Taliban yang Kian Represif Terhadap Musik di Afghanistan

Beberapa minggu ke belakang, media arus utama di seluruh dunia ramai dengan pemberitaan perihal pendudukan kembali Taliban di Afghanistan. Suasana bergejolak pun tak terelakan. Selang beberapa waktu, Taliban pun mulai membicarakan beberapa kebijakan, salah satunya adalah melarang musik untuk disiarkan di ruang publik.

Beberapa hari lalu, dikabarkan seorang musisi folk asal Afghanistan, Fawad Andrabi, diduga dibunuh oleh gerilyawan Taliban di provinsi Baghlan timur laut Afghanistan. Informasi tersebut muncul seusai Mantan Menteri Afghanistan, Masoud Andarabi mengatakannya melalui unggahan di Twitter pribadinya.

“Taliban’s brutality continues in Andarab. Today they brutally killed folkloric singer, Fawad Andarabi who simply was brining joy to this valley and its people. As he sang here “our beautiful valley….land of our forefathers…” will not submit to Taliban’s brutality,” tulis @andarabi dalam unggahannya di Twitter.

Insiden mengerikan ini tentu telah menghidupkan kembali ingatan para penduduk Afghanistan tentang betapa represifnya Taliban yang menganggap musik sebagai dosa sesuai interpretasinya terhadap hukum Islam.

Taliban sebelumnya datang ke rumah Andarabi dan bahkan minum teh dengan musisi itu, kata putranya Jawad Andarabi. Namun, tidak jelas bagaimana keadaan berubah pada hari Jumat yang menyebabkan pembunuhannya.

“Dia tidak bersalah, penyanyi yang hanya menghibur orang,” kata putranya mengutip dari Indiatoday. “Mereka menembaknya di kepala di pertanian.” Lanjutnya.

Pembunuhan itu terjadi di Lembah Andarabi yang namanya disebut, sekitar 100 kilometer sebelah utara Kabul. Lembah itu telah mengalami pergolakan sejak pengambilalihan Taliban, dengan beberapa distrik di daerah itu berada di bawah kendali pasukan perlawanan yang menentang pemerintahan Taliban. Taliban mengatakan mereka telah merebut kembali daerah-daerah itu, meskipun Panjshir yang bertetangga di pegunungan Hindu Kush tetap menjadi satu-satunya dari 34 provinsi Afghanistan yang tidak berada di bawah kendalinya.

Putranya mengatakan dia menginginkan keadilan dan dewan Taliban setempat berjanji untuk menghukum pembunuh ayahnya. Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan gerilyawan akan menyelidiki insiden itu. Menyusul berita kematiannya, video dia memainkan ghaychak, kecapi, dan menyanyikan lagu-lagu tradisional tentang tempat kelahirannya, orang-orangnya dan Afghanistan menjadi viral di Twitter.

Beberapa hari yang lalu, seorang juru bicara Taliban mengatakan kepada The New York Times bahwa musik di depan umum akan dilarang sekali lagi di Afghanistan, seperti yang sudah terjadi pada masa kekuasaan kelompok itu di 1996-2001.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari berbagai sumber

Tentang Syukur dan Hidup yang Tak Tertebak di Lagu Terbaru Alahad

Beranjak menjadi solis, Alahad, moniker dari Billy Saleh yang sebelumnya dikenal sebagai gitaris dari band rock-alternative Polka Wars akhirnya kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini ia melepas sebuah nomor tunggal teranyar...

Keep Reading

Tambah Line Up, Hammersonic Siap Hadirkan 53 Band Metal dan Rock Dunia!

Setelah mengalami beberapa kali penundaan, festival musik metal raksasa Hammersonic akhirnya dipastikan siap digelar pada awal tahun 2023. Sebelumnya salah satu headliner yakni Slipknot telah mengumumkan konfirmasi lewat unggahan twitter...

Keep Reading

Kolaborasi Selanjutnya Antara Yellow Claw dan Weird Genius

Duo Belanda Yellow Claw kembali berkolaborasi dengan Weird Genius mengusung lagu baru bertajuk ‘Lonely’ bersama finalis Indonesian Idol Novia Bachmid. Weird Genius dan Yellow Claw sebelumnya pernah berkolaborasi di lagu...

Keep Reading

Reruntuhan Akhir Dunia di Album Keempat Extreme Decay

Usai melepas beberapa materi pemanasan menuju album barunya, unit Grindcore kota Malang, Extreme Decay, akhirnya secara resmi melepas album keempatnya pada 29 April 2022 lalu yang diberi tajuk Downfall Of...

Keep Reading