Telusur Tanpa Henti Polka Wars

Karaeng Adjie, Billy Saleh, Xandega Tahajuansya dan Giovanni Rahmadeva adalah empat pemuda Jakarta yang tergabung dalam Polka Wars yang penuh dengan banyak perdebatan. Kehidupan di dalam Polka Wars tidak seramah itu untuk satu sama lain. Tapi toh, mereka masih berkarya bersama.

Band ini punya banyak penulis lagu dan vokalis. Jadi, ada banyak kemungkinan yang bisa dijalankan dengan banyak kepala yang mencipta dan bernyanyi.

Beberapa waktu yang lalu, Polka Wars merilis double single Rekam Jejak/ Mapan. Ini mengikuti EPNY yang dirilis tahun 2017 lalu. Double single ini memperpanjang upaya Polka Wars untuk menulis lagu dalam Bahasa Indonesia paska melejitnya single Rangkum dari EPNY.

Yang mereka lakukan, begitu cair. Perlahan-lahan, wilayah-wilayah baru disentuh dan dieksplorasi. Rekam Jejak/ Mapan adalah sebuah awalan untuk album kedua yang masih belum tahu akan berjalan ke arah mana.

Siasat Partikelir berbincang tentang lagu dalam Bahasa Indonesia, obsesi masa depan dan masa-masa setelah Rangkum menemui banyak pendengar baru. Selamat membaca.

Kenapa sekarang menulis lagu dalam Bahasa Indonesia? Apakah ini akan jadi kebiasaan baru Polka Wars ke depannya?

Billy Saleh (BS): Mungkin ini kebiasaan baru sih dalam menulis lagu. Kami masih punya lagu dalam Bahasa Inggris, cuma mungkin porsinya nggak sebanyak lagu-lagu terdahulu.

Karaeng Adjie (KA): Sebenarnya ini progresi alamiah saja. Sejujurnya, kami pun sejak lama ingin menulis dalam bahasa ibu. Harap digarisbawahi bahwa materi Axis Mundi yang dirilis tahun 2015 itu sebenarnya sudah ditulis sejeak 2011. Lagu yang pertama kami latih pun, Mokele, dulu ketika awal bentuknya masih berbeda. Jadi, kalau ditinjau dari konteks perkembangan tiap personil secara pribadi, bisa dibilang lagu-lagu di album itu ditulis, ketika kami sebagai manusia, masih mencari identitas. Kami baru masuk bangku kuliah, ada keterbatasan kompetensi maupun perbendaharaan pengalaman dalam menulis lagu. Karena, memang ada kesulitan menulis dalam bahasa ibu dengan standar kualitas tertentu.

Giovanni Rahmadeva (GR): Sebenarnya, dari pre Axis Mundi, sudah ada keinginan dan upaya ke sana. Misalnya ada lagu Kerontang yang pernah diunggah di Soundcloud atau Salju Panas yang sudah setengah tanak tapi belum jodoh atau sesederhana kami belum percaya diri untuk itu. Kalau gue pribadi, di album kedua ini, merasa masih bebas. Yang cocok Bahasa Inggris, ya pakai Bahasa Inggris. Biasanya, yang dipaksakan untuk diganti bahasanya malah tidak pernah berhasil. Gue percaya tiap lagu punya nasib, tergantung tarikan nada dan kalimat yang keluar di awal aja. Jujur, mau bahasa apapun, kalau nggak beresonansi di hati ya buat apa dilanjutkan prosesnya?

Lalu, kenapa sekarang merilis double single sekaligus? Tidak langsung materi yang lebih panjang?

KA: Kalau maksudnya album, ya semata-mata karena materinya masih dalam fase produksi. Proses perlu dihargai juga.

GR: Ada perkara waktu, biaya dan tenaga yang harus direkayasa sedemikian rupa. Karena akan banyak kejutan juga sih, jadi kita buka tutup debitnya kaya pintu air bendungan, alon-alon asal ke palkon. Haha.

Apa sih efek single Rangkum pada karir kalian?

