The Hauler Rawk yang Bangkit dari Reruntuhan Palu

Bicara soal musik di Kota Palu ternyata bukan lah mantan wakil wali kotanya saja. Kota tersebut juga menjadi tempat bersemayam banyak pembawa musik keras yang aktif mengeluarkan karya. Setelah sebelumnya Aligator menelurkan sebuah tembang yang mengangkat semangat untuk bangkit dari reruntuhan sisa bencana tiga tahun lalu, kini ginilar The Hauler Rawk.

Jika Aligator mengangkat sisi yang lebih bersifat sosial dari bencana gempa dan tsunami 2018 tersebut, unit rok berisi Iun Suneon (vokal, gitar), Sanx Sandy (bas), dan Dana Hermansyah (drum) ini lebih memilih untuk menuangkan kejadian tersebut ke dalam sebuah memorabilia untuk generasi mendatang dalam sebuah nomor lepas berjudul “Magnitude”.

“Mengangkat isu bencana alam bukanlah untuk mengingat kejadian tersebut atau menginginkannya terjadi lagi. Tapi lebih bagaimana menceritakan juga mengarsipkan sedikit kejadian tersebut kepada generasi mendatang, dan bisa melakukan mitigasi bencana. Sehingga resiko yang lebih besar dikarenakan ketidaktahuan kita terhadap lingkungan sekitar bisa lebih kecil. Walaupun memang semua sudah diatur oleh Sang Pencipta, tapi tak ada salahnya kita juga mencoba. Tugas kita hanya sekedar menyampaikan, urusan diterima dengan baik atau tidak semua kembali ke penerimanya,” terang sang pentolan Iun dalam sebuah keterangan pers.

Is that a sign? Crawling on the ground, and the sun goes by,” nyanyi Iun di awal lagu menggambarkan apa yang terjadi saat itu secara semiharfiah.

Ini adalah kali kedua The Hauler Rawk merilis singgel yang memiliki muatan isu perihal bencana. Sebelumnya, mereka merilis satu lagu yang berjudul “Appetition”, yang terselip dalam kompilasi MEMORAMA (Merekam Memori dalam Irama) di tahun 2019 silam bersama lima band asal Palu lainnya.

“Magnitude” sendiri adalah materi lama yang ditulis pada tahun 2019 bersamaan dengan penggarapan “Appetition”. Namun The Hauler Rawk berpikir untuk merilisnya pada 2021, dikarenakan isu tersebut masih sangat relevan untuk saat ini dan sampai ke depannya. Selain itu, untuk memenuhi keinginan mereka agar karya ini bisa terus diingat, dibuatlah sebuah interpretasi karya rupa dari ilustrator asal Palu bernama Mørk a.k.a Adjust Purwatama.

“Negara Indonesia sendiri juga dikenal dengan Wilayah Cincin Api (Ring Of Fire), yang mana wilayah tersebut rawan dengan bencana gempa bumi. Maka, bukan cuman tugas sebagian orang saja untuk menyampaikan hal tersebut. Kita sebagai makhluk sosial pun perlu melakukan mitigasi bencana,” tulis keterangan yang sama.

The Hauler Rawk merilis “Magnitude” dalam dua format, format digital dan sebuah aset NFT yang juga menampilkan visual bergerak dari Mørk. Kedua format tersebut memiliki durasi lagu yang berbeda sekitar satu menit setengah.

Teks: Abyan Nabilio
Visual: Arsip dari BAH (Bring Archive History)

SKJ'94 Kembali Menghentak Lantai Dansa

Penamaan genre musik rasanya sudah menjadi hal umum sekarang ini. Sama seperti grup musik yang pernah mewarnai hiruk pikuk industri musik Indonesia era 2000 awal yang mengkategorikan musiknya sendiri ke...

Keep Reading

Interpretasi Pendewasaan Bagi Prince Of Mercy

Terbentuk sejak 2011 silam di kota Palu, Prince Of Mercy lahir dengan membawa warna Pop Punk. Digawangi oleh Agri Sentanu (Bass), Abdul Kadir (Drum), Taufik Wahyudi (Gitar), dan Sadam Lilulembah...

Keep Reading

Kembali Dengan Single Experimental Setelah Setahun Beristirahat

Setelah dilanda pandemi covid-19, tahun 2023 sudah semestinya menjadi momentum bagi seluruh rakyat Indonesia untuk berpesta dan bersuka ria. Di sinilah momen ketika Alien Child kembali hadir dan menjadi yang...

Keep Reading

Luapan Emosi Cito Gakso Dalam "Punk Galore"

Setelah sukses dengan MS. MONDAINE dan BETTER DAYZ yang makin memantapkan karakter Cito Gakso sebagai seorang rapper, belum lama ini ia kembali merilis single terbarunya yang berjudul PUNK GALORE yang single ke-3...

Keep Reading