Syair Cinta Untuk Nusantara Dalam Album Baru Krontjong Toegoe

Berada di tepian utara kota Jakarta dan memiliki peninggalan sejarah musikal yang kental dari para leluhur, bagi Krontjong Toegoe, berkarya adalah sebuah keniscayaan. Baginya, persoalan identitas masih menjadi suatu hal yang perlu dibicarakan dalam bermusik. Memiliki darah bangsa Portugis tak serta merta membuat Krontjong Toegoe lupa akan tanah kelahirannya, yaitu Indonesia. Hal ini tergambar dengan jelas dalam album terbarunya yang bertajuk “Madah Nusantara”. Album ini merupakan kado istimewa, karena dirilis tepat dengan perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) yang ke 75 pada 17 Agustus 2020 kemarin. Selain karya musikal yang unik dan sedap didengar, album ini pun kaya akan nilai keberagaman budaya dan bahasa di Indonesia.

“Madah Nusantara adalah kado kami untuk Indonesia pada hari ulang tahunnya yang ke-75. Seluruh rakyat Indonesia berutang kepada negara ini, negara tempat kita lahir, tempat kita mencari makan, tempat kita nanti menutup mata. Ini adalah wujud cinta dan rasa terima kasih kami untuk Nusantara. Ulang tahun Indonesia ke-75 adalah momentum bagi kita semua untuk kembali merasa sebagai saudara satu sama lain, dari Papua hingga Aceh.” Tutur Krontjong Toegoe kepada Siasat Partikelir ketika dihubungi via online.

Dalam albumnya ini, Krontjong Toegoe berupaya mengangkat kekayaan musik asli Indonesia, dalam hal ini adalah lagu-lagu daerah. Setidaknya ada 10 materi lagu daerah yang terhimpun pada album ini. diantaranya Yamko Rambe Yamko (Papua), Kole-Kole (Maluku/Ambon), Benggong (NTB/Manggarai), Sipatokaan (Sulawesi Utara/Minahasa), Ampar Ampar Pisang (Kalimantan Selatan), Tanjung Perak (Jawa Timur), Lir Ilir (Jawa Tengah), Kicir Kicir (Jakarta), Tanah Tugu (Jakarta/Kampung Tugu), dan Bungong Jeumpa (Aceh). Ke semua materi lagu tersebut digubah ke dalam intrumen musik keroncong khas Krontjong Toegoe yang dijamin akan membuat kamu jadi manusia Indonesia seutuhnya kala memutar lagu-lagu itu. Mengingat keroncong merupakan musik asli Indonesia. 

Madah Nusantara sendiri memiliki arti “Madah” yaitu syair-syair pujian dan Nusantara yang berarti nama lain dari Indonesia. Jika diartikan secara sederhana Madah Nusantara merupakan syair-syair yang berisi persembahan cinta untuk Nusantara. Album ini sebetulnya sudah digarap sedari awal tahun lalu, tepatnya pada Februari 2019. Setelah melalui pelbagai proses teknis semacam mixing maupun mastering, karena ada kendala satu dan lain hal, Krontjong Toegoe akhirnya memutuskan melepas album terbarunya pada tahun ini. Selain dari personilnya sendiri, Krontjong Toegoe melibatkan juga orang lain dalam penggarapan albumnya ini, diantaranya musisi senior Waldjinah, Gema Nada Pertiwi sebagai record label dan Yoris  sebagai mastering enginneer muda yang membuat album ini terasa segar dari segi kualitas sound. Dalam lagu “lir-Ilir”, Krontjong Toegoe secara khusus berkolaborasi bersama Waldjinah. Teknis rekaman antar kota pun seketika dilakukan dengan saling kirim file audio secara online, mengingat Waldjinah yang berdomisili  di Solo. 

Materi lagu daerah pun sengaja diangkat untuk menampilkan betapa kaya-nya musik asli Indonesia. Dengan dipadukan dengan musik keroncong, tentu membuat album ini semakin paripurna. 

