“Lagu-lagu kami akan enak bila dipakai sembari bermain skateboard”

Kutipan di atas merupakan pernyataan yang keluar melalui mulut seorang vokalis dari band pendatang baru asal Bandung bernama The Hollowcane. Mereka terdiri dari Ega (gitar & vokal), Ilham (Bass), Mario (gitar), Dicky (drum), dan Anjar (synthesizer). Melalui single bertajuk “Sound of the Mountain” yang dirilis pada 7 Juni 2019, kelompok tersebut pun mulai menampakkan ekistensinya pada berbagai panggung.

“Nama The Hollowcane ini sudah didapatkan lama sebelum band ini terbentuk,” kata Egga yang memiliki kegemaran untuk mencari kata-kata bagus untuk dijadikan stok bila suatu saat ia perlu menamai sesuatu.  “Awal terbentuknya itu gara-gara saya membentuk band berdua bersama Dicky pada tahun 2018 akhir, tapi setelah lagunya jadi, kami merasa masih ada yang kurang,” tambahnya.

Setelah menyadari kekurangan tersebut, pencarian personil tambahan pun dimulai. Bersama Dicky ia sempat merekrut Rangga “Cepot” dari band Nemesis untuk mengisi vokal. “Itu gara-gara saya tidak bisa nyanyi sebenarnya,” ungkapnya, namun kerjasama tersebut tidak berlangsung lama. Kelahiran The Hollowcane akhirnya harus tertunda.

Setelahnya, Egga dikenalkan temannya kepada seorang sound designer dan mencoba membuat dummy lagu. “Ternyata hasilnya tidak terlalu buruk saat saya bernyanyi, maka akhirnya saya pun menjadi vokalis The Hollowcane sampai hari ini,” jelasnya. Kemudian mulailah mereka merekam materi album debutnya. Proses tersebut berlangsung dari Februari hingga April 2019.

Kabar kelahiran proyek The Hollowcane rupanya cepat menyebar. Tawaran untuk tampil akhirnya banyak berdatangan. Egga lantas bertemu dengan rekan kerja lamanya, yaitu Ilham dan mengajaknya untuk mengisi posisi Bass pada proyeknya tersebut.

“Tapi kehadiran Ilham rupanya masih belum mengisi sepenuhnya, kami merasa tetap masih ada yang kurang, dan kami duga itu karena kurangnya skill bermusik kami semua,” tutur Egga sembari tertawa. Maka ia pun mengajak Mario (Rusa Militan) agar mampu menjawab ketidakpuasan tersebut.

Anjar mulai bergabung setelah penampilan pertama The Hollowcane pada sebuah acara radio. “Saya rasa waktu itu The Hollowcane perlu menambah satu instrumen lagi supaya lebih manis,” kata Egga. Maka formasi 5 orang tersebut tetap solid sampai sekarang hingga mampu meluncurkan single “Sound of the Mountain” sebagai perkenalan untuk album penuh mereka yang akan segera dirilis.

Egga merasa musik The Hollowcane memang tepat untuk digambarkan seperti kutipan di bagian atas artikel. “Kami sebenarnya membebaskan pendengar untuk mendefinisikan musik The Hollowcane seperti apa, tapi sepertinya boleh juga digambarkan sebagai musik yang enak didengar pada saat bermain skateboard,” ungkapnya.

Hal tersebut bukan tanpa alasan, itu dikarenakan pada saat membuat materi-materi The Hollowcane, Egga sedang teringat soundtrack-soundtrack pengisi video-video skateboard yang ia sering simak pada era 2000-an awal. “Sebenarnya kebetulan saja terkenang dikepala, tapi musik-musik seperti itu bagi saya cukup berkesan. Nada-nadanya cukup memacu adernalin”.

Dari 10 lagu yang direkam, The Hollowcane telah memilih 9 tembang untuk menjadi nomor-nomor pada album debutnya kelak. Menurut Egga, tema besarnya adalah tentang self-reflection. “Tema tersebut juga nantinya tercermin pada artwork-nya. Untuk menggarapnya kami bekerjasama dengan seorang illustrator asal ukraina,” tutupnya.

Album perdana tersebut disinyalir akan segera meluncur dipenghujung tahun 2019 ini, tapi itu masih belum pasti. Tidak apa-apa. Karya bagus memang butuh waktu. Sialnya, sampai hari ini saya belum bisa bermain skateboard. Semoga, album The Hollowcane masih bisa cocok untuk aktifitas lainnya. Sambil tiduran, mungkin?

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip The Hollowcane