As you swipe across your smartphone screen, have you ever considered what lies behind the image and where it came from? All smartphones contain tin, the mineral expected to be impacted most by technology, and a third of its world supply comes from Bangka Island, Indonesia. Rizaldi’s playful essay cuts to the core of neo-colonial labor, quelling the myth of immateriality in the digital age.

– Julian Ross (Locarno Film Festival)

Kutipan di atas merupakan catatan yang dipublikasikan Locarno Film Festival (salah satu festival film internasional prestisius di Swiss yang mulai diselenggarakan sejak tahun 1946) dalam situs resmi mereka untuk karya Riar Rizaldi bertajuk Kasiterit. Sebuah karya yang menelusuri jejak salah satu material dasar yang penting dalam perkembangan era digital saat ini. Keterlibatan karyanya dalam perhelatan tersebut merupakan pencapaian yang signifikan sebagai sutradara film.

Namun, nama Riar Rizaldi juga seringkali muncul tidak hanya sebagai sutradara, tetapi juga sebagai seniman, musisi, hingga kurator. Dalam usia yang masih muda (lahir di Bandung pada tahun 1990), Riar yang saat ini tengah menempuh pendidikan doktor di City University, Hong Kong, hadir sebagai sosok paling potensial dalam medan artistik Indonesia. Berikut adalah obrolan singkat dengan Riar terkait perjalanan artistik serta ragam proyek yang pernah ia lakukan.

(Instalasi karya bertajuk Kasiterit yang ditampilkan di Hidden Space, Hong Kong, tahun 2019, dok: Riar Rizaldi)

Bisa dijelaskan sedikit terkait latar belakang pendidikan lo dan kapan pertama kali berkarier sebagai seniman? Pameran apa dan menampilkan karya apa?

Gue lahir dari keluarga yang sama sekali buta seni. Keluarga gue berlatar belakang dunia pendidikan, nyokap gue dosen linguistik dan bokap gue pensiunan staf di Kementerian Pendidikan. Beruntungnya dari kecil gue suka sekali menonton film. Sinema buat gue adalah sekolah malam hari dan yang berkontribusi paling besar untuk pendidikan dalam hidup gue.

Meskipun secara formal gue mengalami jenjang pendidikan yang memang terstruktur, hierarkikal dan linear, ironisnya gue sangat membenci sekolah sebagai sebuah institusi. Sebenarnya, gue gak merasa diri gue ‘berkarier’ sebagai seniman. Meskipun gue mengkategorikan diri gue sendiri sebagai seniman, sebagai sebuah bentuk tenaga kerja dan identifikasi di Dinas Perpajakan, gue tidak begitu yakin dengan istilah ‘karier’ itu sendiri.

Dalam berkarya gue gak pernah punya goal dan batasan, jadi gue agak bingung kapan dan di mana sebenarnya gue memulai semuanya. Tapi kayaknya kalau “dicap” atau “diakui” sebagai seniman mungkin hal itu natural aja datang karena pendidikan formal gue yang memang akhirnya melegitimasi bahwa gue adalah seniman dan juga karena kebetulan gue aktif di medan seni itu sendiri.

Istilah seniman ini yang pada akhirnya memang divalidasi oleh institusi. Jadi jawabannya dari kapan kali pertama gue merasa seniman, berkarya, dan apa karyanya adalah semenjak pertama kali dilegitimasi institusi.

Bagaimana dengan dokumenter BISING? Perihal proses dan ide awalnya. Apakah beririsan juga dengan proyek Salon yang dibentuk tahun 2015?

Oh iya, mungkin BISING bisa dibilang salah satu karya yang skala investasinya dalam bentuk waktu, materi dan tenaga lebih banyak di awal-awal gue merasa ‘berkarya.’ BISING diinisiasi oleh Danif Pradana dan Adythia Utama. Gue join belakangan sebagai usaha kolaboratif. Gue merasa ada banyak gagasan menarik dari scene noise di Indonesia yang sebenarnya penting untuk segera didokumentasikan.

