Band asal Tangerang, The Cat Police, kembali dengan karya baru. Sebuah EP berjudul Mirror, Mirror on the Wall, menandai kelanjutan karir mereka setelah sempat mencuri perhatian dengan debut album penuh Tropical Industries. EP ini dirilis lebih dulu dalam bentuk digital pada bulan Februari 2019 dan kemudian versi kasetnya keluar pada Records Store Day 2019 di bulan April.

The Cat Police beranggotakan Zaki Lazuardian (vokal), Odong Page (bas), Jack Andie (gitar), Dio Dama Wijaya (kibor), Gamma Gilang Akbar (gitar) dan Son Haji Saputro (drum). Mirror, Mirror on the Wall diakui mereka sebagai respon akan kehidupan pinggir metropolis yang tumbuh dan berkembang di tengah keadaan yang serba bergerak cepat dan berisi berbagai macam kesibukan.

EP ini, diakui masih bertalian dengan apa yang telah mereka hasilkan di Tropical Industries.

“Kita masih mau call back ke album Tropical Industries, soalnya beberapa lagu yang ada di Mirror Mirror on the Wall tercipta di era itu. Cuma belum matang aja. Selain itu, Tropical Industries baru dirilis 2016. Makanya kita buat EP aja dulu buat pemanasan album penuh yang akan datang,” kata Dio membuka pembicaraan.

Bagi band yang sebenarnya sudah bersama sejak 2008 ini, Tropical Industries memang menjadi pembuka jalan yang bagus. Keberadaan mereka, yang baru bergabung kembali bersama pada 2015, diketahui banyak orang. Termasuk efek panjangnya memberi tahu orang bahwa ada yang berdenyut di Tangerang, kota yang belum banyak dikenal menghasilkan banyak band berkualitas bagus.

“Album itu membawa gue ketemu banyak teman-teman baru. Sampai band yang gue idolain dulu, gue bisa sepanggung dan ngobrol sama mereka,” ujar Aji, sang drummer. “Kami juga jadi tahu kalau ngeband itu, ‘Jadi, oh rasanya seperti ini.’ Awalnya kami kan band yang tidak punya ekspektasi apa-apa. Kami cuma punya pikiran kalau main musik itu harus mempunyai sebuah album untuk menjadi tanda. Sama kayak sekolah, elo harus punya ijasah. Kayak gitu aja,” tambah Odong.

Vokalis Zaki, menimpali, “Bisa jadi, itu juga yang ngebawa The Cat Police sendiri ke hari ini.”

Memang, pada kenyataannya, Tropical Industries membuat nama The Cat Police masuk percaturan yang lebih luas. Mereka melintasi sejumlah batas kota, berkeliling. Juga bertemu dengan banyak jaringan-jaringan baru yang dengan sendirinya memperlebar jangkauan pendengar musik mereka.

“Setelah album itu, kami emang jadi banyak berkaca, memperbaiki diri, memperbaiki semua hal jadi lebih baik. Terutama yang berhubungan sama musik dan cara main. Mikirin apa yang pengen disajikan buat teman-teman pendengar The Cat Police supaya senang mendengar dan melihat kami,” sambung Aji.

Salah satu hasil yang bisa langsung dinikmati adalah enam lagu di Mirror, Mirror on the Wall. Ada perbedaan yang signifikan dibanding Tropical Industries. Di EP ini mereka menulis lebih banyak lagu dalam Bahasa Indonesia. Selain itu, musiknya juga lebih minimalis.

“Kita bikin yang lebih minimalis daripada album pertama. Tapi nggak menghilangkan rasa nakalnya. Kalau disimak groove sama nada-nadanya tuh, kami lebih milih memasukkan nada-nada lucu dan menyentil. Mungkin musiknya rada dark, tapi penuh jokes gitu,” jelas Dio.

Sementara dari segi penulisan lirik, Zaki yang bertanggung jawab untuk departemen ini, punya penjelasannya sendiri, “Harusnya itu mengalir gitu aja sih. Nggak ada indikator yang benar-benar tepat. Ketika proses pembuatan lagu, musik dan liriknya jalan berbarengan. Tapi pengennya sih, memang banyakin lagu Bahasa Indonesia. Supaya langsung bisa dapat ke pendengar kita yang mayoritas ada di Indonesia.”

“Yang coba disajikan di Mirror, Mirror on the Wall itu cerminan dari diri kita sendiri. Kayak apa yang kita rasakan belakangan ini. Kita resah, senang, kita juga sedih, kita juga perlu orang dan ternyata kita nggak bisa sendiri. Ini semacam kontemplasi,” timpal Odong.

Dari Mirror, Mirror on the Wall, sudah ada dua video klip yang wara-wiri di Youtube, Sunny Day is Over dan Nabi Urban. Kedua karya video ini, memperpanjang jejak digital musik The Cat Police yang secara konstan memproduksi video klip sejak era Tropical Industries.

“Video itu penting. Karena nggak semua orang tipe mendengarkan. Ada juga tipe yang melihat. Lagipula, dengan adanya video di lagu tersebut, teman-teman juga bisa sedikit mengerti apa makna lagunya,” terang Dio. Jack Andie menambahkan, “Selain audio, mereka juga menerka dan berkhayal lewat visualnya.”

Sebagai band, The Cat Police, telah bekerja keras. Termasuk juga memberi pelumas pada sejumlah aktivitas musik di kota mereka sendiri, Tangerang.

“Mungkin dari dulu pun, di sini musisinya banyak yang nulis atau buat lagu sendiri. Sebenarnya nggak karena kita sih, menurut gue,” papar Jack Andie.

Tapi, kemudian ditimpali Odong, “Kemunculan kita memicu sih. Bahwa ternyata membuat sebuah album tuh seperti itu. Jadi kayak, ‘Wah, dia bisa nih, kita juga bisa.’ Sombongnya sih, menjadi trigger dan mendobrak gerbang yang sudah usang, tidak terbuka. Haha.”

Yang dibilang Odong, bisa jadi benar. Kemunculan mereka mendobrak. Lewat Mirror, Mirror on the Wall, dobrakan itu dibuat jadi lebih kencang. Semoga memang benar adanya, bahwa semakin banyak orang di Tangerang yang percaya musik bisa dijadikan pilihan untuk berkarya. (*)

Teks dan wawancara: Felix Dass
Foto: Arsip The Cat Police