Membuat lirik lagu bertemakan cinta, memang gampang-gampang susah. Bila sedikit saja salah merangkainya, alih-alih indah, malah bisa jadi picisan. Hal itu juga sepertinya disadari oleh kawanan Kabar Burung. Bagi mereka, kisah cinta memang lumrah bila picisan, tapi kalau soal mengilustrasikannya ke dalam bait-bait lirik, itu hal yang berbeda. Mereka sangat berhati-hati dalam meramunya.

Sebelum berbicara lebih panjang lebar lagi, mari kita mengetahui cikal bakal kelahiran Kabar Burung. Kemunculan mereka diprakarsai oleh perkawanan antara Kibar (vokalis) dan Yusa (gitaris), sewaktu keduanya masih tergabung dalam grup musik Menginap di Kampus (MEDIPUS). Keduanya juga terlibat sehari-hari dalam kegiatan teater di kampus.

Pada 11/12 Juli 2017, nama Kabar Burung pun disahkan, tepatnya saat mereka tampil sebagai pembuka Jono Terbakar (Yogyakarta) di Kedubes Bekasi. Sebelumnya beberapa nama sempat dipakai saat di panggung, di antaranya adalah Semilir, Sriwedadi, hingga Manis Jambu.

“Kabar Burung ibarat desas-desus, yang merepresentasikan personalitas personelnya, bahkan musiknya. Sedikit dari personel Kabar Burung yang punya pengalaman ‘ngeband’. Desas-desus yang menampilkan personelnya sebagai ‘orang baru’ dalam skena musik. Kabar Burung sebagaimana kabar burung, dikenali sebagai sesuatu yang hampir nir-deteksi,” ungkap mereka terkait asal-usul nama Kabar Burung.

Nama Kabar Burung berasal dari Kibar. Secara lebih dalam soal pemaknaannya, Ia menjelaskan bahwa gagasan bermusik itu sendiri selalu misterius seumpama kabar burung. Tidak ada yang bisa menduga asalnya dari mana. Tapi, Kibar, serta personel lainnya, sadar bahwa menemukan musik juga bukan melalui proses menunggu ilham. Semua personel menggali, berlatih, mengejar kehendak bebas masing-masing dalam bermusik.

“Artinya, kabar burung bagi Kabar Burung merupakan proses bermusik itu sendiri. Proses panjang menemukan diri kami sendiri, musik yang membuat kami tidak berambisi menjadi orang lain, kecuali diri sendiri. Oleh sebab itu, mereka berlatih, menempa diri, mengomposisi apa yang sekiranya belum dimusikkan atau apa yang sekiranya belum ditawarkan di lingkungan kami, Rawamangun, Jakarta Timur,” tutur mereka.

Formasi awal Kabar Burung terdiri dari Kibar (vokal), Yusa (gitar), Cakra (bass), dan Ryan (drum). Barulah pada 2016, Juan (vokal latar dan gitar) bergabung, disusul Danang (keyboard) dan yang terakhir Fachri (biola). Bagi para personil, musik Kabar Burung adalah upaya pemaksimalan dari metode ‘bertolak dari yang ada’, baik instrumen (gitar, biola, keyboard, glokenspil, suling, dan trompet) dan non-instrumen (harmoni). Kabar Burung membayangkan format big band dalam bentuknya yang unik, dengan suguhan musik yang jujur.

“Sejauh ini kami masih terus mengunggulkan pada tataran live performance, kami percaya bahwa musik adalah kata lain dari pertemuan. Hampir semua lagu Kabar Burung bernuansa nostalgia, atau katakanlah bertema cinta, tapi kami berusaha tidak menjadikan yang-nostalgia atau yang-cinta sebagai slogan belaka. Karena motifnya jujur bermusik, kami berupaya tidak bertele-tele,” jelas mereka, yang selanjutnya disusul dengan sebuah penyederhanaan dari apa yang mereka gelontorkan untuk menjelaskan musik mereka.

“Kami ingin menawarkan kemerduan yang mungkin bisa jadi landasan kami menamakan Kabar Burung: Cukup-pop. Ya, cukup berarti sewajarnya”.

Pesan adalah album perdana mereka yang dirilis secara digital pada 31 Maret 2019. Beberapa bulan setelahnya, yaitu bertepatan dengan konser akbar mereka, Konser Album Pesan di 21 Desember 2019, versi cakram padatnya pun lahir ke dunia. Kelahirannya dibidani oleh Demajors Records.

Proses penggarapannya diadakan di paruh kedua 2018. Nomor-nomor di dalamnya merupakan bahan-bahan yang ditabung sejak 2011/2012. Minimnya pengalaman para personel akan proses rekaman di studio, mereka akui sebagai suatu persoalan yang cukup membuat grogi. Di Penghujung Desember 2018, semua materi rampung direkam.

“Awal Januari mulai dimixing dan dimastering oleh Dimas Martokoesoemo ALS Studio. Kami bahagia album perdana kami dikelola olehnya yang ‘bertangan dingin’. Bahkan, bagi Kabar Burung, proses mixing-mastering seperti ‘laboratorium’ yang sesungguhnya. Sekama di ALS Studio kami jadi bertukar pikiran dengan Dimas: yang punya kepekaan atas visi kami bermusik. Kami merasa lebih rileks, dan mengenal kembali apa yang sedang kami buat,” kenang para Personel Kabar Burung.

Kibar dan Yusa adalah dua orang yang meramu lirik-lirik cinta di album Pesan. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, bagi Kabar Burung, Kisah cinta yang picisan adalah hal yang lumrah. Tapi, mereka menyadari bahwa mengilustrasikannya ke dalam lirik adalah taruhan yang berisiko.

“Kisah cinta yang picisan, bagi kami, akan diterima sejauh Kabar Burung bisa menyuguhkan yang indah atau yang merdu tanpa hanyut dalam ‘pengindah-indahan’ atau ‘dimerdu-merdukan’. Mayoritas lagu Kabar Burung memang secara figuratif mengilaskan ‘kisah cinta’, tapi kami berusaha tidak murahan,” kata mereka terkait liriknya.

“Tidak murahan berarti punya ‘kewajaran’ tertentu yang sekiranya bisa diterima. Toh semua manusia di muka bumi mengalami jatuh cinta, dan itu wajar. Kami tahu risiko ini, dan selanjutnya silakan mendengarkan. Maksud kami, menyimak lagu Kabar Burung secara cermat”.

Tapi, sekiranya ada yang menyebut Kabar Burung itu menyuguhkan lirik cinta yang picisan, para personil tidak takut. Mereka percaya bahwa resepsi pendengar bisa menimbulkan berbagai tafsir, dan konsekuensinya tentu saja salah satunya adalah pandangan negatif. Tidak masalah. Toh, kejujuran adalah kuncinya. Dalam hal itu, Kabar Burung melakukannya. Secara tegas mereka mengungkapkan bahwa, ”Kami tidak takut, jika itulah kejujuran yang kami upayakan”.

“Kami saling kritik dan berterus terang. Jika ada kata lain untuk mengganti kata ‘picisan’, kami akan menunjuk kata ‘nostalgia’. Memang sentimentil, tapi barangkali sentimentil yang tidak dibebani oleh amanat yang dibebani oleh slogan. Bagi kami, cinta bukan slogan. Cinta tidak bisa dipotret. Bicara cinta, artinya ‘mempersoalkan’, bukan sekadar ‘memotret’”.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Hermandja (Saija Studio)/Abi Rafdi Aufar