Theo Nugraha dan Gubuak Kopi Berkolaborasi dalam Karya

Situasi saat ini memang menuntut banyak orang untuk beradaptasi dengan kondisi agar bisa membuka beragam kemungkinan baru untuk mengakali situasi. Tantangan ini juga memberi kesempatan bagi perupa generasi baru untuk bereksperimen dan bisa memberikan kontribusi serta solusi dalam kehidupan bermasyarat dan menghadirkan sebuah karya yang berfungsi untuk kemaslahatan orang banyak. Kali ini, dari kota Solok, hadir satu buah presentasi karya yang tidak biasa.

Nama dari presentasi karya tersebut adalah Mandanga Ota Urang, yang dalam bahasa Minangkabau berarti mendengar “obrolan orang-orang”. Karya ini merupakan proyek bunyi dari program residensi daring dari seorang Theo Nugraha dan 10 kolaborator anak muda Solok yang mana dalam program ini, mereka bekerja sama serta difasilitasi oleh komunitas Gubuak Kopi dalam rangkaian proyek sani yang bernama Lapuak-Lapuak Dikajangi #3. Ini adalah sebuah pembelajaran dan pencarian tentang nilai-nilai tradisi melalui proyek seni media yang digagas oleh Komunitas Gubuak Kopi sejak tahun 2017. Proyek ini sendiri dikuratori oleh Albert Rahman Putra, dan sudah dimulai sejak 5 September 2020 lalu, dengan tema kuratorial “Merayakan Silaturahmi di Normal Baru”.

Theo Nugraha adalah seorang pemuda berusia 27 tahun asal Samarinda yang memiliki ketertarikan lebih terhadap bebunyian. Dari sederet julukan, ia lebih senang bila menyebutkan sound activist sebagai nama untuk aktivitasnya dalam mengksplorasi suara. “Dari pada sound artist, saya lebih senang dijuluki sound activist, untuk merambah wilayah eksplorasi dan mengaktivasi bebunyian yang lain, tidak sebatas jadi performer saja,” ungkapnya. Kegiatannya saat ini lebih terfokus di Jakarta. Selain menjadi editor sebuah media, Theo sejak awal 2018 menyibukkan diri di Forum Lenteng pada proyek Milisifilem dan 69 Performance Club, lalu ia masih belum berhenti dalam membuat mixtape serta beragam rilisan karya bebunyiannya.

Dalam catatan pengkaryaannya, dia banyak terlibat dalam skena eksperimental bunyi sejak tahun 2013. Diskografinya hampir 200 rilis. Ia salah satu pendiri EXTENDED ASIA sebuah terminal kolaborasi online seniman visual dan audio, serta terlibat sebagai Co-Artistic Director untuk MUARASUARA, festival seni bunyi dan performans. Saat ini ia sedang mempelajari eksperimentasi visual di Milisifilem Collective, seni performans di 69 Performance Club, dan juga editor untuk VJ>Play di Visual Jalanan.

Sedangkan Gubuak Kopi adalah sekelompok yang memfokuskan diri di studi budaya nirlaba dan berbasis di Solok. Telah ada sejak tahun 2011, mereka selalu bekerja dalam penelitian dan pengembangan pengetahuan seni dan media di lingkup lokal kota Solok, Sumatera Barat. Gubuak Kopi memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan literasi media melalui kegiatan-kegiatan kreatif, mengorganisir kolaborasi antara profesional (seniman, penulis, dan peneliti) dan warga, mengembangkan media lokal dan sistem pengarsipan, serta membangun ruang alternatif bagi pengembangan kesadaran kebudayaan di tingkat lokal.

Dalam prosesnya, para kolaborator yang ada beserta Theo Nugraha, melakukan banyak eksperimen dengan bermain bersama perangkat media sosialnya, membuat pemetaan bunyi di sekitarnya, dan berbagi melalui fitur voice note pada chat group media sosial Instagram. Dalam grup tersebut, data audio dimunculkan sebagai grafik-grafik. Fenomena grafik dan audio ini dikembangkan oleh Theo untuk dikomposisi ulang sebagai karya video musik baru. Para kolaborator diberi kebebasan untuk memilih bunyi dalam kerangka kerja soundmap untuk mendata, dan mengindentifikasi soundscape sekitar mereka. Kemudian para partisipan menggunakan pendekatan field recording untuk metode perekamannya. Dalam pengoalahan bunyi, mereka mencoba kemungkinan dan temuan eksperimentasi bunyi di media sosial sehari-hari dalam mengalami bunyi di kota mereka berasal.

Hasil proyek bertajuk “Mandanga Ota Urang” ini dibagi menjadi 3 bagian dalam satu halaman website: gubuakkopi.id/theonugraha. Halaman ini disajikan sebagai presentasi publik project dan aktif pada Sabtu, 12 September 2020, pukul 20.00 WIB. Tiga bagian tersebut adalah: 1) audiovisual komposisi soundscape “Mandanga Ota Urang”; 2) Peta grafik bunyi sosial media dalam bentuk tangkapan layar instagram; 3) field recording para partisipan selama proses pengumpulan data yang dirangkum sebagai album di platform bandcamp.

Koloborator yang ada di dalam “Mandanga Ota Urang” adalah Zekalver Muharam, Muhamad Riski, Biahlil Badri, Septian Fernandus Sinaga, Ade M.S, Selamat Mulyadi, Muhammad Adam Yusuf. Q, Fatir M. Akbar, Agung Yusuf, dan Volta A. Jonneva.

Selain Theo Nugraha dalam proyek seni Lapuak-lapuak Dikajangi #3 terdapat 5 seniman lainnya yang juga segera mempresentasikan karyanya, antara lain: Taufiqurrahman, yang biasa disapa Kifu (designer dan seniman visual asal Palu), Siska Aprisia (penari, koregrafer, dan pegiat budaya asal Pariaman dan kini berdomisili di Yogyakarta) Avant Garde Dewa Gugat a.k.a AGDG (komposer dan sound artist asal Padangpanjang) Robby Ocktavian (pegiat budaya dan seniman performans asal Samarinda) dan Utara Irenza (penari dan aktor asal Agam).

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Gubuak Kopi

Catatan Perjalanan Rich Brian di Album Mini Brightside

Rapper, penyanyi serta produser asal Indonesia, Rich Brian baru-baru ini resmi merilis album mini terbarunya yang bertajuk Brightside. Lewat album mini berisi 4 lagu ini Rich Brian mengatakan bahwa Brightside merupakan...

Keep Reading

Keseruan Selanjutnya di Soundhead Gig Vol. 3: Parsing Echoes

Tak bisa dipungkiri, pandemi yang terjadi beberapa tahun terakhir telah berhasil meluluhlantakan berbagai lini industri hiburan, tak terkecuali industri pertunjukan musik. Namun, ditengah tantangan yang ada, para pelaku industri terus...

Keep Reading

Kisah Cinta di Balik Pertunjukan Musik dari The Rang-Rangs

Trio punk rock asal Bekasi, The Rang-Rangs, kembali melanjutkan cerita asmaranya yang tak konvensional. Dalam materi terbarunya kali ini The Rang-Rangs mencoba mengangkat cerita persoalan jatuh hati di arena pertunjukan...

Keep Reading

Album Tersembunyi Mendiang January Christy Akhirnya Dirilis

Di era ‘80-an, tak sedikit orang yang mengidolakan January Christy. January Christy merupakan penyanyi pop jazz Indonesia yang unik. Range vokalnya tidak lebar, namun suaranya yang berat memberikan kenyamanan dan...

Keep Reading