Ide awalnya ambisius; menginvestigasi sejarah musik noise di Indonesia. Hasil akhirnya sangat simple; merekam para pelaku musik eksperimental dan noise di Indonesia. Dalam prosesnya, niat-niat ambisius harus berbenturan dengan banyaknya kendala dan keterbatasan. BISING mulai dikerjakan pada tahun 2010 dan ditayangkan perdana pada tahun 2014.

Beririsan dengan Salon? Mungkin beririsan tapi tidak secara langsung. Salon sebenarnya lebih diniatkan sebagai platform yang lebih eksperimental, sedangkan BISING memang murni usaha pendokumentasian. Meskipun pada akhirnya gagasan dokumentasi pun menjadi krusial di Salon.

(Salon sendiri merupakan platform pertunjukan dan diskusi bunyi dan musik yang dibentuk oleh Riar Rizaldi dan Haikal Azizi (Bin Idris) bersama penulis (Bob Edrian) serta Duto Hardono. Gagasan awalnya hadir ketika Riar dan Haikal mendapat kesempatan untuk tampil dalam perhelatan Asian Meeting Festival 2015 di Tokyo, Jepang. Salon sudah digelar sebanyak 7 kali (sejak volume 1 di tahun 2015, hingga volume 7 di tahun 2018) di Bandung dan Jakarta. Belum ada kesepakatan terkait kelanjutan Salon hingga saat ini.)

Belakangan juga sempat menjadi kurator untuk perhelatan seperti Indonesia Netaudio Festival 3 (INF 3) tahun lalu dan yang akan datang bersama Japan Foundation Asia Center dan NTT/InterCommunication Center (ICC), apakah menjadi kurator juga salah satu proyeksi karier lo? Perbedaan menarik apa yang lo rasakan ketika beraktivitas sebagai seniman dan kurator?

Seperti yang tadi gue jawab di pertanyaan pertama, gue gak punya proyeksi apa-apa tentang karier. Mungkin apa yang gue lakukan sekarang sebenarnya lebih fluid aja, atau seperti slogan yang kawan-kawan di Hong Kong gunakan saat ini “Be water.” Gue gak melihat karier ke depan, gue melihat apa yang gue bisa lakukan hari ini dari serangkaian kesempatan yang ditawarkan kepada gue.

Gue bersyukur gue bisa mendapatkan privilese untuk merancang sebuah proyek kuratorial dengan pendekatan yang lebih bebas. Perbedaan signifikan beraktivitas sebagai seniman dan kurator adalah pola komunikasi. Ketika gue berkarya sebagai seniman gue kebanyakan berdiskusi hanya dengan diri gue sendiri dan ide yang ingin gue kembangkan—dan juga mungkin kurator pameran dan partner gue.

Tapi ketika gue mengkurasi, pola komunikasi gue akan lebih kompleks. Gue harus berkomunikasi dengan baik dengan semua kawan yang terlibat dalam sebuah proyek. Gue juga harus bisa membuka diri gue sendiri untuk selalu mencari dan tidak berada dalam tempurung.

Selain itu gue harus banyak bernegosiasi dengan orang-orang yang ngasih duit. Jadi mungkin selain pola komunikasi itu, gue tidak membedakan proyek-proyek kuratorial yang gue lakukan, di INF, ARKIPEL, maupun yang akan datang ini, dengan praktik artistik gue yang lainnya.

(Suasana Pembukaan Indonesia Netaudio Festival 3 tahun 2018, dok: INF)

Bagaimana proses terlibat di Locarno International FIlm Festival? Dan sejauh ini perhelatan apa yang menurut lo paling menarik atau menantang selama berkarier sebagai seniman?

Bulan Juli lalu gue mendapat kesempatan untuk berpameran tunggal di sebuah artist-run initiative menarik di Hong Kong bernama Hidden Space. Dalam 3 minggu pameran di situ, salah satu dari programmer Locarno sempat melihat karya gue Kasiterit. Setelahnya dia meminta file screener dari karya gue tersebut untuk dia perlihatkan ke artistic director Locarno. Selang beberapa bulan kemudian, gue dikontak untuk memutar karya gue Kasiterit di Locarno Agustus ini.

