Ulasan: Akulturan Berombak di Album Baru The Panturas

Wajar berasumsi bahwa The Panturas ingin mengulangi dan melampaui kesuksesan album Mabuk Laut dengan merilis album kedua Ombak Banyu Asmara. Di tengah grafik pamornya yang kian menanjak, keputusan untuk melepas album kedua semacam memasang kartu judi, apakah album ini bisa diterima sesuai ekpektasi atau malah susut dimakan ekspektasi itu sendiri. Coba hitung ada berapa album kedua yang berhasil mengalahkan kesuksesan album pertama? Pertaruhan yang perlu dipikirkan matang memang.

Tapi bersyukurlah, album Ombak Banyu Asmara sudah mencuri perhatian sejak “Balada Semburan Naga” dilepas tahun lalu, disusul “Tafsir Mistik” yang makin membuat penasaran bakal seperti apa rupa album ini setelah dirilis penuh, terlebih dengan segala eksplorasi musik yang The Panturas janjikan.

Kabar baik pun bersambut, di paruh pertama bulan September (10/9) ini, tak lama setelah kabar The Beach Boys merilis kompilasi Feel Flows: The Sunflower & Surf’s Up Sessions 1969–1971,  The Panturas pun akhirnya melepas penuh album keduanya itu. Ada 10 lagu tersaji di dalam Ombak Banyu Asmara. Dengan 4 lagu nir-lirik, 2 lagu hasil duet vokal, dan sisanya adalah semburan total yang menyisakan residu memabukan setelah mendengarnya secara khusyuk.

Dibuka dengan pemanasan “Area Lepas Pantai”, Ombak Banyu Asmara siap berlayar dari dermaga untuk mengarungi gendang telinga para pendengarnya, bersiap mengangkat jangkar dan mengantarkan 10 lagu dengan penjelajahan warna musik yang cukup luas. Hembusan angin segar dari Jatinangor pun berdesir.

Beranjak dari “Area Lepas Pantai” lagu pun melaju ke nomor “Tipu Daya”, personifikasi seorang bandit penipu yang berlagak jawara. Gado-gado sisipan melodi dan progresi pun terpancar dari lagu ini. Alih-alih terdengar total surf rock, nomor “Tipu Daya” lebih memunculkan sisi eksplorasi mereka, persis seperti apa yang dikatakan Surya ‘Kuya’ Fikri Asshidiq, bahwa mereka telah merambah pengaruh-pengaruh musikal yang lebih lebar di setiap lagu Ombak Banyu Asmara.

“Kami banyak mendengarkan referensi baru di luar wilayah surf music puritan, semisal Takeshi Terauchi atau Yanti Bersaudara. Ombak Banyu Asmara coba mendobrak kebiasaan yang sudah pernah Panturas lakukan sebelumnya. Kami tidak ingin tertebak.”

Berlanjut ke “Tafsir Mistik” pelayaran pun menemukan atmosfer baru. Musik untuk bersenang-senang seketika tergelincir ke suasana yang cukup mencekam. Sajian cerita mitos dibalut musik ala rock ‘n roll melayu diecer aksen gipsi dengan tempo lambat mengantarkan pendengar pada ruang imajinasinya masing-masing.

Berbicara soal lirik, The Panturas sepertinya cukup percaya diri menampilkan diksi-diksi yang tak lazim digunakan. Semisal di “Tafsir Mistik” penggunaan kata Ruqyah, Amuh, Kikuk, sampai Mustakim tertuang di sana. Atau di lagu “Tipu Daya” yang sekonyong menampilkan kata Boyak, Perangai, hingga Sintas. Lagu dalam Bahasa Indonesia memang punya daya tarik tersendiri, tanpa terdengar ‘dipaksakan’, The Panturas telah sukses menambah kosakata dalam kamus bahasa keseharian para pendengarnya.

Di lagu “Jim Labrador”, Abyan Zaki Nabilio (gitar dan vokal), Rizal Taufikkurrohman (gitar), Bagus Patria A (bass), Surya Fikri Asshidiq (drum) sepakat menginjak pedal gas sampai mentok. Salah satu nomor yang bakal membakar arena mosphit. Musik garage disiram attitude punk siap mengantarkan Jim bertahan di tengah kerasnya kehidupan ibu kota. Meskipun akhirnya Jim sang Labrador itu tetap berakhir mati di jalanan.

“Menuju Palung Terdalam”  menyusul selanjutnya. Pesona instrumentalia membukan di lagu ini nyaris mengarahkan jempol saya untuk menekan tombol putar dua kali ketika pertama mendengar penuh Ombak Banyu Asmara, tapi urung, saya lebih memilih kejutan-kejutan lain di lagu selanjutnya. Aksen musik Sunda begitu lekat di lagu ini. Selain cocok didengar ketika tenggelam menuju dasar lautan, lagu ini pun bisa jadi rekomendasi untuk menemani kalian menuju langit tertinggi. Sisipan bunyi organ Hammond oleh Panji Wisnu di pertengahan lagu cukup signifikan menambah nilai tambah untuk memasukan lagu ini ke dalam daftar putar ketika sedang kobam.

