The Panturas yang Tidak Terhentikan

The Panturas akrab dengan hal-hal yang jenaka dan seringkali berasal dari luar akal sehat. Melalui media sosial, mereka konsisten menampilkan persona yang kocak dan merakyat.

Ada hal lucu di linimasa Instagram Stories di sebuah hari. Mereka mengunggah kelakuan salah satu stage crew-nya (yang dipanggil dengan sebutan ‘Lifeguard The Panturas’) saat memberikan saran produksi panggung di kolom komentar YouTube sebuah acara pengajian.

Di hari lain, mereka sempat-sempatnya menceritakan liburan dua personilnya kala berkunjung ke Keramat Kasepuhan Ibu Nyai Dewi Roro Kidul. Katanya untuk meminta ‘izin’.

Kelakukan nyeleneh itu, diiringi grafik perjalanan musiknya yang terus menanjak. Ditandai oleh padatnya jadwal manggung dan aktivitas promosi, beserta sekumpulan audiens yang mengikutinya dengan semangat. Beberapa pihak menganggap The Panturas adalah salah satu band lokal muda terpanas tahun 2018.

Mungkin pernyataan itu benar adanya. Setelah pesta rilis Mabuk Laut di Jakarta dan Bandung sukses diadakan di bagian awal tahun ini, keganasan The Panturas belum menunjukkan tanda-tanda akan rehat. Baru-baru ini, mereka menelurkan single anyar berjudul Queen of the South yang dirilis via aplikasi kencan, Tinder. Manuver tidak wajar itu ditindak lanjuti dengan pengumuman tur enam kota bersama Polka Wars dalam rangkaian Connectified Tour 2018.

Rasanya seperti baru kemarin, keempat pemuda yang dipertemukan di Jatinangor itu–Abyan Zaki (vokal, gitar), Bagus Patria (bass), Rizal Taufik (gitar), dan Surya Fikri (drum)—, memperkenalkan diri sebagai The Panturas. Mereka tidak butuh waktu terlalu lama untuk menarik perhatian publik, terlebih ketika beberapa media memberi julukan ‘Agen surf rock dari pegunungan.’ Keganjilan dimulai manakala genre musik yang dipopulerkan oleh nama-nama seperti Dick Dale dan The Beach Boys ini jarang lepas dari kesan musik pantai.

Walau begitu, The Panturas seolah tahu betul karakter musik apa yang ingin dicapai. Alih-alih menciptakan karya instrumental layaknya unit surf rock pada umumnya, mereka menambahkan sentuhan vokal yang unik; ‘menyeret’ sekaligus lugas. Tentunya tanpa meninggalkan pakem-pakem surf rock, seperti suara gitar yang ‘panas-lembab’, riff memikat, dan ketukan yang atraktif.

Entah bagaimana caranya, meski mayoritas personil berdomisili di dataran tinggi, The Panturas mampu dengan lincah menggambarkan perdagangan perempuan di pesisir pantai (Fisherman’s Slut), dinamika ayah dan anaknya yang hilang (Sunshine), hingga pekatnya asap kendaraan bermotor (Gurita Kota). Menariknya lagi, tema-tema tersebut ternyata amat relevan baik kepada identitas diri sendiri, maupun penontonnya.

“Kami sebenarnya tidak punya pakem khusus (dalam membuat karya). Biasanya, kami tentuin tema bareng-bareng, terus disusun deh bakal ngomongin apa. Tapi akhir-akhir ini, kami memang lagi senang mengangkat tema-tema lokal yang ada di sekitar kami. Karena selalu ada berita aneh yang biasa dishare sama anak-anak tongkrongan dan kami senang bisa menangkap itu untuk dijadikan sebuah lagu. Bagaimana orang meresponnya, itu urusan nanti. Intinya, mau menunjukkan kalau cerita-cerita yang kami angkat itu beneran ada,” tutur Surya Fikri yang akrab disapa Kuya.

Selain daripada lagu-lagunya, harus diakui, kekuatan utama The Panturas terletak pada penampilan live di atas panggung. Mereka hampir selalu terlihat penuh energi. Tidak peduli di acara komunitas dengan kualitas produksi ala kadarnya, atau panggung skala besar, semua ditebas habis.

