TikTok Melanjutkan Langkah Bersama Perusahaan Distributor Musik

17 Agustus kemarin, platform jejaring sosial video pendek, TikTok, resmi menjalin kerja sama dengan perusahaan distributor musik asal Amerika Serikat, UnitedMasters. Penggalangan mitra bisnis ini bertujuan untuk memungkinkan para pengguna aplikasi asal Cina itu agar dapat mendistribusikan video mereka langsung ke layanan streaming musik yang lebih luas seperti Apple Music, Spotify, Pandora, dan YouTube. Di saat yang sama, UnitedMasters juga tengah mengatur kesepakatan kolaborasi bisnisnya dengan ESPN dan N.B.A. Perjanjian komersial ini diharapkan bisa diumumkan secepat mungkin.

Sebelumnya, demi membantu mencarikan supergrup musik baru, pekan lalu TikTok telah menyepakati pula kerja sama bisnis mereka dengan perusahaan konten hiburan dan hak intelektual XIX Entertainment yang juga merupakan pencipta program franchise pencarian bakat bernyanyi, ‘Idol’. Sementara UnitedMasters pun terlebih dahulu sudah berkolaborasi dengan pihak-pihak yang bersangkutan dengan musik bergenre rap seperti rapper dan penulis lagu NLE Choppa, Lil Tecca, Lil XXEL, dan banyak lagi. Adapun perjanjian bisnis antara TikTok dan UnitedMasters yang baru saja disepakati itu membawa nama terakhir menjadi perusahaan distribustor musik pertama yang dapat diintegrasikan ke dalam TikTok tanpa ada pihak ketiga alias bantuan aplikasi lain. Sedangkan di pihak TikTok, kerja sama ini membuat aplikasi yang dikembangkan ByteDance itu semakin bisa menunjang para musisi lama dan baru untuk menjaga serta mempercepat karier mereka.

“Jika Anda seorang seniman musik, TikTok adalah tempat terbaik untuk membuat lagu Anda menjadi viral, dan UnitedMasters adalah tempat yang tepat untuk mendistribusikan lagu Anda ke aplikasi lainnya sambil tetap mempertahankan hak kepemilikan intelektual secara penuh atas karya Anda,” kata Steve Stoute, pendiri dan CEO UnitedMasters, yang tidak menyebutkan jumlah investasi dan durasi kontrak bisnisnya bersama aplikasi yang diluncurkan pada 2016 silam itu saat konferensi pers, Senin kemarin, sebagaimana dikutip majalah Forbes. 

Sejak rilis ulang pada 2018 karena diblokir di sejumlah negara, TikTok yang saat ini telah digunakan lebih dari 1 miliar akun di 154 negara di seluruh dunia itu memang dengan cepat membuktikan kemampuannya dalam memunculkan artis baru dari yang tadinya tidak diketahui publik hingga kemudian menjadi bintang terkenal. Di dunia musik, misalnya, nama-nama musikus seperti Lil Nas X dan Tones and I barangkali tak akan populer dan dicari orang jika para pengguna TikTok tidak membawakan lagu mereka yang berjudul ‘Dance Monkey’ dan ‘Old town road’. 

Bahkan, karena kerap dibuat konten di TikTok, dengan lagunya itu kini Lil Nas X sukses memuncaki tangga lagu Billboard. Hal yang sama juga dialami Charli D’Amelio. Usai menjadi superstar dengan 72,5 juta pengikut di aplikasi gratis terpopuler kedua di dunia selama 2019 dan telah menyediakan 40 bahasa itu, penari perempuan berkebangsaan Amerika Serikat ini berhasil menarik perhatian perusahaan media global Business Insider untuk mendaulatnya sebagai brand ambassador di bulan Maret kemarin.

Kevin Mayer, CEO TikTok, mengatakan ketenaran yang didapat para artis baru seperti mereka itu sama sekali tak mengherankan. “Sebab, pengguna aplikasi kami lewat konten yang dibuatnya itu tak jarang terinspirasi oleh seniman baru di luar sana untuk dibagikan di TikTok sampai kemudian menjadi viral. Dengan ini mereka dapat menjamah penggemar baru,” kata dia. Kepala Umum Bidang Musik TikTok, Ole Obermann, menambahkan bahwa misi perangkat lunaknya itu memanglah membantu para pemakai untuk menyadari potensi kreatifnya dan mempromosikan mereka dengan jangkauan lebih luas.

Terlepas dari tudingan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut TikTok telah mengganggu keamanan nasionalnya, perusahaan yang Agustus ini berperingkat 180 dunia dalam web traffic versi Alexa itu dianggap sudah berhasil mengubah tren industri musik global: para pencari bakat tak perlu lagi berburu ke kafe-kafe atau ke bar, ataupun menunggu program ajang pencarian bakat di televisi, hanya untuk mendapat tanda tangan penyanyi baru potensial – mereka tinggal menggerakkan jari dari atas ke bawah atau sebaliknya melalui aplikasi di layar telepon pintar. 

Tak jauh berbeda dengan TikTok, keberadaan UnitedMasters dipandang pula telah mengganti model bisnis label musik tradisional: Alih-alih menjual karya para musisi ke perusahaan pengelola rekaman, mereka yang menandatangani kontrak dengan UnitedMasters diberi hak 90 persen royalti serta menerima kewenangan salinan rekamannya. “Dengan UnitedMasters, musisi independen dapat terbantu,” kata Stoute yang juga pernah terjun dalam industri rekaman musik khusus genre hip-hop. 

Dengan tipe baru dalam industri konten dan musik yang dipakai TikTok maupun UnitedMasters, barangkali dua perusahaan ini sekarang telah menuai kesuksesannya. Berdasar data dari Influencer Marketing Hub, sekitar 14,3 juta orang dewasa Amerika Serikat menggunakan aplikasi yang disebut pertama pada Maret 2019 saja. TikTok juga memiliki rata-rata tingkat keterlibatan pengikut yang lebih tinggi per postingnya daripada Instagram dan Twitter. Sementara United Masters lebih dari 400.000 artis telah berkolaborasi, 5 miliar video sudah tayang, dan lebih dari 500.000 lagu terdistribusi.

Teks: Emha Asror
Visual: Arsip TikTok

Sisi Organik Scaller Dalam "Noises & Clarity"

Kabar baik datang dari Scaller yang baru saja merilis live session (8/7/23) yang kemudian diberi tajuk “Noises & Clarity”. Dalam video ini, grup musik asal Jakarta tersebut tampil membawakan 5...

Keep Reading

Single Ketiga Eleanor Whisper Menggunakan Bahasa Prancis

Grup Eleanor Whisper asal kota Medan yang telah hijrah ke Jakarta sejak 2019 ini resmi merilis single ke-3 yang diberi tajuk “Pour Moi”. Trio Ferri (Vocal/ Guitar), Dennisa (Vocals) &...

Keep Reading

Sajian Spektakuler KIG Live!

Umumkan kehadirannya sebagai pemain baru pada industri konser musik Indonesia, KIG LIVE yang merupakan bagian dari One Hundred Percent (OHP) Group menggelar acara peluncuran resmi yang juga menampilkan diskusi menarik...

Keep Reading

Crushing Grief Gandeng Dochi Sadega Dalam Single Terbaru

Unit pop-punk dari Manado, Crushing Grief, menggandeng Dochi Sadega dari Pee Wee Gaskins, dalam single terbaru mereka yang diberi tajuk “Hard Rain“. Single ini merupakan salah satu lagu yang diambil dari EP...

Keep Reading