Banyak hal yang menarik untuk dibahas bila kita tengah membicarakan kota Pontianak, salah satunya adalah tentang macam-macam gerakan kolektif di dalamnya. Di sana, saya bertemu Dana. Seorang pegiat event yang bernaung di bawah bendera bernama Sindikat Milenial.

Sindikat Milenial diinisiasi oleh Dana dan beberapa orang temannya di sekitaran penghujung 2016. Awalnya, mereka hanya berniat untuk melibatkan unit kegiatan masyarakat dan seniman-seniman visual lokal dalam tiap kegiatannya, namun dalam perjalanannya agenda-agenda kolektif tersebut pun selalu menjadi wadah bertemu bagi lintas disiplin. Musik, misalnya.

“Sindikat Milenial tidak memililiki struktur organisasi, kita berangkat dari lingkaran pertemanan dan bila sedang menggarap event, semua hal dikerjakan bareng-bareng,” ungkap Dana. “Acara kita pada mulanya hanya berkutat seputar mengangkat ukm-ukm dan visual artist saja, namun pada akhirnya kita pun terkoneksi dengan banyak bidang, musisi misalnya, dan pada akhirnya event-event garapan kita selalu melibatkan banyak pihak dari bebagai macam profesi”.

Lalu, pria berusia 25 tahun tersebut pun menceritakan bahwa Sindikat Milenial terbuka bagi siapa saja yang ingin bekerjasama, entah dari komunitas lain atau bahkan korporasi. Baginya, perusahaan besar boleh saja melibatkan diri dalam agenda kolektifnya selama mereka memiliki tujuan sejalan.

“Kebanyakan gerakan kolektif kan biasanya tidak mau bekerjasama dengan korporasi, karena alasan takut diubah konsep acara garapannya. Nah, kalau kita tidak. Selama perusahaan besar itu bisa sejalan pemikirannya dengan kami, yaitu menciptakan wadah kolaborasi lintas disiplin, kami bisa cukup santai. Soal proposal, revisi, dan penyesuaian konsep jadi tidak masalah,” katanya.

Menurut Dana, usaha memperlebar jaringan kerja sama hingga ke tingkatan perusahaan besar, adalah usaha agar Gerakan dari Sindikat MIlenial dapat sustainable. “sebuah Gerakan kan kadang-kadang tidak berkelanjutan gara-gara mentok sama urusan uang. Maka dari itu kita membuka pintu-pintu uang dari semua arah”.

Tidak adanya struktur organisasi dalam Sindikat Milenial pun bagi Dana malah mempermudah cara kerja. Dikarenakan para personilnya memiliki kegiatan masing-masing di luar kolektif tersebut, maka tiap anggota lainnya dapat mengisi bila terjadi kekosongan posisi. Bila masih kurang orang, volunteer adalah jawabannya.

Soal volunterisme, Sindikat Milenial pun terkoneksi dengan unit-unit kegiatan di kampus-kampus Pontianak. Menurutnya, para mahasiswa saat ini memilliki ketertarikan dalam menggarap sebuah event, namun perlu ada sosok yang bisa memberikan pengarahan.

“Mereka itu tertarik banget untuk terlibat dalam suatu usaha menggarap sebuah event. Mereka tenaganya besar banget dan selalu bersemangat untuk bekerja. Tapi, memang perlu ada yang ngasih arahan, karena mahasiswa kebanyakan ilmunya masih minim untuk soal-soal lapangan,” jelas Dana.

Adanya usaha pendekatan Sindikat MIlenial kepada para pelajar di kampus-kampus Pontianak juga dikarenakan proses regenerasi yang kini sulit digalakan. “Regenerasi kita ini saya rasa mentok karena mobile game,” jelasnya. Maka dari itu, ia melakukan “jemput bola”, untuk menumbuhkan rasa ketertarikan mereka.

Sindikat Milenial adalah tunggangan Dana dan teman-temannya untuk menorehkan warna di Pontianak. Di bawah terik matahari kota khatulistiwa, sampai saat ini mereka masih tetap bertahan pada prinsipnya dan mencoba menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan zaman yang senantiasa menggempur dari banyak arah.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Sindikat Milenial