When I Open my window
I look into the blue sky
Bird flying free above my roof
Make me realise about my life…

Penggalan kalimat diatas adalah lirik lagu Inthrovvert dari kuartet pop asal Lombok, The Dare. The Dare adalah project bermusik dari empat perempuan yang terdiri dari Riri (Vokal, gitar), Desita ( Drum), Meigali (Bass) dan Yollanang (Gitar). The Dare baru saja menelurkan EP yang bertajuk Inthrovvert.

Band ini masih muda usia, terbentuk pada Februari 2018. Berawal dari proyek iseng-iseng masing-masing anggotanya. Tak lama berselang mereka merilis debut mini album mereka, yang juga berjudul Inthrovvert di Records Store Day Lombok (RSD Lombok) pada 28 April 2018. “Materinya sudah ada, kita menjadwalkan merilis EP bertepatan dengan RSD Lombok di Bulan April,” ungkap Riri tentang proses yang begitu cepat.

Seperti tabiat sebuah band pada umumnya, selepas mengeluarkan debut mini album, The Dare memutuskan untuk pergi tur ke Pulau Jawa. Jakarta, Bandung dan Bogor menjadi tempat persinggahan mereka untuk memperkenalkan musik mereka kepada khayalak yang lebih luas.

Tidak hanya pergi tur, Seiring dengan Gelombang Cinta – Mini Tour vol. 1 yang dijalani bersama dengan Sundancer, band Lombok yang lain, mini album ini dirilis ulang dalam bentuk kaset oleh label asal Bogor, Tromagnon Records. Dua versi rekaman fisik untuk Inthrovvert sudah habis terjual. Kasetnya bahkan sudah berharga dua kali lipat di pasaran. Entah bagaimana dengan cd versi terbatas edisi RSD Lombok itu.

“Kita nggak menyangka antusias orang seperti ini ke musik kita,” ujar Desita. “Di luar ekpektasi sih,” timpal Meigali.

Mendengarkan musik mereka, seperti bertemu kawan lama. Ia akrab dan tak asing di telinga. Pun, masing-masing instrumen tidak saling mendominasi. Musiknya mudah dicerna, tapi tidak murahan. Inthrovvert, Fameinkiss dan Gum Underkesk menjadi awal yang baik untuk memulai karir bermusik mereka. ”Kita menamai musik kita dengan pop darling, enak di telinga,” kata Yolla. “Soalnya muka-muka kita lawas 90an,” canda Meigali yang entah punya hubungan atau tidak.

Di departemen musik, mereka menggarap proses kreasi bersama-sama. Sedang di bagian lirik, Desita dipercayai untuk menulis jalan cerita. Persoalan-persolan perempuan menjadi ide yang ditumpahkan ke karya mereka. Kekuatan perempuan adalah persoalan yang ingin disampaikan lewat musik The Dare.

Saat ini The Dare sedang menyiapkan full album yang rencananya akan dirilis tahun depan, berbarengan dengan tur selanjutnya. Menjadi menarik menunggu kehadiran mereka, baik secara album ataupun aksi langsung di panggung. (*)

Teks: Rio Jo Werry
Foto: Dok. The Dare