Membaca buku sama pentingnya dengan mengisi perut. Keduanya harus diposisikan sebagai kebutuhan mendesak, karena sama halnya seperti organ tubuh lainnya, otak pun memiliki kebutuhan nutrisinya tersendiri. Bila kekurangan, bersiap-siap saja untuk menghadapi kemungkinan terjangkit nasib sial berupa kedangkalan dalam berpikir.

Tidak hanya bisa mendapati beragam kudapan berkolestrol yang bertengger di tiap sudut kota, di Makassar juga kita akan sering menemukan sejumlah orang dengan ketertarikan serius terhadap membaca buku. Beberapa di antaranya lantas bertindak lebih heroik dengan menciptakan ruang untuk para pecandunya. Salah satunya, adalah Kedai Buku Jenny.

Kedai Buku Jenny diinisiasi oleh Bobby dan salah satu rekannya. Terbentuk pada tahun 2011, toko tersebut terletak pada sebuah rumah sederhana di Komplek Wessabe Blok C 17, Jl. Perintis Kemerdekaan 10, Makassar.

“saya mengontrak tempat ini sejak kuliah di Jogja, tapi saat itu tempat ini masih sekedar dipakai untuk menjadi tempat berkumpul teman-teman saja. Akhirnya, saat saya pulang ke Makassar barulah tempat ini diaktifkan menjadi Kedai Buku Jenny,” ungkap Bobby. Pada rumah tersebut, terdapat juga perpustakaan mini yang terletak di ruang tengah.

Niatan untuk membuka Kedai Buku Jenny sudah dipupuk sejak lama karena semasa kuliah, Bobby adalah pegiat organisasi kampus yang tumbuh dengan banyak buku dan sempat pula membuka book store di sekitaran tahun 2004-2005 namun tutup pada tahun 2008. Saat di Jogja, ia juga melihat bahwa buku dapat disandingkan dengan beragam hal lainnya semisal musik, maka rilisan musik pun akhirnya menjadi salah satu menu utama di kedai bukunya tersebut.

“Saya pikir musik adalah teman yang pas dengan buku. Saya melihat itu di Jogja. Musik bisa menjadi pemantik agar orang dapat lebih tertarik dengan buku,” katanya. Program pertama Kedai Buku Jenny sendiri adalah sebuah micro gig bernama KB Jamming yang menampilkan beragam band indie dari Makassar. Acara itulah yang membuat toko buku tersebut terkoneksi dengan banyak musisi sampai sekarang.

Selain acara musik berskala mikro, diskusi, serta bedah buku, Kedai Buku Jenny juga sering menggelar kegiatan bernama Sajakan Saja yang mengutamakan pembacaan puisi dan sajak buatan sendiri. “tapi yang terpenting setelah membacakan sajak, kamu harus bercerita tentang ide dari pembuatan sajak tersebut,” katanya.

Bobby memang menganggap Kedai Buku Jenny sebagai ruang untuk bercerita. Menurutnya, itu karena masalah yang dihadapi oleh orang-orang di kota besar sangatlah banyak dan perlu ada suatu wadah untuk mengungkapkannya.

Kini, dia juga tengah menginisiasi sebuah program bernama Teater Anak yang beranggotakan anak-anak kecil di komplek Wessabe. Melalui agenda tersebut, Bobby menginginkan sebuah hubungan yang akrab antar warga komplek.

“Waktu itu terpikirkan kalau sepertinya kami ini terlalu sering berkegiatan dengan orang luar, dan hampir tidak ada program untuk warga sekitar. Lalu, karena istri saya dulu aktif di teater semasa kuliah, tercetuslah ide untuk membuat Teater Anak. Kegiatannya memang untuk anak-anaknya, tapi dari sana pasti orang tuanya juga akan ikut berkumpul,” jelas Bobby.

Menurut Bobby anak-anak memiliki daya ingat yang tinggi hingga tidak ada kendala dalam menghapal naskah, tapi mood mereka yang naik-turun adalah masalahnya, oleh karenanya siasatnya adalah dengan membuat suasana bermain kentara di dalamnya. Lalu, relawan juga ditempatkan untuk mendampingi tiap anak agar bisa menjaga timeline Teater Anak berlangsung tertib.

Menggabungkan buku dan musik adalah usaha Kedai Buku Jenny untuk mencapai khalayak luas. Toko tersebut tidak mau berpijak pada posisi yang elitis, ia membuka pintunya lebar-lebar untuk undangan kolaborasi dari manapun. Kini, Bobby tengah menggalakan riset dan mengumpulkan dokumentasi untuk diolah menjadi buku dengan pembahasan terkait perjalanan skena musik di Makassar.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Kedai Buku Jenny