Rabu, 22 Mei 2019. Jakarta punya banyak titik lokasi yang ‘lumpuh’. Terutama di pusat ibukota yang kondisinya tidak baik-baik saja. Masyarakat banyak memilih untuk tidak keluar rumah atas nama keamanan. Namun hal itu tidak mengendorkan semangat Six Thirty Recordings. Selain tanggal sudah kepalang ditetapkan mereka bersih kukuh tetap menggelar konser Turnover di Jakarta.

Konser rabu kemarin, merupakan kali kedua band asal Virginia Beach, Amerika Serikat, ini bertandang ke Jakarta. Sebelumnya mereka main tahun 2017. Waktu itu saya absen dan meniatkan tekad untuk menyaksikan mereka di tahun ini. Berangkat dari Cibitung sampai Rossi Musik, Fatmawati, playlist saya hanya memutar tiga album dari mereka untuk teman menghabiskan waktu di jalan.

Gho$$ didaulat membuka gelaran. Jujur, ini pertama kalinya saya menyaksikan band yang digawangi Diegoshefa Dilanegara (Vocals), Diego Aditya (Guitar & Vocals), Fadhi Perdana (Guitar, Keys & Synth) dan Dhemo Anugerah Poetra (Bass).

“Cowok-cowok tatoan mainnya musik pelan,” dengan bercanda Diegoshefa mendeskripsikan musiknya. Mereka juga mengcover berapa lagu dari Portishead, The Stone Roses hingga *NSYNC dengan nuansa trip hop.

Persamaan tahun 2017 dengan 2019 adalah konser Turnover selalu sold out. Ini terbukti dari H-1 tiket yang dijual secara online tersapu bersih. Tak ayal membuat lantai 4 penuh namun tetap nyaman dan terpantau tertib. New Scream menjadi lagu pembuka mereka. Terlihat juga Austin Getz lebih brewok dari dua tahun sebelumnya. Buat kalian yang mengharapkan materi Magnolia malam itu, sayang sekali mereka tidak bawakan. Hanya materi di album terkini mereka, Good Nature dan salah satu album favorit saya Peripheral Vision. Memang terlihat kontras di antara dua album ini. Good Nature yang lebih dream pop, syarat akan nuansa hippie sedangkan Peripheral Vision lebih emosional dan pesimis.

Antara penonton dan penampil besinerji melakukan koor massal penuh semangat menyanyikan lirik-lirik depresif penuh kegelisahan. “The Embassy told us to not coming here, we said fuck it,” ujar sang vokalis dengan kondisi Jakarta kemarin.

Tapi memang tak dipungkiri, biarpun kondisi kota sedang menyebalkan, yang datang ke konser Turnover Jakarta tetap mempunyai cara senang-senang sendiri. Setidaknya, lupa sejenak masalah di ruas jalan Jakarta yang lumpuh akibat huru hara dan agenda hitam para kaum elit politik. (*)

 

Teks dan foto: Robby Wahyudi Onggo