Duo Garage Punk asal Lombok, Sundancer, baru saja menelurkan debut mini album mereka pada 18 Oktober 2018 yang lalu. Sundancer awalnya terbentuk karena kegelisahan Oom Robo, gitaris sekaligus pencetus ide awal, yang sudah lama tak memiliki karya baru. Pemilihan nama Sundancer pun sederhana, dipilih agar terkesan eksotis seperti pulau tempat dimana mereka tinggal.

Bowo adalah seorang veteran musik yang pulang kampung ke tempat ia dibesarkan, Mataram. Dalam kurun waktu tertentu, ia mencoba menawarkan konsep bermusik ke sejumlah orang muda yang ia temui di Mataram. Konsepnya kurang diminati.

Setelah mentok, ia menemukan Decky Jaguar untuk diajak bermusik bersamanya. Pemilihan Decky sederhana. ”Decky aku pilih karena dia antusias ketika diajak bikin musik. Dia itu disuruh apa saja bisa dan melakukannya 100%. Plus dia banci tampil dan sangat aktraktif di panggung,” ujar gitaris yang selalu memakai topeng ketika tampil live ini.

Materi Sundancer sudah ditulis lebih dulu. Proses penggarapan albumnya terhitung cepat, hanya enam bulan sampai akhirnya dirilis. Ketergesa-gesaan ini harus bisa dimaklumi. Sesuatu yang lama tak dikeluarkan ketika dikeluarkan akan menjadi gairah. “Lagian musiknya rock n roll kok, nggak susah-suah amat,” canda Oom Robo.

Kalau mendengarkan musiknya, ada unsur riang dan sederhana. Simak saja lagu Musim Bercinta yang jadi single pertama. Lagu ini menggambarkan semangat usia belasan yang menghentak. Mereka mengakui bahwa musiknya didesain sedemikian gampang agar mudah dipahami dan disukai. Begitupula lagu-lagu lain seperti Durjana, Musibah, Kisah Pilu dan Daur Bersama.

Secara tema, Sundancer mengemas lagu-lagu cinta menjadi tak cengeng, chessy dan puitis secara pemilihan judul. Untuk yang terakhir, ia mengatakan bahwa Rhoma Irama Irama dan Soneta lah yang memberikan inpirasi dalam pemilihan judul. “Kita berdua itu warga Pulau Lombok yang baik, Raja kita ya, Tuan Haji Rhoma Irama,” ungkap Oom Robo lagi.

“Kalau riset ku tentang musik Garage ya gitu sih, liriknya juga cinta-cintaan, tapi kemasannya aja yang beda, coba deh dengerin lgunya The Mummies yang judulnya Stronger Than Dirt,” jelasnya lebih lanjut.

Sundancer telah merencanakan akan mengeluarkan EP sekali lagi enam bulan ke depan. Setelah mengeluarkan EP dua kali baru full album akan mereka keluarkan. “Rencananya sih gitu, semoga nggak ada halangan, yang penting sudah ada rencana,” kelakarnya.

Selayaknya band yang tak puas hanya pada fase merilis karya, Sundancer juga berencana akan melakukan tur bersama. Tour akan dilakukan di tiga kota. Jakarta pada 22 November, Bandung 23 November dan di Kota Bogor sebagai penutup pada tanggal 25 November. Tur akan dilakukan bersama The Dare, salah satu band lain yang juga berasal dari Lombok. Rekan-rekan dari Kolibri Rekords dan Lamunai Records membantu mereka mengorganisir tur ini.

Ketika ditanya apa harapannya ke depan, Bowo mengakui ingin menguasai dunia dengan musiknya. “Lho, emang kenapa? Gue pengen kelihatan optimis,” tegasnya. EP mereka sudah bisa didapatkan di lapak penjual rilisan fisik, dan juga dilayanan musik streaming. Menarik disimak dan diikuti jejak langkahnya. (*)

 

Teks: Rio Jo Werry
Foto: Dok. Sundancer