Brandon Hilton: Rock In Celebes Yang Makin Berwarna

Masih teringat jelas diingatan, Rock In Celebes 2010 adalah event musik yang pertama kali saya datangi. Selepas maghrib, saya diajak oleh ayah untuk ke venue kala itu. Gemuruh musik ultra cadas sudah terdengar dari tempat antrian tiket, seperti sebuah penyambutan untuk saya. Yang sedang tampil saat itu adalah unit death metal dari Makassar, Critical Defacement. Kebetulan sekali saya sedang puber musik keras dan lagi berapi-api untuk menggali segala informasi terkait musik jenis ini. Jiwa metalku bergelora di Rock In Celebes 2010  dengan semua penampilnya. Saya tidak akan lupa betapa mencekamnya saat giliran Marduk, unit black metal legendaris dari Swedia, mengambil alih panggung.

Foto oleh Syahrasi (Rock In Celebes 2010)

Sejak saat itu, Rock In Celebes menjadi salah satu event musik tahunan yang paling dinanti. Ada banyak sekali grup musik nasional hingga internasional yang sudah menjajal panggung Rock In Celebes. Nama-nama seperti Burgerkill, Komunal, Seringai, The Sigit, Koil, Rocket Rockers, Deadsquad, Musikimia, Kapital, Netral (sebelum berganti nama menjadi NTRL), Superman Is Dead, Marduk, Suffocation, Psycroptic, Secondhand Serenade, Dashboard Confessional, juga berbagai grup musik dari dalam dan luar Makassar. Maka tidak berlebihan jika saya menyebut Rock In Celebes adalah salah satu event musik terbesar di Indonesia dan menjadi salah satu event musik yang paling diperhitungkan kehadirannya. Grup musik besutan teman dan orang lain (yang akhirnya menjadi teman) sudah banyak yang tampil di sini. Hal yang masih sampai sekarang menyenangkan adalah melihat grup band teman tampil di festival musik ini. Lebih senang lagi ketika diajak featuring.. yyyhhhaaa!

Makin kesini, Rock In Celebes makin berwarna dan bergairah. Alasannya adalah dari beragam jenis musik yang dihadirkan,  bukan melulu band beraliran rock dan ultra cadas seperti biasanya. Awalnya saya sedikit terkejut, alis saya nyaris bersatu, namun sebagai aktivis mosh pit, senang rasanya jika ramai berseliweran wangi parfum dan banyak wajah-wajah unyu dan manis. Tidak hanya melihat wajah-wajah garang, gondrong-gondrong serba hitam dengan aksesoris bermotif tengkorak.

Tahun ini Rock In Celebes sudah memasuki usia satu dekade. Ada banyak event musik besar, tapi hanya sedikit yang mampu bertahan, konsisten, dan tidak segan menggandeng penampilnya untuk bekerjasama. Hal ini yang saya lihat pada Frontxside, unit Hardcore dari Makassar yang sudah sampai ditahun ketujuh tampil di Rock In Celebes dan sudah merilis Gnothi Seauton, album penuh perdana di bawah bendera Rock In Celebes dan Sepsis Records tahun 2018. Unit ini paham benar cara mengolah ekposur yang didapatkan dari tampil di panggung Rock In Celebes.

Perayaan satu dekade Rock In Celebes kali ini menarik bukan tanpa sebab, atau karena orang dalam. Saya tertarik dengan sayembara membuat kartu ulang tahun. Banyak desain yang berseliweran di lini masa mulai dari desain yang apa adanya, serius, bahkan nyeleneh. Tidak tanggung-tanggung, hadiahnya adalah sepuluh tiket VIP. Selain itu, suguhan “Visual Art Collaboration” melalui program #SiasatTrafficking yang menggandeng tiga seniman terpilih dari Malang dan Makassar turut memperkaya warna event musik yang mana sebagian besar visual art-nya dikerjakan oleh Benang Baja sebagai salah satu kolaborator utama.

Selain dua hal yang telah disebutkan di atas, ada satu lagi yang sangat mencuri perhatian saya. Apa itu? yaitu program “Submission Showcase”. Opsi musik yang segar dari beragam grup musik tersedia di sini. Tidak hanya diberi ruang untuk tampil, panggung ini  juga membuka kesempatan untuk bekerjasama dalam kegiatan atau berbagai program Siasat Partikelir yang akan datang. Hal yang sudah dirasakan oleh Natinson. Secara spesial, beberapa waktu lalu mereka sukses menuntaskan tur di Bandung, Purwokerto, Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, hingga Malang dalam rangkaian The All Time Tour, serta menjadi penampilan di Soundrenaline 2019. Rock In Celebes bukan hanya menyelenggarakan festival musik semata, lebih dari itu, mereka menggaet talenta-talenta berpotensi, bekerjasama, dan pada akhirnya berkembang dan maju.This is what music festival all about. Mengolah eksposur yang besar menjadi sebuah

Festival musik besar di suatu tempat atau kota, tidak bisa serta merta dijadikan acuan dasar sebuah perkembangan atau bahkan kemajuan. Pilihan potensi dari berbagai talenta, kesempatan, dan peluang untuk berkembang dan maju akan terus ada, dan untungnya, berbagai pegiat musik di kota ini menolak untuk kehabisan ruang. Selain pasar, ruang juga bisa diciptakan bukan? Hal inilah yang diamini dan dijalankan oleh Roostereast Familia, WildPunx Kolektiva, Tanah Indie, Rockfort, Prolog, dan masih banyak lagi pegiat lainnya. Mulai dari gigs hingga talkshow punya tempat dan penikmatnya.

Teks: Brandon Hilton
Visual: Arsip Dari Berbagai Sumber

PARTIKILAS Part II: Favorit Siasat Partikelir di 2021

Ada begitu banyak jumlah karya yang dirilis oleh para musisi di sepanjang tahun 2021. Seperti yang sudah diulas dalam Partikilas Part I, berdasarkan pantauan di email Siasat Partikelir, setiap harinya...

Keep Reading

PARTIKILAS Part I: Mereka yang Berbagi Kabar di 2021

Untuk menyambut tahun 2022 yang penuh harapan, di bawah ini kami menyuguhkan kilas balik yang bersumber dari data dan dokumen internal Siasat Partikelir di sepanjang tahun 2021.

Keep Reading

5 Alasan Kenapa Rock In Celebes 2021 Begitu Penting Untuk Disimak

Memasuki tahun ke-12, Rock In Celebes kian menunjukan taji atas kiprahnya di ranah festival musik. Tahun ini, festival yang berbasis di pulau Sulawesi tersebut kembali menggulirkan agendanya dan akan digelar selama 10...

Keep Reading

Interview: Caccia dan Perjalanannya Menyusuri Musik

Apa rasanya bisa band-bandan dengan pasangan? Caccia mungkin salah satu dari beberapa unit musik yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Duo asal Jakarta ini dimotori oleh sepasang kekasih, Anya (vokal) dan...

Keep Reading