merupakan seorang penggemar Grrrl Gang seperti saya, perkara harga pasti bisa dijustifikasi. Kalau bukan, ya mungkin perlu berpikir beberapa kali untuk mendapatkannya. Hehe.

Oh, jika ingin kapan-kapan kita ngobrol tatap muka membahas perkara harga dan pentingnya isu dokumentasi, saya terbuka. Yuks. (*)