Krontjong Toegoe - Madah Nusantara

“Karena salah satu kekayaan musik asli Indonesia adalah lagu-lagu daerah, sementara keroncong adalah musik asli Indonesia. Kami ingin dua hal itu digabungkan untuk menunjukkan kebesaran Nusantara dalam segi musik” tutur Krontjong Toegoe 

“Selain itu, lagu-lagu daerah sudah lama sekali ingin kami rekam, bahkan kami merasa belum lengkap berkarya sebelum merekam lagu-lagu daerah kita. Secara musikal, selain lagu-lagu daerah Indonesia bagus-bagus dan unik dari segi notasi dan lirik, keberagaman lagu-lagu itu juga menunjukkan keberagaman kita sebagai bangsa. Keberagaman yang menjadi kekuatan kita. Kami merasa ikut merawat kekayaan dan keberagaman Nusantara dengan merekam lagu-lagu daerah kita.” lanjut Krontjong Toegoe.

Jika dibandingkan dengan album-album Krontjong Toegoe sebelumnya, seperti Di Pesisir Utara (2017) atau De Madjikers (2018), dari segi tema album ini jelas sangat  berbeda. Sedangkan dari sisi musikalitas album ini terasa begitu segar dan matang. Hal ini tak bisa dilepaskan juga dari keterlibatan sosok Yoris dibalik meja produksi. Selain tema dan sisi musikalitas, segi teknis produksi selama proses pun cukup berpengaruh besar.

“Perbedaan lainnya adalah untuk semua lagu, kami menggunakan upright bass (bass betot). Kami menemukan bahwa rekaman dengan bass betot ternyata lebih cocok dengan apa yang kami impikan sebagai sound kami. Selain itu, semua alat musik direkam menggunakan mikrofon, tidak ada yang direkam dengan perantaraan kabel.” ungkap Krontjong Toegoe.

Tak bisa dipungkiri, saat ini merilis lagu tunggal atau single sedang menjadi tren di kalangan pemusik. Krontjong Toegoe  memutuskan untuk merilis album penuh didasari atas obsesi dan jalan terbaik, mengingat materi dalam album ini sepenuhnya adalah lagu-lagu  daerah sehingga kurang pas jika hanya dirilis per-single. 

“Kami tidak bisa membayangkan merilis single secara berturut-turut, sementara semua single itu adalah lagu daerah. Sepertinya kurang bagus. Kesamaan sifat lagu-lagu itu sebagai lagu daerah juga membuat kami memutuskan bahwa yang terbaik adalah merilis lagu-lagu itu sebagai album. Selain itu, perilisan Madah Nusantara adalah bagian dari obsesi kami untuk terus merilis album secara konsisten” ungkap Krontjong Toegoe.

‘Krontjong Toegoe’ sendiri adalah salah satu grup musik keroncong yang ada di Kampung Tugu, Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Kelompok musik yang sudah terbentuk sejak  12 Juli 1988 ini dibidani oleh seorang Tugu, Andre Juan Michiels. Istilah “Tugu sendiri adalah sebutan bagi keturunan Portugis di Jakarta. Krontjong Toegoe terbilang kelompok musik yang membawakan warna asli dalam khasanah musik keroncong. Hal ini tak bisa dilepaskan dari awal mula datangnya bangsa Portugis ke Indonesia pada abad ke 15 silam yang berlabuh di utara kota Batavia (kini Jakarta) –tepatnya di Kampung Tugu, dimana musik keroncong ini hadir dalam sejarah kedatangannya tersebut. Musik keroncong  akhirnya berevolusi ke dalam banyak warna dan mulai diapatasi ke dalam warna musik pelbagai daerah di Indonesia sampai berevolusi ke tarapan musik yang lebih modern. 

