Ucok AKA Harahap dan Gairah Musik Rock Tanah Air

Andalus Datoe Oloan Harahap alias Ucok AKA adalah satu dari sekian banyak musisi yang bernafas bersama musik hingga akhir hayatnya. Bersama AKA akronim dari ‘Apotik Kali Asem’ inilah Ucok memulai debutnya sebagai musisi. Era di mana referensi dan terbatasnya teknologi, namun Ucok besama kawan-kawannya tak jera membuat telinga di rajam  dan tenggelam dalam suasana psikedelia. Bisa dikatakan musik rock yang dibawakan AKA terasa begitu modern pada masanya.

Penampilannya yang nyentrik dan sikapnya yang sering menuai kontroversi membuatnya semakin dikenal dikalangan masyarakat luas, terlebih AKA tak pernah alfa dalam perbincangan musik di majalah-majalah populer pada saat itu, katakanlah Aktuil yang pertama kali menyematkan istilah musik Underground untuk AKA –bahkan majalah tempo pernah memuat secara khusus wajah garang Ucok untuk covernya pada salah satu edisi di tahun 1979.

Kisah kehidupannya selalu menarik untuk di telisik, salah satunya adalah ketika ia memutuskan untuk mendalami ilmu mistik di antara teman-temannya yang lain sibuk hijrah mendalami ilmu agama.

Namun hari ini di tengah kebangkitan gairah musik rock tanah air sangat sedikit sekali orang-orang yang secara serius membicarakan Ucok AKA, seakan ia teggelam dalam gemerlap masa lampau. Padahal ia adalah salah satu musisi yang berkontribusi besar menyuntikan spirit pemberontakan dan ide segar dalam perkembangan musik Indonesia khususnya musik rock.

Seperti pada umumnya kita ketahui bagaimana kondisi sosial, budaya dan politik pada era orde baru, segala bentuk yang di anggap menyimpang dan membahayakan selalu habis di berangus, namun berbeda dengan Ucok. Sekalipun ia ada pada situasi yang membatasi ekspresinya, Ucok selalu bisa menyajikan penampilan yang maksimal, memukau dan  nyaris  sinting. Penonton dibuat geleng kepala dengan  aksi panggungnya yang tak biasa, meskipun banyak musisi rock yang seangkatan dengan Ucok namun secara penampilan dan musikalitas Ucok selalu menawarkan hal yang berbeda. Misalnya seperti dalam lirik lagu, ia nampak biasa saja dengan lirik yang mungkin kebanyakan orang di anggap tabu.  Seperti lagu ‘Shake Me’ yang syarat dengan makna seksualitas dan kehidupan hedonis lainnya. Ataupun aksi panggung yang kental dengan atraksi teaterikal.

“Ucok bersama AKA termasuk perlopor musik rock di tanah air. Dia tampil di panggung dengan memadukan unsur teater yang aneh-aneh dan mengguncangkan. Dan itu memberi nilai tambah tersendiri bagi peta seni pertunjukan rock di Indonesia. Apa yang di lakukan ucok belum bisa di gantikan jagoan rock lain sepanjang empat dasawarsa ini” ungkap Remy Sylado dalam buku Ucok AKA Harahap, Antara Rock, Wanita, dan Keruntuhan.

Namun bukan Ucok jika jalan kehidupannya lurus-lurus saja. Ia sempat menggelandang di gambir bersama Farida karena cintanya di tentang oleh keluarga Farida yang ayahnya adalah seorang jendral, sedang Ucok adalah seniman. Lalu ada saat ketika ia bimbang dengan jalan hidupnya, sementara personil AKA yang lain menemukan jalannya masing-masing. Seperti misal Arthur Kaunang yang memilih rehat dari bermusik dan kemudian hijrah menjadi seorang kristiani yang taat dan menjadi pendeta, atau Sjech Abidin yang menjadi seorang muslim sejati. Kisah hidup Ucok yang memang rumit dan kebiasaannya bersemadi dari satu gunung ke gunung lainnya –bahkan konon terbentuk AKA pun hasil semadi Ucok di gunung Indrokilo- profesi sebagai dukun pun tidak bisa ditampik pernah tersemat padanya. Bahkan sampai menjadi dukun yang kondang di kota Malang.

Ucok menjadi musisi yang sangat produktif dalam melahirkan karya-karya fenomenal. Tercatat AKA sempat melahirkan 12 album. Salah satu kecerdasan Ucok adalah ia bisa menciptakan musik yang sangat ideal bagi kehidupannya tapi di sisi lain ia pun bisa menciptakan karya yang bisa menyentuh pasar dengan selera musik masyarakat kebanyakan pada saat itu. Mungkin hal tersebut bisa di lihat dari album Reflections (1971) atau Shake Me (1972) yang cenderung terlihat bagaimana AKA begitu bergairah dengan hingar bingar musik rock dengan segala bentuk kehiduppannya dan bandingkan dengan album AKA Kasidah atau AKA Pop Melayu yang kompromi dengan pasar tanpa menurunkan kualitas musiknya itu sendiri. Perdebatan antara musik rock dan musik melayu sudah tidak relevan lagi ketika Ucok hadir menawarkan karya-karyanya.

‘Badai Bulan Desember’ pun akhirnya hinggap di sang pencipta lagu nya sendiri, Ucok meninggal pada tanggal 3 Desember 2009, 6 hari setelah pertemuannya dengan Lia (Sutra Kharmelia Harahap) anak dari Farida istrinya yang ke 2 yang ia cari selama 29 tahun!

Teks: Dicki Lukmana

Visual: Arsip dari berbagai sumber

Fragmen Keinginan sheisjo di Nomor "OOE"

Solis asal Jakarta Chika Putri Bagaskara dengan moniker sheisjo telah melepas materi lagu berikutnya yang bertajuk “OOE” (15/08). Sedikit berbeda dari tiga single sebelumnya yang memiliki sound acoustic, “OOE” diracik...

Keep Reading

Inspirasi Film di Materi Teranyar Eastcape

Tahun 2021 lalu menjadi tahun yang bisa dibilang ‘manis’ bagi Eastcape karena di tahun tersebut mereka resmi memperkenalkan dirinya di kancah industri musik dengan menelurkan sebuah single dan Split EP...

Keep Reading

Bersama Ello dan Virzha, Dewa19 Rilis Ulang Materi Lama "Still I’m Sure We’ll Love Again"

Dewa19 melanjutkan perilisan karya-karya lama mereka dalam format baru. Kali ini, mereka merilis “Still I’m Sure We’ll Love Again”, sebuah lagu dari album Format Masa Depan yang aslinya menampilkan vokal...

Keep Reading

Langkah Berikutnya dari Bilal Indrajaya

Usai melepas beberapa materi singel dan album mini Purnama (2019) solis dari Jakarta, Bilal Indrajaya, akhirnya melanjutkan perjalanannya dengan meluncurkan karya terbarunya bertajuk “Saujana” lewat label rekaman legendaris yang kini...

Keep Reading