Teror yang Beda di 2 Single Baru Avhath

Kabar baik terus bermunculan ke permukaan di awal tahun ini. Datangnya pun dari banyak sektor, salah satunya musik. Hal ini juga menandakan bahwa para musisi yang ada, tidak mau berdiam diri menerima nasib begitu saja. Apalagi bila kita berbicara perihal kancah metal di negeri ini, tak akan ada habisnya. Musik yang dianggap sangat sidestream ini, secara terus menerus menggempur para penikmat musik di Indonesia. Buktinya bisa dilihat di setiap gelaran festival musik berskala besar, musik yang satu ini tak pernah lepas menjadi pengisi lineup. Nama-nama bandnya? Tumpah ruah.

Salah satu yang sangat menarik untuk dibahas adalah Avhath. Membuktikan konsistensinya dalam bermusik, Avhath secara spesial memenangkan penghargaan musik paling bergengsi di negeri ini, apalagi kalau buka Anugerah Musik Indonesia. Mereka saat itu memenangkan Karya Produksi Metal Terbaik di AMI Awards 2019, atas album mereka yang berjudul “FELO DE SE”. Selang setahun lebih, kini mereka akan kembali lagi memberikan teror dengan 2 lagu terbaru mereka yang bertitel “Felo De Se” dan “HALLOWED GROUND”, yang akan dirilis berbarengan pada tanggal 26 Februari 2021.

Memang ya, walaupun kondisi akibat pandemi membatasi ruang gerak, tapi bukan berarti hal itu membatasi ide kreatif dari orang-orang. Avhath pun mengamini hal tersebut, kedua lagu baru ini pun merupakan hasil cipta ide selama masa karantina yang dilakukan oleh mereka di 2020 kemarin. Untuk kali ini, mereka juga dibantu oleh Alyuadi atau yang biasa dikenal dengan Aldead, gitaris sekaligus vokalis dari band Heals, dan juga Fuzzy, I sebagai co-producer di dua lagu ini. Seperti orang kebanyakan yang tidak bisa untuk bertemu langsung, semua hal yang berkaitan dengan produksi dilakukan melalui sesi virtual. Hal ini tentu saja karena adanya pandemi, dan lokasi keduanya juga berjauhan, Avhath yang berdomisili di Jakarta dan Aldead yang bertempat di Bandung, proses rekaman rilisan ini pun memanfaatkan aplikasi Zoom sebagai alat penghubung utama. Selain drums, hampir 90% di lakukan via internet.

Untuk tema dari dua lagu ini sendiri tidak banyak berubah dari kebiasaan Avhath yang senang menceritakan perihal rasa resah dan muak mereka terhadap banyak kebiasaan yang ada di lingkungan bermasyarakat di negeri ini. Lagu “FELO DE SE” sendiri secara garis besar menceritakan tentang seseorang yang menjalani kehidupan sehari-hari dengan terpaksa mengikuti hal-hal yang bertentangan dengan dirinya. Ekrig menambahkan “Betraying yourself just to get accepted in society is what this song is all about”. Sedangkan “HALLOWED GROUND” dibuat untuk menceritakan perjalanan menuju tempat yang diyakini ada dan bisa menjawab semua pertanyaan dan kerisauan.

Nah untuk warna serta nuansa musiknya sendiri nih, ada sesuatu yang baru yang ditawarkan sama mereka. Di lagu “FELO DE SE” kita akan disuguhkan tempo yang sedikit diturunkan, yang menarik lagi juga ada penambahan instrumen baru. Di lini vokal, suara khas Ekrig masih dipertahankan. Hanya ada sedikit tambahan karakter growl dan bebunyian saxophone mendekati bagian akhir lagu. Di lagu kedua, crossover banyak genre kental terasa, hentakan drum ala hardcore punk yang ditemani riff gitar repetitif bertempo cepat menjadi penyambut di awal lagu. Dua materi ini sudah sepantasnya untuk dinanti dan didengarkan.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, kedua lagi ini akan dirilis secara mandiri oleh Avhath dan bakal tersedia di semua layanan musik dalam jaringan serentak pada tanggal 26 Februari. Mari kita tunggu saja teror baru dari Avhath.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Avhath

My Bloody Valentine Kritik Spotify Soal Lirik yang Salah

Di antara kalian pasti ada dong yang pernah memutar lagu di Spotify sambil menikmati fitur lirik yang disediakan. Lewat fitur ini, para pengguna Spotify bisa sambil bernyanyi sesuka hati. Tapi,...

Keep Reading

Patahan Imajinasi Masa Kecil di Nomor Terbaru Latter Smil

Latter Smil, duo asal kota Palu yang dihuni oleh Dian dan Eko, dipermulaan tahun 2022 ini kembali melepas karya teranyarnya bertajuk “Kalila”. Lewat single ini Latter Smil mencoba untuk memberikan...

Keep Reading

Perjalanan Skena Musik Ambarawa dalam Album Kompilasi They Hate Us

Terlihat dalam beberapa tahun terakhir, produksi album kompilasi skena musik lokal mulai kembali marak. Tercatat ada beberapa deretan kompilasi yang terbit pada setahun-dua tahun ke belakang, seperti Bikin Kompilasi: Bless...

Keep Reading

Dua Album Milik Semiotika Akhirnya Dilepas Secara Digital

Usai merilis album penuh bertajuk Eulogi, unit post-rock asal Jambi, Semiotika akhirnya merilis dua album terdahulunya Ruang (2015) dan album mini Gelombang Darat (2018) ke dalam format digital. Sementara album...

Keep Reading