Sektor film independen Indonesia nampaknya kian bersinar. Peminatnya semakin banyak dan pelakunya pun sudah sering menuai puji dari mana-mana. Lihat saja beberapa judul semisal Post Card From the Zoo (2012), Ziarah (2017), Istirahatlah Kata-kata (2016), atau What They Don’t Talk When They Talk About Love (2013) yang kualitasnya tidak bisa diragukan lagi.

Komunitas dalam sektor film indie juga makin menjamur. Salah satunya yang masih segar adalah Kolong Sinema. Mereka terlahir akibat pertemuan dua penggagasnya, Deka dan Azzam. Inspirasi untuk membentuknya sendiri datang dari komik tugas akhir milik Deka.

“Kolong Sinema sebenarnya bermula dari judul dari komik tugas akhir kampus karya Alzein Merdeka atau biar lebih akrab kita panggil Deka saja, yang mengisahkan dua sahabat yang bekerja di sebuah tempat penyewaan film dan saling bertukar sudut pandang mengenai perfilman superhero Indonesia pada tahun 80an,” ungkap mereka.

Kemudian Deka berkenalan dengan Azzam dan saling bertukar karya. Azzam menunjukkan film pertamnya berjudul Pendakian Birahi dan Deka dengan komiknya yang berjudul Phagia. Selanjutnya, mereka pun cocok dan merasa memiliki misi yang sama. Maka terbentuklah Kolong Sinema.

Menurut mereka, para anggota Kolong Sinema sangat mencintai dan juga tumbuh besar bersama film-film bergenre horor serta subgenre horor yang sangat beragam, terutama di ranah film-film kelas B atau ber-budget murah.

“Mungkin karena pengaruh lingkungan juga masa kecil yang sudah sangat erat dengan film-film kelas B baik dari rental film maupun pemutaran di TV, kami jadi sangat familiar dan merasa dekat dengan treatment film film kelas B,” pikir mereka, yang dilanjutkan dengan pernyataan bahwa Kolong Sinema memiliki semangat untuk melahirkan “surat-surat cinta” pada film-film yang menginspirasi mereka selama ini. Lebih jauh lagi, mereka mengungkapkan bahwa makna film kelas B yang paling lekat dengan Kolong Sinema adalah film-film yang memiliki ide yang liar namun memiliki keterbatasan mulai dari budget hingga teknis.

“Dan itu kami bangetlah kesannya. Kami selalu percaya bahwa terlepas dari berbagai keterbatasan, kami dapat membuat film sesuai dengan passion kami meski hanya dengan modal semangat yang lebih besar ketimbang budgetnya”.

Ide liar yang dimaksud pun tercermin dari beberapa judul film Garapan punggawa Kolong Sinema semisal Kesurupan Erotik, Goyang Kubur Mandi Darah, Rangsangan Gaib, Terlahir Dari Rahim Setan, Pocong Hiu Unleashed, serta Pendakian Birahi. Dana yang terbatas, memang bukan kendala mereka untuk bereksplorasi untuk mencipta karya.

“Terkait beberapa judul yang mengangkat tema erotis, itu karena Azzam sangat obsessed dengan era perfilman erotika tahun 90an. Tapi bisa dibilang bahwa film-film Kolong Sinema merupakan melting pot dari beberapa elemen yang kami gemari. Misalnya film-film horor karya Nayato Fio Nuala, elemen elemen horor lokal 80an atau 90an, FTV-FTV horor yang masih sering berseliweran di TV siang bolong di awal 2000an, dan lain sebagainya,” tutur mereka terkait karya-karya Kolong Sinema selama ini yang kerap memakai judul kontroversial.

Pada era yang mereka sebutkan, elemen erotika memang sering dilekatkan di judul-judul film pada arus utama. Kolong Sinema pun mencoba untuk mengangkat nilai erotis tersebut ke dalam karya-karya mereka. “Semua elemen tadi akhirnya kami gabungkan sehingga kami bisa menciptakan film yang Kolong Sinema banget”.

Terkait judul-judul karya yang erotis tersebut, Kolong Sinema pun tidak memungkiri bahwa mungkin saja ada beberapa pihak yang mencibir dengan alasan moral atau lain sebagainya. Mereka menganggap bahwa sejarah film Indonesia tidak lepas dari peran subgenre tersebut dan dirasa kurang pas bila disebut sebagai aib.

“Subgenre ini sempat membuat bioskop bioskop kita bertahan. Dan kami berharap baik di ranah independen ataupun mainstream, subgenre ini dapat dirayakan bersama dengan subgenre lain yang masih berada di bawah kolong berdebu industri film kita,” kata mereka.

Dengan semakin beragamnya tema film yang ada pada industri sinema hari ini, mereka ingin film-film produksi Kolong Sinema mampu menjadi alternatif dan menambah ragam khazanah perfilman Indonesia.

“Kami murni ingin menjadikan film film kami sebagai hiburan. Dan ketika orang orang terhibur dan terus membicarakan film-film kami bahkan setelah filmnya berakhir, maka kami merasa itu merupakan bentuk pencapaian”. Jelas mereka.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Kolong Sinema