Terus Merawat Ingatan dan Upaya Edukasi Yang Dilakukan oleh Forum Sudut Pandang

Ada duka yang diciptakan bencana. Salah satu yang datang di 2018 adalah bencana gempa bumi serta tsunami yang menghajar Palu dan sekitarnya. Ada banyak kehilangan yang ditinggalkan.

Bulan Desember 2018 yang lalu, beberapa orang menginisiasi menginisiasi sebuah proyek kolaborasi seni di satu wilayah yang terdampak oleh tsunami di Palu. Proyek ini bernama Yellow Memories atau Ingatan Terang. Pegiat seni dan sosial yang berasal dari Forum Sudut Pandang, Rahmadiyah Tria Gayatri, serta pekerja grafis Kukuh Ramadhan dari ruang28 dan Daisuke Takuye, seorang seniman dari Jepang, berkolaborasi memutar proyek ini.

Secara khusus, kolaborasi ini bertujuan untuk mengangkat beberapa kenangan yang dimiliki oleh warga sekitar akan benda-benda yang luluh-lantak disantap tsunami.

Upaya ini punya guna lebih jauh. Menurut mereka, jika benda-benda ini tidak ditangani dengan baik, maka bisa saja nanti hanya dianggap sebagai sampah semata bagi sebagian banyak orang. Padahal semua benda, ini pasti memiliki makna dan kenangan tersendiri bagi siapapun yang (pernah) memilikinya.

Dalam proses kerjanya, mereka memulai dengan mengumpulkan benda-benda tersebut, lalu dibentuk menjadi sebuah karya instalasi seni dan kemudian diwarnai kuning sebagai tanda bahwa mereka ingin merawat ingatan yang terang ini. Mereka tidak bekerja sendirian, semua warga bisa ikut berkontribusi untuk membangun instalasi ini. Tujuannya tak lain adalah untuk menumbuhkan kembali komunikasi yang akrab antar sesama warga di tempat itu. Interaksi yang coba diciptakan bertujuan untuk saling berdialog dan membuka berbagai kemungkinan sekaligus menjadi alternatif penyembuhan duka kolektif paska bencana dengan menyebar cerita sebagai sumber pengetahuan juga apresiasi bagi kerja-kerja kesenian.

Kegiatannya sendiri dimulai dari tanggal 30 Desember 2018 hingga 7 Januari 2019 kemarin.

“Beragam temuan dari objek-objek yang kami dapatkan, hampir semuanya tak utuh atau rapuh. Mulai dari material bangunan, alat-alat perkakas, barang-barang yang di dapur hingga kartu identitas korban yang saat ini entah berada di mana. Objek-objek yang kami temukan tentunya sebelumnya bermakna banyak bagi pemiliknya, kami merangkai dan memperlakukan barang-barang tersebut dengan penuh ikatan yang baik bagi kami secara emosional. Sekaligus sebagai bentuk penghargaan kami bagi seluruh korban yang telah hilang,” cerita Rahmadiyah menjelaskan.

Menurut ketiga orang inisiator ini, hal yang paling menarik dan berdampak besar dari proyek ini adalah bahwa karya yang dihasilkan bisa menjadi suatu metode penyembuhan alternatif yang baru. Dalam bentuk yang baru setelah melalui proses pengolahan, warga bisa saling merawat ingatan dengan suatu cara yang manis.

Lebih jauh lagi, proyek seni ini menjadi sangat menarik mengingat kolaborasi antar dua budaya yang berbeda namun memiliki memori yang sama akan bencana alam gempa bumi dan tsunami. Ya, Jepang, negara asal Daisuke Takeya, dikenak sering terkena bencana gempa dan tsunami. Proses terjadinya proyek ini sendiri bisa menciptakan suatu perspektif dan interpretasi  yang berbeda dari apa yang mereka bayangkan dan lihat secara pribadi. Kehadiran Daisuke menjadi daya tarik tersendiri, karena dengan pengalaman budaya yang berbeda, mereka bisa saling bertukar informasi seputar berkesenian dan tentunya bisa membawa pengaruh besar nantinya.

Forum Sudut Pandang, yang menjadi rumah kegiatan ini, adalah sebuah komunitas yang menginisiasi  beragam kegiatan, gerakan dan perubahan sosial melalui dasar berkesenian seperti lokakarya, pemutaran film, seni visual, pasar seni dan pertunjukkan musik. Berdiri di tahun 2015, forum ini sendiri dibentuk oleh beragam pelaku seni di dalamnya. Kegiatan dan tantangan mereka sendiri paska bencana menjadi lebih besar. Mereka berinisiasi untuk bergerak dan melakukan edukasi mitigasi bencana melalui jalur seni, sesuatu yang tidak banyak disentuh oleh pemerintah.

Selain proyek kolaborasi seni yang sudah berjalan kemarin, saat ini mereka mulai menjalankan banyak platform program yang telah direncanakan sebelumnya. Harapannya tentu saja untuk memberikan dampak baik serta menumbuhkan semangat untuk kembali bangkit dan pulih lebih cepat dengan tidak melupakan pengetahuan.

Juga saat ini mereka akan merilis sebuah buku berjudul Yang Kitorang Rasa Waktu Gempa. Buku ini sendiri berisi cerita dan gambar dari 423 anak pengungsian korban bencana alam yang dikumpulkan selama empat bulan melalui program bermain dan belajar di tempat-tempat pengungsian yang tersebar di wilayah Palu dan sekitarnya. Tujuan dari buku ini adalah untuk sebagai arsip serta sumber pengetahuan tentang sejarah bencana yang terjadi yang dialami langsung oleh para anak-anak ini.

Teks: Adjust Purwatama
Foto: Dokumentasi dan poster oleh Forum Sudut Pandang

Tambah Line Up, Hammersonic Siap Hadirkan 53 Band Metal dan Rock Dunia!

Setelah mengalami beberapa kali penundaan, festival musik metal raksasa Hammersonic akhirnya dipastikan siap digelar pada awal tahun 2023. Sebelumnya salah satu headliner yakni Slipknot telah mengumumkan konfirmasi lewat unggahan twitter...

Keep Reading

Tahun ini, Synchronize Fest Balik Lagi Secara Luring!

Penantian panjang akhirnya terjawab sudah! Synchronize Fest memastikan diri akan digelar secara offline pada 7, 8 , 9 Oktober 2022 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Mengusung tema “Lokal Lebih Vokal”,...

Keep Reading

Mocca Gelar Konser di Metaverse

Di ranah musik, kini istilah blockchain bukan lagi suatu hal yang asing. Sebelumnya, penjualan karya lewat NFT sudah banyak dilakukan oleh musisi, kini konser musik di metaverse pun menjadi salah...

Keep Reading

On Connectivity, Pameran Seni Bersama Besutan Kohesi Initiatives

Kohesi Initiatives menghadirkan On Connectivity, sebuah pameran bersama 25 perupa lintas generasi dan latar belakang. Menggarisbawahi hubungan manusia dan berbagai subjek di sekitar mereka seperti kesadaran kolektif, habitat, sejarah, dan...

Keep Reading