Meski digitalisasi telah menyebar ke berbagai sektor kehidupan, tapi nampaknya geliat rilisan fisik tidak akan mati untuk setidaknya ratusan tahun mendatang. Hal itu pun diimani oleh Sakrya Adiguna atau kerap disapa Adit. Melalui records store rintisannya yaitu KeepKeep Musik, ia tengah menyampaikan pesan, bahwasanya dengan membeli album fisik, kita tengah memberi penghargaan tertinggi terhadap para musisi.

“Sebenarnya digitalisasi ini bukanlah sebuah kendala, malahan banyak membantu proses bisnis KeepKeep, tapi saya curiga algoritma platform streaming digital kebanyakan ini menyebabkan kedalaman seseorang terhadap sebuah album jadi menurun,” ungkap Adit. Ia  juga mengungkapkan kalau kadang-kadang sering dibuat kesal oleh beberapa pengunjung tokonya yang terletak di jl. Kiputih No. 1A, Ciumbuleuit, Bandung tersebut.

“Seperti misalnya dulu ada yang datang petantang-petenteng dan bilang, ‘Mas, ada vinyl Coldplay?’, tapi pas ditanya albumnya yang mana, dia gak tahu,” tutur Adit dengan tertawa. Ttapi dibalik sikap idealisnya tersebut, ia sebenarnya akan selalu terbuka bagi orang-orang yang datang ke tokonya untuk sekedar bertanya-tanya atau melihat-lihat tanpa membeli.

“Karena saya pun dulu seperti itu, sering berdiskusi sama Otong Koil soal rekomendasi vinyl apa yang bagus buat dibeli,” tambahnya. Selain mendapat informasi tentang rilisan album terbaru melalui majalah semisal Ripple Magazine dan NME, ia pun selalu mendapatkan rekomendasi dari sang vokalis Koil tersebut, yang rutin ia sambangi di tokonya (God Inc) karena terletak tepat di depan SMA Aloysius 1 tempat Adit bersekolah.

“Menurut saya, malahan kultur diskusi dalam toko semacam itulah yang akan membuat records store seperti KeepKeep ini akan terasa lebih hidup,” tuturnya. Adit yang sempat mengemban pendidikan di Jepang, melihat kultur semacam itu hadir di Negeri Sakura tersebut.

“Orang-orang di sana sepertinya lebih tahu bagaimana cara mengapresiasi karya-karya musisi. Beberapa kali saya main ke berbagai records store di Jepang, selalu mendapati suatu interaksi dua arah antara si pedagang dan sang pembeli. Mendiskusikan sebuah album di dalam records store itu sangat lumrah di sana,” kisahnya.

Atas dasar untuk menyebarkan kultur tersebut, maka KeepKeep Musik pun dibuat bersama beberapa orang temannya pada tahun 2016.  Sang almarhum bapak adalah sosok yang paling berjasa dalam membentuk selera Adit terhadap musik hingga mampu melangkah lebih jauh seperti sekarang. Sedari kecil, beliaulah yang mengajarinya bagaimana cara untuk tenggalam dalam rasa cinta terhadap sebuah album musik.

“Dulu waktu saya masih kecil, bapak sering menyetel lagu-lagu pop di rumah. Saya pertama kali menyetel kaset dan vinyl tuh disekitaran umur 9 tahun, dan lagu yang menjadi titik balik saya hingga seperti sekarang ini adalah lagu The Beatles berjudul ‘Tommorow Never Knows’ yang menjadi track terakhir di album Revolver. Lagu itu berhasil menjadi pemantik untuk saya dalam mempertanyakan banyak hal tentang musik,” kenangnya.

Pada tahun 2019 ini, KeepKeep Musik sudah menginjak umur ketiga. Semakin bertambahnya usia, maka akan bertumpuk pula doa-doa yang menyertainya. Adit pun tengah berupaya untuk mengubah KeepKeep menjadi sebuah tempat yang mampu menularkan hal-hal yang ia suka kepada masyarakat luas, dan lebih dari itu, semua aktifitasnya akan berfokus pada menyebarkan budaya menghargai.

“KeepKeep sedang diusahakan untuk menjadi lebih besar. Selain rilisan musik, nantinya juga ada barang-barang lain yang dijual. Action figure, misalnya. Intinya, benda-benda yang tidak bisa saya beli di zaman dulu,” pungkasnya.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Sakrya Adiguna