Selama gue berkarya, proyek paling menarik dan menantang yang pernah gue alami adalah residensi dan laboratorium Animistic Apparatus yang diinisiasi oleh May Adadol Ingawanij di Thailand. Animistic Apparatus mengundang penulis, filmmaker, seniman, dan kurator dari Asia Tenggara untuk merasakan dan membedah praktik pemutaran film yang ditujukan bukan untuk manusia, tapi untuk roh-roh halus yang menghuni alam. Dalam praktiknya, para peserta residensi bekerja bersama si pemutar film di provinsi Udon Thani yang nyaris berbatasan dengan Laos.

Selama tujuh hari kami berada di hutan dan kuil-kuil. Kami menghabiskan waktu untuk mengamati makna animistik dan teknologi. Praktik artistik dalam proyek ini menurut gue jadi tidak penting lagi ketika gue dihadapkan oleh dunia baru yang begitu inspiratif. Proyek ini secara radikal mengubah pandangan gue akan hubungan budaya (culture) dan alam (nature).

Di lain sisi, persoalan yang selama ini bukan menjadi fokus gue, yaitu dekolonialisasi, menyeruak ketika gue mulai mempertanyakan identitas dan budaya gue sendiri sebagai manusia modern dari Asia Tenggara. Pemahaman dari konsep modern itu sendiri pun mulai gue gali lagi. Pertanyaan-pertanyaan tentang teknologi yang selama ini gue coba jabarkan gue rekonfigurasi ulang setelah gue mengalami Animistic Apparatus. Jadi mungkin proyek ini bukan hanya menantang dan menarik tapi juga mengubah pola pikir.

Cerita sedikit dong soal proyek publikasi New Pessimism, dan proyeksi kekaryaan lo di masa mendatang.

New Pessimism diinisiasi oleh gue dan partner gue Natasha Tontey. Proyek ini awalnya bertujuan untuk mempublikasikan hasil karya gue dan Natasha yang sifatnya teks. Selain itu, New Pessimism juga dirancang untuk memberikan platform buat penulis dan teoritikus untuk mempublikasikan karyanya secara Do-It-With-Others (DIWO) dan kooperatif.

(Publikasi pertama New Pessimism, Pest to Power oleh Natasha Tontey, dok: Riar Rizaldi)

Kami melihat publikasi sebagai perpanjangan dari kekaryaan kami. Di lain pihak, kami juga ingin karya kawan-kawan yang bersifat teks dan teori bisa dipublikasikan secara bersama-sama. Gotong royong dengan budayaDo-it-Yourself (DIY).

Untuk proyeksi kekaryaan di masa mendatang; saat ini gue sedang dalam tahap pre-produksi karya video baru yang sifatnya lebih ‘film panjang,’ gue ingin mengadopsi cerpen kontroversial Kipandjikusmin “Langit Makin Mendung” ke dalam format video-essay dalam konteks teknologi masa kini.

Kalau lo pernah baca teksnya mungkin lo familiar dengan narasinya yang diambil dari perspektif orang pertama, hanya di sini bukan Indonesia akhir 60-an yang diobservasi tapi bagaimana Indonesia sebagai konsep negara bangsa melihat perkembangan tekno-kapital di masa kiwari.

Di luar itu, gue sedang fokus mengerjakan proyek kolaborasi bersama NTT ICC Tokyo untuk traveling exhibition di Singapura dan Tokyo yang akan melibatkan seniman-seniman Asia Tenggara dan Jepang. Proyek ini mencoba untuk melihat pemaknaan ‘masa depan’ yang sifatnya beragam.

(Publikasi pertama New Pessimism, Pest to Power oleh Natasha Tontey, dok: Riar Rizaldi)

Teks: Bob Edrian
Visual: Arsip Riar Rizaldi