Trigga Coca, Oz the Oodz, Bloodstvin Perkenalkan Indophonk Melalui "GUXXI"

Rapper asal Klaten, Trigga Coca mengajak Oz the Oodz dan Bloodstvin untuk mengisi nomor terbarunya “GUXXI“. Single tersebut dirilis melalui sebuah klip video yang dirilis pada 5 Agustus lalu.

“GUXXI” sendiri mengambil sampel dari “Gucci, Gucci” milik rapper Amerika Serikat, Kreayshawn yang dirilis 2011 silam sebagai nomor utama dari album debutnya Somethin’ ‘Bout Kreay.

“Gucci Gucci, Louis Louis, Fendi Fendi, Prada. Basic bitches wear that shit so I don’t even bother

Bagian utama milik Kreayshawn di atas dibalut dengan alunan trompet dan bas yang sedikit terdistorsi berlebih hingga terkesan kurang disetem, diracik sedemikian rupa oleh Bloodstvin. Diputar berulang-ulang sepanjang lagu, disambut ketengilan Oz the Oddz di bagian pertama disusul Trigga Coca di bagian selanjutnya. Tidak lupa bebunyian chimes dan tiga nada yang nampaknya acakan dari arpeggio kunci 7 menambah nuansa funk yang nostalgik. Dan memang begitulah formula phonk, musik yang mereka usung.

Phonk mungkin bukan istilah yang akrab di telinga kita. Subgenre dari hip hop dan trap music ini terinspirasi dari Memphis Rap 90-an dengan ciri sample funk nostalgic dan biasanya dikombinasi dengan sampel vokal dari Memphis rap klasik. Meskipun mungkin sounds tersebut tidak asing di telingga kita (terutama dengan maraknya penggunaan music pada aplikasi Tik Tok) namun tidak banyak yang secara aware mengangkat genre tersebut,” jelas mereka dalam siar pers.

Istilah phonk sendiri dibuat populer oleh salah satu anggota pentolan Memphis Rap yang disebutkan Trigga Coca tadi. SpaceGhostPurrp (salah satu anggota Raider Klan) memampangkan istilah itu secara harfiah di trek-treknya, seperti “Pheel Tha Phonk”, “Bringin’ Tha Phonk”, dan “Keep Bringin’ Tha Phonk”.

Trigga Coca, Oz the Oodz, dan Bloodstvin meracik phonk menjadi khas mereka sendiri. Indophonk pun muncul sebagai penekanan bagaimana mereka ingin musiknya dikenal. Ketiga talenta dari kolektif hip hop berskala nasional, Gnarly Club, ini ingin memperlihatkan bahwa kancah hip hop Indonesia lebih luas dari kelihatannya.

“Meskipun sebenarnya telah terus mempromosikan musik ini dalam tiga tahun terakhir bersama kolektifnya Gnarly Club, tampaknya kali ini mereka dengan serius dan mantab ‘menyatakan’ musik yang mereka usung. Menarik untuk melihat bahwa hip hop di Tanah Air jauh lebih luas dari sekedar urusan Oldschool dan Newschool,” tutup siar pers yang mereka kirimkan.

Teks: Abyan Nabilio
Visual: Arsip dari Trigga Coca

 

My Bloody Valentine Kritik Spotify Soal Lirik yang Salah

Di antara kalian pasti ada dong yang pernah memutar lagu di Spotify sambil menikmati fitur lirik yang disediakan. Lewat fitur ini, para pengguna Spotify bisa sambil bernyanyi sesuka hati. Tapi,...

Keep Reading

Patahan Imajinasi Masa Kecil di Nomor Terbaru Latter Smil

Latter Smil, duo asal kota Palu yang dihuni oleh Dian dan Eko, dipermulaan tahun 2022 ini kembali melepas karya teranyarnya bertajuk “Kalila”. Lewat single ini Latter Smil mencoba untuk memberikan...

Keep Reading

Perjalanan Skena Musik Ambarawa dalam Album Kompilasi They Hate Us

Terlihat dalam beberapa tahun terakhir, produksi album kompilasi skena musik lokal mulai kembali marak. Tercatat ada beberapa deretan kompilasi yang terbit pada setahun-dua tahun ke belakang, seperti Bikin Kompilasi: Bless...

Keep Reading

Dua Album Milik Semiotika Akhirnya Dilepas Secara Digital

Usai merilis album penuh bertajuk Eulogi, unit post-rock asal Jambi, Semiotika akhirnya merilis dua album terdahulunya Ruang (2015) dan album mini Gelombang Darat (2018) ke dalam format digital. Sementara album...

Keep Reading