Cerminan Ekspresi Dari Kawanan WKT

Sama seperti kota-kota lainnya, Samarinda pun memiliki sudut-sudut yang menawarkan cerminan ekspresi, mimpi, hingga gagasan dari para penduduknya. Bila mengunjunginya, sempatkanlah waktu untuk berjalan-jalan dan lalu melihat-lihat sekelilingnya. Siapa tau, kalian bisa menemukan pesan-pesan tersebut dalam bentuk coretan “ngasal” di tembok, atau gambar dengan langkah metodis di tiang-tiang kolong jembatan.

Seperti yang dilakukan oleh Arma, pria kelahiran Yogyakarta tersebut memiliki ketertarikan berlebih terhadap aktivitas mencorat-coret dinding kota. Bersama komunitasnya yaitu WKT atau Wargasekitar, ia masih getol dalam memperkenalkan seni graffiti kepada masyarakat Samarinda.

“WKT itu awalnya singkatan dari Wiz Khalifa Turf. Jadi dulu kami sering nongkrong di kolong jembatan Muso Salim. Disana, ada pedangan stiker yang wajahnya mirip Wiz Khalifa. Tapi agar terkesan familiar, kami mengubah kepanjangannya menjadi warga sekitar,” Arma Menjelaskan arti dari WKT.

Seiring berjalannya waktu, dari bawah jembatan Muso Salim, komunitas itu pun sempat berpindah-pindah tempat. Hingga saat ini mereka lebih sering menggunakan Jenggala Community Hub sebagai titik berkumpul.

“Kami juga punya badan bisnis bernama Local Youth yang menjual berbagai macam gear graffiti dan dibentuk secara kolektif oleh para anggota WKT,” Arma menambahkan.

Secara resmi, WKT terbentuk di tahun 2012 dengan anggota awal 13 orang. Saat itu juga banyak terdapat komunitas-komunitas street art yang tersebar di seluruh penjuru Samarinda, hanya saja pada akhirnya, kumpulan-kumpulan kecil tersebut memilih bersatu di WKT. Kini, jumlah personil WKT sudah mencapai kurang lebih 50 orang.

“Tahun 2014 mulai bikin pameran pertama kita, lalu di tahun 2015, kita bikin pameran graffiti lagi namun dengan skala yang lebih besar yang melibatkan beragam seniman graffiti seantero pulau Kalimantan,” katanya.

Namun, pameran di tahun 2015 tersebut dirasa kurang maksimal karena belum berhasil menjangkau banyak pegiat graffiti di luar kota, hingga di tahun 2016 mereka membuat Kalimantan All City yang melibatkan banyak artist dari kota Palangkaraya, Banjarmasin, Pangkalanbun, Banjarbaru, Singkawang, Balikpapan, Tenggarong dan tentu saja Samarinda.

“Kami bikin Kalimantan All City waktu itu secara kolektif, dan untung saja para undangan rela untuk naik bis ke Samarinda, bahkan yang dari Singkawang harus menempuh perjalanan darat hingga 7 hari lamanya. Waktu itu soalnya kita sangat minim budget,” ungkap Arma.

Saat itu pun respon masyarakat Samarinda relatif bagus, meski hingga hari ini pun masih saja ada yang berpandangan negatif terhadap aktifitas yang di lakukan oleh WKT. Namun, Arma mewajarkan hal tersebut. Baginya, itu merupakan konsekuensi logis dari sebuah kegiatan subkultur.

“Yang terbaru itu kasus yang kemaren banget. Jadi, waktu itu ada anggota WKT yang udah lama gak ngumpul, mencorat-coret sebuah jembatan. Orang itu ketangkap aparat, dan mukanya difoto lalu disebar ke media sosial. Otomatis, beragam bentuk protes juga mampir ke WKT hahaha,” cerita Arma.

Dalam rangka membuat sebuah ruang diskusi terkait street art untuk masyarakat Samarinda, di tahun 2018 lalu, WKT dan teman-teman mahasiswa ISBI Samarinda membuat sebuah film bertajuk Born to be Wild.

“Jadi sebenarnya film tersebut merupakan tugas kuliah dari teman-teman ISBI waktu itu, cuman digarap sangat serius. Mereka benar-benar mempelajari seluk-beluk terkait graffiti dan street art. Proses penggodokan konsepnya sendiri memakan waktu dua bulan, sedangkan pengambilan gambarnya hanya berlangsung satu bulan,” jelas Arma.

Terlepas dari beragam kontroversinya, setidaknya WKT dan seni graffitinya membuat Samarinda lebih hidup. Tembok-temboknya menjadi saksi bisu bahwa tiap goresan warna yang tersemat disana mengandung pesan-pesan tersirat tentang semangat kaum muda Kota Tepian.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip WKT

Geliat Kreatif Dari Sulawesi Tengah Dalam Festival Titik Temu

Terombang-ambing dalam kebimbangan akan keadaan telah kita lalui bersama di 2 tahun kemarin, akibat adanya pandemi yang menerpa seluruh dunia. Hampir semua bentuk yang beririsan dengan industri kreatif merasakan dampak...

Keep Reading

Memaknai Kemerdekaan Lewat "Pasar Gelar" Besutan Keramiku

Di pertengahan bulan Agustus ini, ruang alternatif Keramiku yang mengusung konsep coffee & gallery menggelar acara bertajuk “Pasar Gelar” di Cicalengka. Gelaran mini ini juga merupakan kontribusi dari Keramiku untuk...

Keep Reading

Semarak Festival Alur Bunyi Besutan Goethe-Institut Indonesien

Tahun ini, Goethe-Institut Indonesien genap berusia 60 tahun dan program musik Alur Bunyi telah memasuki tahun ke-6. Untuk merayakan momentum ini, konsep Alur Bunyi tetap diusung, namun dalam format yang...

Keep Reading

Head In The Clouds Balik Lagi ke Jakarta

Perusahaan media serta pelopor musik Global Asia, 88rising, akan kembali ke Jakarta setelah 2 tahun absen karena pandemi pada 3-4 Desember 2022 di Community Park PIK 2. Ini menandai pertama...

Keep Reading