Terbatasnya Dunia Digital Memantik Inovasi Pertunjukan Secara Luring

Pandemi Covid-19 telah membawa perubahan yang cukup signifikan. Selain membuat manusia berpikir banyak tentang bagaimana cara memaksimalkan dunia digital, wabah ini pun membuat sebuah skema baru dimana industri pertunjukan mampu tetap berjalan ditengah situasi yang berbeda. 

Beberapa bulan kebelakang kita telah disajikan dengan banyak pengalaman baru, yaitu sebuah pertunjukan ataupun kegiatan lain yang diselenggarkan secara virtual. Mulai dari konser musik, pameran seni rupa, diskusi, festival makanan, ataupun gelaran lainnya –seketika kita pun karib dengan dunia itu. Di awal kemunculannya, fenomena semacam ini memang membuat nyaman, dimana kita hanya cukup memaksimalkan gawai dan memastikan jaringan internet tetap lancar. Konser gratis, tanpa ongkos transportasi, bisa mengikuti diskusi sambil selonjoran, adalah sebuah fenomena baru yang memanjakan kita. Namun pertanyaan yang kemudian muncul adalah sampai kapankah  hal seperti ini mampu bertahan dan sejauh mana bisa memberikan kepuasan kepada audiens? mengingat dunia digital dengan segala keterbatasannya dan keinginan manusia yang tak ada batasnya. 

Lagipula jika dipikirkan lebih jauh, industri pertunjukan mampu maksimal hanya ketika ada keterhubungan secara langsung, secara fisikal. Membangun emosional yang intens antara penampil dan penonton. Saling serap energi, yang kemudian mampu memberikan pengalaman yang maksimal. Hal-hal demikian lah yang mungkin saat ini belum bisa diakomodir oleh dunia digital.

Beberapa upaya agar pertunjukan luring tetap terselenggara sudah dilakukan. Salah satunya adalah konser dengan format Drive-in. Di beberapa negara, konser seperti ini sudah mulai diselenggarakan. Namun tentu bukan tanpa kendala. Di sisi teknis, apakah kualitas sound yang dihasilkan si penampil dapat sampai secara maksimal? Mengingat mobil berukuran terbatas dan tersekat oleh pintu. Syukur-syukur untuk mobil yang berada di barisan depan, bagaimana dengan mobil yang di barisan belakang? Selain sound yang kurang maksimal, indra penglihatan pun akan terbatasi dengan mobil lain yang berada di depannya. Belum lagi persoalan di mana yang mencintai musik bukan hanya orang  yang memiliki mobil saja. Keterbatasan lokasi juga menjadi kendala yang cukup serius. Jika sebuah area konser biasa menampung 30.000 penonton, paling-paling di konser drive-in ini hanya akan menampung kurang dari separuh penonton biasanya.

Bahkan, beberapa waktu lalu  konser drive-in yang diselenggarakan Chainsmoker berujung dengan sebuah permasalahan, dimana para penonton yang datang dengan mobil tetap saja menyaksikan konser dari luar dan menciptakan kerumunan. Protokol kesehatan semacam jarak sosial seketika tak berlaku di sana. Ragam kritik pun muncul dan lembaga pemerintah sedang melakukan investigasi dengan masalah ini. Dengan segala keterbatasan yang ada, hal ini membuktikan jika konser drive-in di tengah pandemi belum bisa maksimal diselenggarakan secara masal di banyak negara dengan kondisi yang pasti berbeda pula, entah itu dari sisi ekonomi maupun atensi.    

 

Selain drive-in, baru baru ini Virgin Money Unity Arena melakukan terobosan baru. Sebuah Event Organizer yang berbasis di New Castle, Inggris, tersebut menyelenggarakan sebuah pertunjukan musik dengan menerapkan jarak sosial namun para penonton tetap bisa merasakan getaran dari si penampil –ikut sing a long maupun berjoget bersama. Mereka membuat sebuah gelaran dengan membagi penonton ke dalam kelompok yang berjumlah 3-4 orang. Para penonton bebas memilih siapa yang akan menjadi anggota kelompoknya. Lalu kelompok tersebut diberi sebuah tempat dengan barikade mini yang memungkinkan para penonton tidak seenak jidat membuat kerumunan. Selain sajian musik, penyelenggara pun memfasilitasi berbagai makanan dan minuman yang bisa dipesan lalu diantarkan khusus oleh seorang pramusaji. Konser dengan format ini terbilang nyaman dan aman, di mana penonton dapat meminimalisir rasa kekhawtirannya akan tertular oleh virus. 

Namun tentu sekali lagi keterbatasan lahan menjadi suatu kendala. Sebuah area terbuka seluas 45.000 meter persegi atau setara dengan 6 kali lapangan sepak bola itu, hanya bisa dihadiri oleh 2500 orang saja. Pasalnya area tersebut di isi dengan 500 barikade mini yang ditempati oleh para kelompok penonton. Jika tanpa barikade, area seluas itu bisa menampung sampai 20.000 orang.

Dengan kondisi seperti yang saat ini terjadi, para penyelenggara acara dipacu untuk menciptakan terobosan baru dalam industri pertunjukan secara luring. Tentu, sebuah terobosan yang mampu mengakomodir kepuasan penonton. Sejauh ini belum ditemukan format yang ideal tentang bagaimana sebuah pertunjukan dapat terselenggara dengan baik ditengah pandemi yang juga belum mereda. Namun beberapa alternatif format pertunjukan sudah ada dan bisa diterapkan. Tentu dengan kembali menimbang kepuasan penonton dan protokol kesehatan.  

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

Kolaborasi Semiotika Dan Iga Masardi

Menggunakan moniker Sagas Midair, Iga Massardi yang merupakan gitaris sekaligus vokalis grup Barasuara merilis single kolaborasi bersama Semiotika, unit Instrumental Rock dari Jambi. Diberi tajuk Iskaashi, rencananya single ini akan...

Keep Reading

Nyala Api Dari Angkatan Baru Hip-Hop Jakarta

Berawal dari hal yang tidak direncanakan, La Munai Records, label rekaman Jakarta, Pesona Experience dan Bureau Mantis kolektif dan manajemen musik dari kota yang sama akhirnya menemui kesepakatan untuk merilis...

Keep Reading

Plvmb Memulai Debut Dengan Blue

Bandung kembali memiliki kuintet indiepop yang terdiri dari Vina Anesti (Vokalis), Azka Aulia Rachman (Bass), Diaz Febryan (Drum), Salman Wahid Putra Kamaludin (Gitar), Irfan Zahid Abdussallam  (Gitar). Mereka tergabung ke...

Keep Reading

Superglad Yang Kembali Melangkah

Superglad adalah band yang namanya tidak perlu lagi dipertanyakan di kancah musik tanah air. Setelah diterpa berbagai permasalahan yang sempat terjadi di dalam tubuh mereka, band yang terbentuk sejak tahun...

Keep Reading