Tentang Alir, yang Bermuara Di “Cornucopia”

Hal pertama yang menyebalkan dari mendengarkan lagu Alir, adalah kita akan menyesap segala tanya yang kita pun tak tahu apa yang menjadi pertanyaan itu. Ada hal yang mengganjal, tetapi kita tak pernah sampai pada benda yang mengganjal itu. Namun justru di sanalah letak kekuatan karya mereka –musik yang memantik segala bayangan dengan cara-cara yang tidak sederhana. Perihal Alir, dengan lirik, arah musik dan semesta gagasan yang tercatat di dalamnya merupakam pendefinisian yang mesti kita lakukan secara mandiri. 

Medio 2017, bermula dari sekadar membuat musik untuk mengikuti sebuah lomba musikalisasi puisi disebuah universitas kenamaan di Yogyakarta, yaitu UGM. Sayed Purawinata yang mulanya hanya menggubah sebuah puisi ke dalam bentuk musik akhirnya mulai merencanakan sesuatu yang kemudian menjadi kendali untuk seluruh hidupnya sekarang, yaitu bermusik dan menulis lagu sebanyak mungkin. 

“…waktu itu jurinya Gardika Gigih,” kenang Sayed kepada saya usai hearing session album Cornucopia.

Seperti halnya kebanyakan band, hal pertama yang perlu ditentukan adalah nama. Seketika nama Alir, pun dipilih sebagai moda dalam berkarya. Nama Alir, sendiri konon terilhami dari buku kumpulan esai Orhan Pamuk yang berjudul The Naïve and the Sentimental Novelist, di mana buku tersebut membicarakan dua jenis penulis novel, yaitu penulis naif dan penulis sentimental. Penulis naif adalah penulis yang membiarkan dirinya mengalir bersama inspirasi sedangkan penulis sentimental bersifat perfeksionis: yang perlu menyiapkan segala sesuatu terlebih dahulu sebelum berkarya. Dirasa memiliki alter ego yang sama dengan apa yang dikemukakan Orhan Pamuk,  Sayed dan Mufti –yang sudah karib sejak lama dan berasal dari kota yang sama yaitu Garut- akhirnya sepakat menginjak pedal gas, mencari dan menemukan segala kemungkinan dalam satu kendara yang sama bernama “Alir,”(pakai koma). 

“Nah kalo pemakaian tanda koma itu beda lagi. Itu biar gampang aja. Tapi setelah dipikir-pikir itu maknanya jauh banget. Ada yang memaknainya lebih jauh,” kata Mufti. 

Seiring dengan perjalanan bermusiknya, Sayed dan Mufti terus mencari format dan arah musik yang tepat. Berselang satu tahun sedari pembentukan, Boyan dan Fathur turut bergabung. Alir, yang kini berbasis di Bandung menemukan format musiknya yang ideal, yaitu sebuah kuartet yang diisi oleh Sayed Purawinata (vokal), Fathur (gitar), Riyandi Nurul Akbar (cello), dan Mufti Widi (Synthesizer). Single pertama mereka, “Kemarau”  yang dirilis tahun 2018 menjadi amunisi untuk letupan kreativitas di awal. Atensi pasca rilis lagu tunggal tersebut terbilang cukup bagus, sambutan yang diberikan cukup baik. Namun dibalik gegap gempita apresiasi yang ditujukan kepada Alir, para personil merasa belum menemukan bentuk musik yang ideal. Setelah rilis lagu Kemarau, Alir, melakukan jeda selama dua tahun, tidak merilis karya satu pun hanya mengisi panggung saja sambil mencari bentuk dan arah musik yang sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. 

“Itu lebih ke perjalanan spiritual si Mufti sih. Jadi, karena kan berkaca dari lagu “Kemarau” hasilnya tuh nggak terlalu memuaskan, maksudnya apa yang kita pikirkan itu nggak nyampe. Daripada keluar budget mahal terus hasilnya nggak jelas juga jadi yaudah yang dua tahun itu kita pake buat  belajar –cari sound, bentuk, dan lain sebagainya.” Ungkap Sayed.