GR: Kalau ini, harus ditarik mundur dulu. Kalau gue pribadi sih, momen sebelum berangkat ke New York untuk mengerjakan EPNY itu bisa dijadikan pembuktian ke diri sendiri dan jadilah lagu Rangkum. Semengalir itu proses kreatifnya. Pada saat itu, nggak ada dari kami yang berpikir lagu ini bakal jadi apa dan mau dibawa ke mana. Kita bahagia saat mengerjakannya. Bahkan tertunda satu tahun dan nyaris lupa sama materi itu karena memang kepotong periode Axis Mundi. Nah, begitu keluar versi finalnya, jujur ke depannya gue nggak sadar nggak bisa berharap ke diri sendiri kalau bisa bikin Rangkum-Rangkum yang lain. Dan gue berdoa supaya anak-anak juga nggak merasa harus melulu ke arah situ. Kita semua cukup kaget, “Kok ni anak bontot prestasinya lumayan juga ya?” Dari situ gue belajar, mengupas penulisan lagu gimana, mencoba lebih peka kalau dengerin alur lagu, mencoba puasa dengerin lagu biar makin menemukan jati diri, memperbanyak nonton dan baca, menurunkan ekspektasi, menonton wawancara penulis lagu favorit dan hal-hal lain seperti itu. Intinya efeknya jadi ke dalam sih. Aeng dan Billy juga begitu, mereka ngebut lompatin karya kita sebelumnya. Mencari metode pendekatan baru kalau bikin lagu. Kalau dulu ibaratnya kita nulis skrip hancur terus buru-buru shooting, sekarang kita lama di proses menulis. Begitu sudah matang dan percaya diri, baru shootingnya dilakukan. Lebih ke menggambar semuanya di kanvas, kembali ke cara tradisional.

Xandega Tahajuansya (XT): Ini batu pijakan terpenting menuju album kita yang akan datang.

KA: Lagu ini membantu kita mengidentifikasi apa yang ingin dibuat. Seperti sudah disebutkan tadi, sebelumnya kita masih mencari jati diri.

Dari kacamata kalian, ada banyak ruang untuk pengembangan wilayah musiknya Polka Wars nggak sih? Membandingkan Axis Mundi dengan era sekarang, menurut gue, udah lumayan ajaib.

GR: Ada banyak banget ruangnya beserta sampah galaksinya selama mataharinya masih nyala. Lagu gue sama Aeng misalnya, yang dulu dua chord udah jadi lagu, sekarang lagu kita chordnya bisa sampe dua belas biji.

BS: Album kedua belom bikin aja udah mulai mikirin album ketiga mau kaya gimana. Haha.

KA: Kami nggak pernah mengkotak-kotakan musik. Varian referensi masing-masing personilnya sangat luas. Kami merasa tidak mampu untuk memprediksi apakah akan tinggal di sini atau pergi ke mana lagi. Obyektifnya toh bukan untuk memuaskan pasar. Jadi, ya kami buat apa yang disuka secara rasa. Dan itu bisa ke mana saja.

XT: Semakin ke depan Polka Wars bisa banyak wilayah-wilayah yang akan dijelajah. Tidak menutup kemungkinan apapun di depan sana.

Terakhir, masih punya obsesi besar dengan Polka Wars?

BS: Tricky juga nih. Yang pasti sih, gue berharap Polka Wars bisa punya efek yang signifikan dalam bidang apapun.

KA: Kalau gue, apapun yang dilakukan, ketika pulang ke rumah, yang pertama gue cari adalah gitar. Dari situ gue tahu identitas hakiki dan rumah gue sebenarnya di sini. Gue suka nulis lagu dan musik adalah katarsis. Kalau nantinya Polka Wars hanya band kelas dua pun, gue masih akan melakukannya setiap hari karena ya gue suka melakukan ini.

GR: Pengen tur dunia dan ketemu sama pemangku musik Yahudi yang menguasai bisnis kreatif macam musik ini. (*)

Teks: Felix Dass
Foto: Dokumentasi Polka Wars

The Box Perkenalkan Formasi Baru Lewat Live Session

Pandemi yang sudah berlangsung selama dua tahun ini telah membuat kita semua kembali dari awal. Menyusun ulang rencana dan mulai menata kembali langkah-langkah yang akan diambil. Kini industri sudah mulai...

Keep Reading

Sajian Ska Berbeda dari Slowright

Slowright, unit ska dari kota Malang baru-baru ini telah melepas album mini teranyarnya bertajuk Believe. Dirilis oleh label rekaman yang bermarkas di Yogyakarta, DoggyHouse Records, lewat rilisannya kali ini Slowright...

Keep Reading

Zizi yang Menyapa Kampung Halaman Lewat Hometown Tour

Setelah menyelenggarakan showcase perdananya yang bertajuk Unelevated Intimate showcase di Bandung pada akhir Februari lalu. Kini, Zizi kembali ke rumah tempat ia tumbuh dan menemukan passion terbesar dalam dirinya. Ia...

Keep Reading

Realita Kaum Pekerja di Nomor Kolaborasi Dzulfahmi dan Tuantigabelas

Dzulfahmi, MC dari kolektif Def Bloc dan Dreamfilled yang bermukim di Jakarta baru-baru ini (6/5) telah memperkenalkan karya terbarunya bertajuk “Rotasi”. Lewat rilisannya kali ini Dzulfahmi menggaet salah satu nama...

Keep Reading