Cablak sempurna Adipati ‘The Kuda’ di trek “Balada Semburan Naga” adalah salah satu part terbaik selama mengarungi album ambisius ini. Vokal yang silih bersahutan antara Abyan dan Pati begitu memikat telinga. Belum lagi suntikan aransemen musik yang dibuat semacam musik Mandarin. Berakhir dengan kasih yang tak direstui, album pun melanggeng ke nomor pop romantis “All I Want”, meluncur ke intrumentalia “Intana”, kemudian ke total swing  “Masalembo” yang menampilkan vokal genit Nesia Ardi dari NonaRia dan berakhir di “Ombak Banyu Asmara” nomor tanpa lirik yang menyambut berakhirnya pelayaran mereka.

Ibarat berada di dalam sebuah kapal yang berisi banyak orang dari berbagai macam budaya dengan cerita dan permasalahannya masing-masing, kesemua lagu telah berhasil memberikan nuansa berbeda, semarak dengan warna musik, surf rock yang tak konvensional. Inilah yang membuat The Panturas semakin istimewa. Mereka berpikiran jauh ke depan dengan menggali banyak gaya musik dari berbagai penjuru. Dick Dale, Bob Bogle dari The Ventures, Brian Wilson dari The Beach Boys sampai musisi-musisi veteran Pop Sunda pasti bahagia mendengar musik bergelombang ala The Panturas ini.

Di balik segala pencapaian maksimal album Ombak Banyu Asmara, nama sang produser Lafa Pratomo mustahil diabaikan. Lewat tangan dinginnya itu ia berhasil membungkus musik yang ditampilkan oleh The Panturas. Membantu mereka menemukan keseimbangan perihal ego aransemen, eksperimen maupun kesempurnaan tata suara.

Selain dirilis dalam format audio, album Ombak Banyu Asmara pun dikemas ke dalam video lirik dengan visual yang ciamik. Nyaris semua lagu dikemas ke dalam video. Hal ini membuktikan sekali lagi bahwa The Panturas memang benar-benar serius dan nyaris ambisus untuk benar-benar melepas album ini sepenuhnya. Kabarnya The Panturas pun bakal mengemas nomor “All I Want ke dalam sebuah film pendek yang akan dibintangi oleh Prisia Nasution, Dimas Danang, dan Tio Pakusadewo.

Tidak hanya itu, demi kampanye menyeluruh untuk mendukung perilisan album ini, seniman Arnis Muhammad pun dilibatkan. The Panturas menggelar grafiti mural di 5 kota oleh Arnis sebagai usaha untuk mengembalikan geliat artistik langsung penetrasi ke ruang publik. Selain dikenal lewat materi musik, agaknya The Panturas pun memiliki minat yang cukup serius di ranah visual.

Secara keseluruhan Ombak Banyu Asmara berhasil memberikan pengalaman sempurna mendengarkan album secara penuh di tengah gempuran kultur daftar putar yang hanya memunculkan hits single saja. Kita tahu, kemudian The Panturas tidak tenggelam dalam pamornya yang makin melejit. Mereka berhasil mendobrak siklus dengan melepas album yang ‘tak tertebak’.

Lewat Mabuk Laut, The Panturas berhasil menuai pujian yang bertubi, lewat album itu pula The Panturas berhasil mendapat predikat sebagai band terpanas dibeberapa tahun terakhir. Apakah Ombak Banyu Asmara bakal berhasil menggeser kepopuleran Mabuk Laut? Firasat saya cukup baik. Kita lihat saja.. Selamat berlayar, The Panturas!

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari The Panturas

Video Musik Bintang Massa Aksi .Feast

Abdi Lara Insani yang merupakan single utama dari album teranyar .Feast berjudul Bintang Massa Aksi ini ternyata masih memiliki keberlanjutan dengan dirilisnya sebuah video klip resmi di kanal YouTube .Feast (22/11/22). Video klip ini melibatkan...

Keep Reading

Kolaborasi Semiotika Dan Iga Masardi

Menggunakan moniker Sagas Midair, Iga Massardi yang merupakan gitaris sekaligus vokalis grup Barasuara merilis single kolaborasi bersama Semiotika, unit Instrumental Rock dari Jambi. Diberi tajuk Iskaashi, rencananya single ini akan...

Keep Reading

Nyala Api Dari Angkatan Baru Hip-Hop Jakarta

Berawal dari hal yang tidak direncanakan, La Munai Records, label rekaman Jakarta, Pesona Experience dan Bureau Mantis kolektif dan manajemen musik dari kota yang sama akhirnya menemui kesepakatan untuk merilis...

Keep Reading

Plvmb Memulai Debut Dengan Blue

Bandung kembali memiliki kuintet indiepop yang terdiri dari Vina Anesti (Vokalis), Azka Aulia Rachman (Bass), Diaz Febryan (Drum), Salman Wahid Putra Kamaludin (Gitar), Irfan Zahid Abdussallam  (Gitar). Mereka tergabung ke...

Keep Reading