Perihal produksi, ke semua lagu Alir, memang diproduksi secara mandiri oleh para personil, mulai dari proses rekaman sampai ke teknis distribusi. Biang dibaliknya adalah Mufti yang merasa tidak puas ketika karya Alir, direkam di sebuah studio dan ditangani oleh orang yang kurang tepat. Dari sana akhirnya mereka memutuskan untuk memproduksi musik sendiri dengan diproduseri langsung oleh Mufti agar suara dan rasa musik Alir, yang sudah mereka bangun sejak dua tahun lalu tetap terjaga. 

“Mau nggak mau kita akhirnya merekam musik sendiri. Kita sempat rekaman di sebuah studio yang menurut saya studionya tuh paling besar di Bandung sekarang, yang biasa merekam musik-musik pop gitu ya. Nah kemudian hasilnya tuh jauhlah dari kemauan kita. Terus dimixing oleh orang yang menurut saya tepat, tapi hasilnya tuh tetep nggak sesuai. Dari pada gini yaudahlah mendingan kita nyari duit aja dulu selama dua tahun buat nanti musiknya dikerjain sendiri. Sambil nyari bentuk, nyari definisi, dan lain lain,” tutur Mufti.

Setelah menemukan identitas dan yakin dengan apa yang nantinya akan mereka sajikan. Di tahun 2020 mereka merilis dua mini album sekaligus yaitu “Entitas Ketiga” yang dirilis bulan Februari dan “Cornucopia” pada September. Seperti halnya yang dilakukan oleh kebanyakan musisi hari ini, yaitu merilis terlebih dahulu satu persatu single lagu, dalam proses distribusinya Alir, mendapat gelombang atensi yang terbilang luar biasa. Untuk EP “Entitas Ketiga” saja tercatat ada 64.000 total stream di Spotify berselang beberapa bulan setelah perilisannya. EP Entitas Ketiga sendiri mencakup 5 track, diantaranya “Sebuah Kisah Dari Kota Kecil Di Selatan Jawa”, “Bis Malam”, “Lampu-Lampu Bulaksumur”, “Jingga Jakarta”, dan “Sekeloa”. Perihal genre musik, Alir, tidak mau ambil pusing dengan hal tersebut, mereka membebaskan interpretasi para pendengar ihwal aliran musik yang mereka usung.

“Ada yang bilang warna musik Alir, tuh sinematik. Dan yang bilang itu adalah orang yang cukup kredibel di ranah musik. Oh berarti yaudahlah kayaknya di sinematik aja gitu. Kalo di sinematik pop nggak apa-apa lah karena popnya tuh masih ada karena lirik lagu Alir, tuh sebenernya ngepop. Kalo soal genre overthinking aja sih yang mendengarnya hahaha,” ungkap Mufti.      

Pada hari Rabu kemarin (18/09), Alir, baru saja merilis album teranyarnya yang bertajuk “Cornucopia”. Setidaknya ada 6 track yang mereka tulis, rekam dan distribusikan secara mandiri dalam album ini, dengan durasi keseluruhan lagu lebih dari 30 menit. Dua lagu diantaranya adalah versi perekaman ulang dari lagu Alir, sebelumnya, yaitu “Daun Op. 1/5” dan “Bahtera Op. 5/5”. Nomor selebihnya merupakan komposisi baru yang direkam dalam dekapan dinginnya suhu udara Ciwidey, Bandung di sebuah villa milik kawan mereka. Diantaranya: Stay Op. 2/5,  Pulang Op. 4/5, dan Di Luar Jendela Op. 3/5.  Penggunaan nama Opus (Op.) diadaptasi dari standar penomoran musik klasik yang sengaja dipilih agar para pendengar lebih mudah mengenali karya Alir, sekaligus menumbuhkan rasa penasaran.

album artwork cornucopia alir,

Nama “Cornucopia” sendiri diambil dari istilah zaman Yunani Kuno untuk sebuah bejana yang diperuntukan membawa hasil bumi dan makanan. “Cornucopia” sendiri merupakan simbol dari kelimpahan dan keberkahan. Filosofi tentang bejana tesebut dicomot untuk nama sebuah album, karena dirasa memiliki fungsi yang sama. Sesuai dengan namanya, EP Cornucopia merupakan sebuah bejana atau wadah yang didalamnya memuat lagu yang secara lirik dan tema lebih bervariasi daripada EP sebelumnya. Kedua EP tersebut dirilis oleh Larung Record, yang tidak lain adalah label yang dibentuk oleh Alir, sendiri.