Bagi Bagus “Gogon” Patria, aktor yang bertanggung jawab atas hal itu adalah Abyan Zaki alias Acin, sang frontman ajaib. Di balik perangai sehari-harinya yang terkesan awkward, tingkah spontannya seringkali di luar dugaan. Acin pula yang kerap mencetuskan ide-ide menyegarkan ketika proses menulis lagu.

“Isi kepalanya nggak ada yang tahu, cuy! Misalnya kemarin di Malang, dia ikutan joged waktu nonton band yang perform sebelum kami. Terus pas The Panturas dipanggil sama MC, dia loncat aja gitu dari crowd tanpa persiapan apa-apa,” kenang Gogon.

Berbekal musik dan aksi panggung yang sama-sama nyeleneh, The Panturas kini berada di posisi yang membanggakan. Pencapaian demi pencapaian terus mereka raih, dan masih akan terus bertambah mengingat usianya yang masih muda.

“Asli nggak pernah nyangka bisa di posisi sekarang. Subhanallah banget lah! Rasanya seperti main iseng tapi dinikmati orang banyak. Dari sisi materi pun, neraca keuangan gue cukup terselamatkan oleh The Panturas. Sekarang, kalau gue bisa ngaca dan bicara sama diri sendiri, gue bakal bilang, ‘Woy, lu ngeband yang bener, tepat waktu, harus lebih tanggung jawab!’ Ekspektasi kami memang makin tinggi, tapi nggak mau jadi terlalu pretensius juga. Kami tetap berpegang teguh untuk menjadi band iseng tapi niat, yang penting senang,” ucap Kuya.

Kuya tidak memungkiri bahwa masih banyak hal yang ingin dicoba oleh The Panturas. “Gue sebenarnya pengen main di suatu teater. Entah itu TIM atau Gedung Kesenian Jakarta, misalnya. Jadi penontonnya duduk, dan kami bakal mengajak puluhan pemain brass section, jadi semacam Brian Setzer Orchestra, gitu. Tujuannya supaya orang bisa melihat The Panturas dalam wujud yang lain, tapi tetap tidak menghilangkan ciri khas kami,” ungkap drummer berusia 24 tahun tersebut.

Begitu pula dengan Gogon. “Mungkin kalau panggung yang nggak Panturas banget tapi gue pengen main di sana adalah Odeon of Herodes Atticus di Yunani. Venuenya ‘kan di amphitheater tua gitu, jadi bakal keren kalau bisa tampil di sana. Tapi tetap, kalau BM sih gue ngidam main di Beach Goth atau Burgerama Fest. Terus dari dulu gue pengen banget masuk YouTube Jam in The Van atau studio session-nya KEXP. Kayaknya asik.”

Melihat ambisi The Panturas, dapat disimpulkan kita masih akan bertemu dengan sisi eksploratif mereka yang lain. Ini tentu bagus, karena ketika berada di koridor musik rock yang selalu ramai, menjadi tidak terhentikan adalah sebuah kewajiban untuk jalan terus menuju masa depan. (*)

Teks: Dwi Lukita
Foto: Dok. The Panturas

The Box Perkenalkan Formasi Baru Lewat Live Session

Pandemi yang sudah berlangsung selama dua tahun ini telah membuat kita semua kembali dari awal. Menyusun ulang rencana dan mulai menata kembali langkah-langkah yang akan diambil. Kini industri sudah mulai...

Keep Reading

Sajian Ska Berbeda dari Slowright

Slowright, unit ska dari kota Malang baru-baru ini telah melepas album mini teranyarnya bertajuk Believe. Dirilis oleh label rekaman yang bermarkas di Yogyakarta, DoggyHouse Records, lewat rilisannya kali ini Slowright...

Keep Reading

Zizi yang Menyapa Kampung Halaman Lewat Hometown Tour

Setelah menyelenggarakan showcase perdananya yang bertajuk Unelevated Intimate showcase di Bandung pada akhir Februari lalu. Kini, Zizi kembali ke rumah tempat ia tumbuh dan menemukan passion terbesar dalam dirinya. Ia...

Keep Reading

Realita Kaum Pekerja di Nomor Kolaborasi Dzulfahmi dan Tuantigabelas

Dzulfahmi, MC dari kolektif Def Bloc dan Dreamfilled yang bermukim di Jakarta baru-baru ini (6/5) telah memperkenalkan karya terbarunya bertajuk “Rotasi”. Lewat rilisannya kali ini Dzulfahmi menggaet salah satu nama...

Keep Reading