Satria T. Nugraha adalah seniman asal Bandung yang kini menghabiskan waktunya di Bali. Dengan mengangkat seni printmaking atau seni grafis, ia menancapkan tajinya dalam kancah kesenian di Indonesia sebagai salah satu artist yang patut diperhitungkan.

“Mulai sadar suka gambar waktu buku catetan sekolah  lebih banyak saya gambarin ketimbang catetan belajar. Kalau tidaksalah waktu SD, sampai orang tua saya dipanggil ke sekolah. Mulai intens secara keprofesian sejak 2009 tapi tidak hanya berkesenian tapi juga bidang kreatif lainnya,” ungkapnya tentang bagaimana minatnya dalam berkesenian bisa tumbuh hingga seperti sekarang.

“Saya rasa setiap proses berkarya dan pengalaman personal menjadi peristiwa yang penting bagi setiap seniman, tapi yang signifikan ketika pertama kali saya berpameran tunggal, mendapat respon bagus, kritik membangun dan membulatkan tekad saya untuk terus berkesenian,” tambah pria yang kerap dipanggil Sat tersebut.

Print making menjadi menarik bagi Satria karena setiap prosesnya dapat dieksplorasi, entah itu melalui teknik cukil kayu, cetak saring, atau lithography. ” Disitu saya menyukai teknik printmaking atau seni grafis. Tetapi bukan dari sisi konvensional-nya namun lebih pada eksplorasi teknik dan hubungannya dengan gagasan karya yang ingin saya sampaikan. Printmaking atau seni grafis hanya salah satu teknik yang saya gunakan dalam praktik berkesenian secara keseluruhan, saya tidak mau terikat di satu teknik saja. Mungkin performance art, seni tari atau sesederhana drawing selagi bisa membantu saya menyampaikan ide dan gagasan saya”.

Tentang inspirasinya dalam berkarya, ia mengakui bahwa  lingkungan tempat tinggal, alam, musik, keluarga, dan kultur surf serta skate sering menjadi inspirasinya. Namun, belakangan ini gagasan-gagasan pada seninya berkutat di seputar karakter manusia dan segala macam percepatan yang menjawab kebutuhan mereka, serta konsekuensinya terhadap alam.

Ia juga menjelaskan bahwa ada sejumlah seniman yang kerap menginspirasinya pula dalam soal berkarya. Katanya,“Agugn dan Tisna Sanjaya salah satu seniman yang saya kagumi bukan hanya karena karyanya tetapi karakter personal masing-masing yang memperkuat karya mereka. Untuk seniman luar Basquiat, tadinya biasa saja tapi melihat proses berkaryanya nampak relaks, sayang tidak kenal karena sudah almarhum dan belum dikasih kesempatan melihat karyanya”.

Menurutnya, setiap karya yang ia selesaikan selalu berkesan karena Satria melihatnya sebagai proses. “karena setiap karya adalah proses yang bisa saya kembangkan di karya selanjutnya,” jelasnya. Namun, terkait hal tersebut, ia punya satu yang difavoritkan. “Sejauh ini karya instalasi ‘Mooi (the Probs)’ lebih pada prosesnya dari kolase sederhana bisa saya kembangkan menjadi video dan instalasi”.

Di luar kesibukan berkaryanya, Satria memadatkan jadwalnya untuk  mengurus anak, surfing dan kerja paruh waktu di industri kreatif. Lalu terkait pola pikir apa yang paling dibutuhkan seorang seniman agar tetap konsisten, ia punya resepnya sendiri.

“Jangan terlalu banyak lihat referensi, jangan menunda-nunda, jujur dan faktor manajemen berkarya baik waktu dan ekonomi juga penting  dan jangan banyak stress,” pikirnya.

Teks: Rizky Firmansyah
Visual: Arsip Satria T. Nugraha