Secara musikalitas, jika dibandingkan dengan lagu-lagunya yang terhimpun di EP “Entitas Ketiga”, sisi eksplorasi dalam album “Cornucopia” ini begitu terasa. Alir, tak terjebak dalam standar bermusik yang mandeg. Mereka mencari timbre baru sekaligus membuat perjudian dalam berkarya (apakah eksplorasi semacam ini akan menambah atensi atau mungkin malah akan ditinggalkan?), dan sejauh ini atensi-nya kian bertambah. Penulisan lirik yang tidak meledak-ledak menjadi salah satu kekuatan musik Alir,. Sayed mampu menyusun diksi secara sederhana, mengakumulasikan pengalaman personal nan sentimentil menjadi sebuah lirik yang utuh yang mampu menghimpun pelbagai patahan makna didalamnya. Namun terkadang isi liriknya nonsense juga –hanya orang-orang saja yang berlebihan memaknainya. 

Melalui album Cornucopia, Alir, berupaya untuk merengkuh  sisi emosional pendengar dengan menghadirkan sisi sensibilitas musik dalam sinema. Maka tak aneh jika kemudian dalam album terbarunya ini kita akan merasakan suasana yang menyentuh dan gelap. Jika dibandingkan dengan EP sebelumnya “Entitas Ketiga”, komposisi lagu-lagu yang tercantum dalam “Cornucopia” terasa lebih eksperimental, album ini sekaligus menjadi manifestasi atas eksplorasi yang sudah mereka lakukan selama dua tahun ke belakang. Ragam bebunyian pun dihadirkan seperti sentuhan element musik chamber, ambient, dan lain sebagainya untuk menangkap bentang suara yang sepadan dengan apa yang dihadirkan oleh Sayed melalui lirik. Misal dalam nomor pembuka Antwerp Op. 0/5, dalam lagu tersebut mereka menghadirkan musik ambient nir-lirik yang memabukan sekaligus kontemplatif –selewat kita bisa merasakan hadirnya gagasan Sigmund Freud ihwal kendali di alam bawah sadar. Dalam “Antwerp Op. 0/5” hanya ada sayup-sayup monolog absurd yang sesekali berkelindan dengan beluk (sebuah teknik vokal bernada tinggi yang biasa digunakan oleh para leluhur suku Sunda zaman dahulu untuk menyampaikan pesan kebaikan). 

Dalam album ini pula Alir, meniupkan angin segar dengan menampilkan kepadatan sisi ekperimentasi dalam komposisi musiknya. Ragam corak musik pun ditampilkan. Misal dalam lagu “Stay Op. 2/5” yang dibuka dengan sentuhan musik lullaby yang terdengar cukup kelam. Lalu “Daun Op. 1/5” seketika kita akan ingat bagaimana Sigur Ros membuka lagu “Olsen Olsen”, dengan bentuk musik yang berbeda namun ada suasana yang terasa sama disana –magis nan mengawang-gawang. Suasana kekacauan bisa kita temukan pada nomor “Di Luar Jendela Op.3/5”, dibuka dengan musik yang terasa kolosal lagu ini mencoba untuk membuka mata kita tentang hal apa saja yang terjadi di luar rumah. Sedangkan untuk lagu “Pulang Op. 4/5” komposisi  musik di lagu ini terbilang sederhana dan liriknya pun tidak bertele-tele, cukup eksplisit memaknai padanan kata “pulang” secara utuh, namun membuka kemungkinan untuk memaknai kata “Pulang” lebih jauh. Yang terakhir adalah “Bahtera Op. 5/5”, lagu ini adalah salah satu karya awal Alir, yang direkam ulang bersamaan dengan semua lagu terbaru. Diantara semua lagu yang ada di “Cornucopia”, lirik dalam lagu ini adalah salah satu lirik yang paling kuat. Pada hearing session yang digelar oleh kolektif Humafield pada Rabu kemarin –yang naas mati lampu sebelum acara kelar, banyak dari yang datang tiba-tiba sing a long ketika lagu ini diputar. Agaknya tanpa sentuhan instrumen musik pun lagu ini sudah cukup kuat untuk memantik sisi emosi orang yang mendengarkan. Meskipun terkesan belum maksimal dibeberapa lini, selebihnya mungkin album ini merupakan cetak  biru untuk karya-karya mereka selanjutnya.