Memasuki usia 32 tahun perjalanan bermusiknya, kelompok ini kini diisi oleh Andre Juan Michaels (vokal), Arend Stevanus Michaels (violin), Milton Augustino Michaels (macina), David Kristomi (prounga), Arthur James Michaels (bass), Muhammad Fuad Rizqi Ramadhan (rebanda), Ignatius Loyola Djeer (gitar), Nicolaus Payong Olah Naran (cello), Rafika Fabiola (vokal), dan Saartje Margaretha Michaels (vokal). Krontjong Toegoe merupakan turunan ke sebelas dari keluarga besar Michaels. 

Bagi Krontjong Toegoe, perjalanan kancah musik keroncong hari ini pun tak sekedar bertahan, tapi kian berkembang. Hal ini ditandai dengan banyaknya komunitas musik keroncong yang intens menghasilkan banyak karya. Selain itu perkembangan ini pun turut didorong juga dengan adanya acara tahunan seperti Solo Keroncong Festival (SKF) yang menjadi sumbangan penting akan eksistensi musik ini. Selain itu keberadaan lembaga pendidikan pun turut memajukan juga musik keroncong.

“Salah satu kenyataan yang menggembirakan juga adalah adanya universitas seperti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung yang kehidupan berkeroncongnya sangat menggeliat. Lalu mereka, anak-anak UPI itu juga banyak yang menulis skripsi tentang keroncong, khususnya tentang alat-alat musik keroncong di Tugu. Jadinya seperti “keroncong goes academic” begitu, keroncong jadi bagian dari kegiatan dan bahan penelitian akademis” tutur Krontjong Toegoe.

Secara internal, Krontjong Toegoe pun terus berupaya merangkul dan mengenalkan musiknya kepada lebih banyak pendengar dari pelbagai lapisan. Ditengah situasi pandemi yang saat ini belum mereda, dengan masih diberlakukannya pembatasan fisik, mereka tetap produktif melakukan kolaborasi dan rekaman secara daring. Seperti yang dilakukannya baru-baru ini dalam penggarapan cover lagu “Stambul Baju Biru” dan rekaman daring yang berkolaborasi dengan 7 Harpa yang diprakarsai oleh Haya Hasan.

“Dari segi pengembangan, semakin banyak juga kolaborasi dengan jenis musik lain. Kami, Krontjong Toegoe dalam beberapa tahun terakhir juga intens berkunjung ke tempat-tempat di luar Jakarta sebagai bagian dari mencari dan merangkul penggemar, pegiat dan komunitas baru.” pungkas Krontjong Toegoe.  

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Krontjong Toegoe

Kolaborasi Selanjutnya Antara Yellow Claw dan Weird Genius

Duo Belanda Yellow Claw kembali berkolaborasi dengan Weird Genius mengusung lagu baru bertajuk ‘Lonely’ bersama finalis Indonesian Idol Novia Bachmid. Weird Genius dan Yellow Claw sebelumnya pernah berkolaborasi di lagu...

Keep Reading

Reruntuhan Akhir Dunia di Album Keempat Extreme Decay

Usai melepas beberapa materi pemanasan menuju album barunya, unit Grindcore kota Malang, Extreme Decay, akhirnya secara resmi melepas album keempatnya pada 29 April 2022 lalu yang diberi tajuk Downfall Of...

Keep Reading

KIAMAT Bagi Rekah di Album Perdananya

Sejak kemunculannya di medio 2015 lalu, unit skramz/blackgaze Rekah sudah mencuri perhatian dengan materi-materi musiknya. Tujuh tahun berlalu, bertepatan dengan Hari Buruh Internasional yang jatuh di awal Mei 2022 lalu,...

Keep Reading

Indra7 Lepas Gabriel EP Lewat Dead Pepaya

Di kancah musik elektronik, nama Indra Asikin Isa atau yang lebih akrab disapa Indra7 tentu tak bakal asing di telinga kita. Perjalanannya merentang panjang. Jejaknya bisa kita simak diberbagai medium...

Keep Reading