Sosok: Mantra Vutura

Hubungan pertemanan Tristan Juliano dan Zakari Danubrata sudah dimulai sejak di bangku taman kanak-kanak. Tanpa disengaja, dua orang tersebut selalu bersekolah di institusi pendidikan yang sama, dan itu berlanjut hingga kuliah. Di tahap perguruan tinggi itu lah mereka memutuskan untuk mulai bermusik dengan menggunakan nama Mantra Vutura, tepatnya tahun 2017.

Sampai sejauh ini, Mantra Vutura sudah mengeluarkan satu EP bertajuk Solar Labyrinth (2017) serta sebuah album penuh berjudul Human (2019). Kedua karya tersebut memiliki warna sangat berbeda. Mungkin, itu merupakan tanda bahwa mereka adalah dua pribadi yang getol dalam bereksperimen dan menolak untuk tunduk hanya pada satu jenis musik.

“Kita berdua memang memiliki kesenangan terhadap banyak jenis musik dan masing-masing berbeda selera. Misalnya Zakaria lebih senang jazz dan saya sangat suka musik klasik, tapi perbedaan itu lah yang membuat musik Mantra Vutura seperti sekarang,” kata Tristan.

Naluri eksplorasi itu juga yang membuat Mantra Vutura melibatkan musisi tamu untuk mengisi vokal di lima dari sepuluh lagu pada album Human. Nomor-nomor tersebut adalah “Bank of the River” (Elda Suryani), “Moonlight” (Bam Mastro), “In Your Eyes” (Luise Najib), “Biar” (Danilla Riyadi), serta “Piece of Mind” (Agatha Pricilla).

“Mereka itu our idol dan Mantra Vutura melibatkan mereka itu modalnya nekat. Kita benar-benar nggak kenal mereka sebelumnya,” tutur Zakari. Untung saja, gayung bersambut, kata berjawab. Semua kandidat kolaborator menyambut baik undangan tersebut.

“Danilla misalnya, kita itu belum kenal dia sebelumnya. Terus, kita coba chat dia lewat WhatsApp. Untung aja dia mau”.

Ia juga menambahkan bahwa semua materi lagu dari album yang mengangkat tema ajaran Katolik tentang tujuh kebajikan tersebut sudah selesai sebelum para musisi tamu mengiyakan ajakan kolaborasi.  “Maka dari itu, kalau saja mereka menolak ajakan Mantra Vutura, kami pasti sangat bingung mencari penggantinya. Benar-benar tidak kepikiran,” pungkasnya.

Melalui tangan dingin dari Rizky Rahad dan Agung Pambudi, lagu “Bank of The River” pun dibuatkan versi video klipnya. Secara cemerlang, kedua orang sutradara itu mampu menceritakan perjalanan spiritual seorang anak yang berjuang memulihkan diri dari trauma penganiayaan pada gambar bergerak berdurasi empat menit lebih tersebut.

View this post on Instagram

Kolaborasi yang dinanti kian terwujud bersama: Save The Children, Komunitas Film Kupang, Rumah Perempuan Kupang, FOCUSED Equipment, Parallel Studio, dan tentunya Double Deer Records . Serta nama-nama HEBAT di balik produksi Music Video Bank of the River yang benar-benar menjadikan karya bersama ini sangat jujur. . Banyak yang sebenarnya kita bisa lakukan untuk melanjutkan tujuan dari lagu dan Music Video ini. Dimulai dari perpanjangan tangan kalian untuk ikut mengunjungi laman web Save The Children Indonesia dan ikut berdonasi untuk membantu mereka mendapatkan perlindungan anak, pendidikan, dan berbagai macam kebutuhan . Post-post selanjutnya, kami akan juga memperjelas Campaign bersama Save The Children Indonesia . Terima kasih untuk semua bentuk dukungan dari kalian untuk saudara-saudari kami di sana?

A post shared by Mantra Vutura 2020 (@mantravutura) on

Kandungan pesan dari video klip “Bank of the River” cukup jelas meski tersirat. Mereka pun memajang kutipan dari data PHAR National Survey tahun 2018 di akhir video sebagai penguat: “1 in 11 girls in Indonesia are survivors of sexual abuse”. Dipilihnya Kupang sebagai lokasi pengambilan gambar pun bukan tanpa sebab. Pasalnya, Nusa Tenggara Timur adalah salah satu provinsi dengan tingkat kekerasaan tertinggi di Indonesia. Menurut data dari Rumah Perempuan Kupang, di sana setidaknya telah terjadi 3.621 kasus kekerasan di sepanjang 2002 hingga 2017.

“Kita berterima kasih sekali kepada Rizky Rahad dan Agung Pambudi, karena berkat riset mereka lah video klip ‘Bank of the River’ menjadi sarat akan makna,” ucap Tristan. Untuk merampungkan video klip tersebut, para sutradara pun di bantu oleh Komunitas Film Kupang serta beberapa LSM yang fokus kepada isu perlindungan anak.

Kini, mereka masih meyibukkan diri untuk mempromosikan album Human. “Kayaknya baru tahun depan kita mulai produksi musik lagi,” ungkap Zakari. Semoga lancar dan tetap konsisten dalam menyebar pesan-pesan kebajikan.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Mantra Vutura

Kolaborasi Semiotika Dan Iga Masardi

Menggunakan moniker Sagas Midair, Iga Massardi yang merupakan gitaris sekaligus vokalis grup Barasuara merilis single kolaborasi bersama Semiotika, unit Instrumental Rock dari Jambi. Diberi tajuk Iskaashi, rencananya single ini akan...

Keep Reading

Nyala Api Dari Angkatan Baru Hip-Hop Jakarta

Berawal dari hal yang tidak direncanakan, La Munai Records, label rekaman Jakarta, Pesona Experience dan Bureau Mantis kolektif dan manajemen musik dari kota yang sama akhirnya menemui kesepakatan untuk merilis...

Keep Reading

Plvmb Memulai Debut Dengan Blue

Bandung kembali memiliki kuintet indiepop yang terdiri dari Vina Anesti (Vokalis), Azka Aulia Rachman (Bass), Diaz Febryan (Drum), Salman Wahid Putra Kamaludin (Gitar), Irfan Zahid Abdussallam  (Gitar). Mereka tergabung ke...

Keep Reading

Superglad Yang Kembali Melangkah

Superglad adalah band yang namanya tidak perlu lagi dipertanyakan di kancah musik tanah air. Setelah diterpa berbagai permasalahan yang sempat terjadi di dalam tubuh mereka, band yang terbentuk sejak tahun...

Keep Reading