Alir, dan musiknya perlahan berhasil mencairkan antara dua kutub bahasa yang selama ini memiliki definisinya masing-masing, yakni bahasa ekspresi (musikal) dan bahasa verbal (sastrawi). Dengan ekspresi musikalnya yang terasa jujur dan tak berlebihan sepadan dengan liriknya yang terbilang abstrak. Puncak dari pertautan itu kita bisa menangkap Bahasa Kesan yang bersifat universal. Bahasa kesan itu hanya bisa dicapai ketika mendengarkan musik mereka sambil mempertajam sisi perasaan. Faktor ini bukan sisi teknis semata, tapi lebih dari itu Alir, sudah meniupkan ruh pada setiap karyanya. 

“Kami harap pendengar kami dapat merasakan energi yang kami coba bangun dan akhirnya kami bagikan melalui setiap komposisi dalam album ini. Karena sebagai sebuah band kami hanya ingin mengantarkan perspektif dan bagaimana cara kami melihat dunia melalui lirik dan bebunyian” pungkas Alir,

Setelah merilis “Cornucopia”, di tahun 2020 ini mereka juga sedang mengerjakan album penuh musikalisasi puisi yang rencananya akan rilis di bulan Desember mendatang. Tak cukup disana, mereka pun akan merilis sebuah lagu tunggal berjudul “Penantian” pada Oktober bulan depan, lagu yang bercerita tentang  kegelisahan mereka akan pandemi Covid-19 yang sampai hari ini tak kunjung selesai. Selain karya musik, dekat-dekat ini juga mereka sedang merencanakan sebuah proyek kolaborasi dalam bentuk live session. 

“Kalau mampu secara batin, mental dan tenaga mau bikin live session, isinya 14 lagu bersama 8 orang pemusik yang semuanya direkam live,” pungkas Mufti.

Di masa pandemi seperti yang sekarang sedang terjadi, agaknya Alir, masih menjadi salah satu kuartet yang super sibuk. Apakah dalam karya-karya mereka selanjutnya ada lompatan kreativitas baru? atau malah berhenti di warna musik semacam yang dihadirkan dalam Cornucopia yang menurutnya ideal? Kita nantikan saja.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Dicki Lukmana dan Alir,

 

Plvmb Memulai Debut Dengan Blue

Bandung kembali memiliki kuintet indiepop yang terdiri dari Vina Anesti (Vokalis), Azka Aulia Rachman (Bass), Diaz Febryan (Drum), Salman Wahid Putra Kamaludin (Gitar), Irfan Zahid Abdussallam  (Gitar). Mereka tergabung ke...

Keep Reading

Superglad Yang Kembali Melangkah

Superglad adalah band yang namanya tidak perlu lagi dipertanyakan di kancah musik tanah air. Setelah diterpa berbagai permasalahan yang sempat terjadi di dalam tubuh mereka, band yang terbentuk sejak tahun...

Keep Reading

Meramu Crossover Hardcore Ke Tahap Terbaru

Dari Sidoarjo, unit Crossover Hardcore yang tergabung dalam Voorstad akhirnya merilis mini album terbaru dengan tajuk Self-titled melalui label Greedy Dust Records. Ini merupakan rilisan kedua Voorstad setelah pada awal...

Keep Reading

Penegasan Warna Terbaru I Punch Werewolf

Penegasan eksistensi I Punch Werewolf melalui video klip lagu terbaru dengan judul Broken. Unit ini terus menggebrak kancah musik dengan beragam rilisannya. Untuk lagu ini sendiri dibuat lebih mengayun, namun...

Keep Reading