Tampilan Art Rock dari Nomor Debut Imajinarium

Imajinarium merupakan trio art rock asal Surakarta, Jawa Tengah. Belum lama ini mereka menelurkan nomor debut mereka berjudul “Sacrifice“. Gandhi Asta (vokal, gitar, synth), Hangga Sakti (bas), dan Bagas Prabowo (drum) mencoba menceritakan sekelumit permasalahan manusia dan alam dalam lagu tersebut.

“Kehadiran manusia sebagai entitas tertinggi menurut banyak paham dan ajaran kini menjadi sebuah pertanyaan besar. Berkah berupa akal dan logika berubah jadi pisau bermata dua, meski sama-sama difungsikan sebagai alat unt

uk bertahan hidup, beberapa manusia memiliki metode yang berbeda-beda dalam melangsungkan kehidupan,” tulis Imajinarium dalam keterangan persnya. Dari landasan itu, mereka menuangkan buah pikir mereka dalam lirik “Sacrifice”.

Mereka merasa bahwa saat ini tragedi terjadi seolah kebetulan, bencana terjadi seolah tidak terduga, dan panen hasil alam terjadi seolah keberuntungan. Manusia gagal dalam membaca hukum alam, di mana mereka seharusnya mengambil dari apa yang diberi, merawat dari apa yang disediakan alam, dan menjaga keseimbangan rantai kehidupan. Ketamakan telah membutakan logika, perasaan dan nurani. Manusia telah banyak mengacau dan cenderung memiliki keinginan untuk meraih kelebihan dibanding yang lain. Siapa saja ingin menjadi lebih kaya, lebih pintar, lebih berpengaruh, lebih berkuasa, lebih terkenal, dan seterusnya.

Biarpun penjelasan mereka terlihat begitu jelimet, mereka tetap bisa menurunkan pemikiran mereka tersebut dalam hal-hal pragmatis.

“Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, tidak melakukan pemborosan terhadap sumber daya dan banyak lagi hal yang mampu kita lakukan yang mampu berdampak baik pada keseimbangan Bumi dan lingkungan hidup,” tulis Gandhi dan kawan-kawan, mencontohkan apa saja yang bisa manusia lakukan untuk menunjukkan cintanya terhadap Bumi.

Dari sisi musikal, Imajinarium menjadikan Pink Floyd dan Led Zeppelin sebagai landasan. Lalu mereka menambahkan isian-isian orkestrasi seperti yang biasa digunakan pembuat scoring film macam Hans Zimmer untuk memperkaya bebunyian mereka. Gabungan yang mereka ciptakan akan memberikan pengalaman lain untuk pendengar dan itu lah mungkin yang bisa menggambarkan musik art rock yang mereka usung.

Teks: Abyan Nabilio
Visual: Arsip dari Imajinarium

Efek Rumah Kaca Bawakan Ulang Lagu Candra Darusman

Candra Darusman, Signature Music Indonesia dan demajors merilis album kompilasi yang menampilkan karya-karya Candra Darusman: seorang musisi, pencipta lagu, penyanyi dan pemerhati hak cipta Indonesia. Kompilasi ini mengedepankan Efek Rumah...

Keep Reading

Ketika BLCKHWK Gambarkan Sisi Alami Sifat Manusia

Di awal tahun 2022 ini, BLCKHWK telah melepas album debutnya bertajuk Decomposing Rotting Flesh. Untuk memperpanjang nafas album, baru-baru ini unit yang dihuni oleh Arison Manalu (vokal),  Billy Rizki (gitar),...

Keep Reading

Karya Baru dan Rangkaian Tur Musik Isman Saurus

Di sekitar akhir 2021 lalu, solis asal Lumajang Jawa Timur, Ismam Surus telah melepas album penuh bertajuk Orang Desa. Sebagai rangkaiannya, di tanggal 24 Maret lalu ia telah melepas sebuah...

Keep Reading

Nuansa Anime di Karya Terbaru Moon Beams

Inspirasi untuk membentuk sebuah band bisa datang darimana saja, termasuk dari sebuah  anime. Jika kalian pernah menonton anime lawas berjudul BECK tentu tak akan asing dengan original soundtrack-nya bertajuk Moon...

Keep Reading