Suara yang besar, tatapan tegas serta lirik tanpa basa-basi adalah gambaran kecil dari seorang Jere Fundamental. Rapper yang berangkat dari kancah musik kota Medan ini belakangan memang sedang hangat menjadi pembicaraan. Setelah mengeluarkan EP Bar-Bar di awal tahun lalu, belum lama ini dia juga menjadi salah satu line up dalam kompilasi yang di rilis oleh Grimloc Records.

Meski sedang bermasalah dengan kesehatan, saat bertemu untuk mengobrol tentang awal mula dia terjun ke dunia hip-hop, tak ada sedikit pun rasa lelah terlihat di wajahnya. Ia bercerita kalau pengaruh dari rapper kawakan asal kota Medan, Ucok Munthe membawanya terjun ke kancah musik hip-hop secara serius.

“Kalau sukanya aku mulai dari 2002, tapi terjun bebas ke scene-nya di 2004. Awalnya di tahun sebelumnya aku beli kaset hip hop underground di salah satu tempat perbelanjaan di Medan dan aku ngerasa kaset yang aku beli lagunya berbeda dari  band-band lainnya. Terus di 2004 aku mulai cari tahu refrensi hip hop yang ada di Medan dan ketemu sama Ucok Munthe. Dari dia aku sering ngobrol tentang hip hop sampai sekarang ini. karena dulu kan media nggak seperti sekarang jadi kalau mau cari tahu itu paling dari kawan ke kawan dan akhirnya membawa aku kenal sama bang Ucok,” ungkapnya menceritakan awal mula karirnya.

Dengan refrensi yang terus bertambah, pengaruh dari musisi lokal dan juga luar menjadi bahan bakar untuk tetap membuat karya-karyanya sampai saat ini. “Kalau untuk lokal udah pasti Ucok Munthe terus Blakumuh, P-Squad sama Homicide. Nah, kalau untuk luar itu ada Wu-Tang Clan, KRS-One, Common, Beastie Boys, Cypress Hill, Dilated Peoples sama Busta Ryhmes yang dimana mereka ini adalah generasi emas dan banyak mempengaruhi aku,” Kata Jere.

Sesi sharing Jere bersama Ucok Munthe memperkaya referensi bermusiknya. Sederet nama yang sebutkan di atas, memperngaruhinya dalam segi delivery rime, free flow, juga lirik. Ia juga bercerita soal hip hop di Medan. Meski sempat mati suri, kancah musik hip-hop Medan sekarang mulai menunjukan kembali taringnya. Regenerasi yang terus bertambah adalah kuncinya.

“Kalau di Medan udah mulai masif lagi, meski sempat mati suri. Nah kalau sekarang itu lebih bewarna dengan nuansa-nuansa serta gaya-gaya kekinian karna itu memberikan warna dan membuktikan kalau regenerasi itu ada. Karna yang membuat scene itu mati ya karna regenerasinya gak ada, tapi belakangan ini ada dan aku coba cek lagi ternyata masif juga dan di 2018 sampai 2019 mulai bermunculan satu persatu”.

Bagi Jere, menjaga kobaran api semangat agar tetap menyala menjadi tantangan yang harus dipertahankan para pengiat kancah hip-hop Medan, karena tak jarang ketika banyak dari penggiatnya yang memulainya dengan semangat tinggi tapi harus menelan pil pahit saat di pertengahan karena tidak mampu menghadapi tantangan yang menghadang.

“Tantangan itu paling menjaga api aja, dalam artian menjaga semangat kawan kawan yang masih terus bekarya sampai saat ini. Misalnya rutin membuat gigs, mengeluarkan single-single baru, video clip ataupun album. Terutama album, ya, soalnya  album itu mempunyai kesan sendiri karena fokusnya lebih terarah.” Jelasnya.

Jere Fundamental kerap menulis lirik dengan tema sosial politik. Dengan mengambil sample sederhana dia mengemasnya dengan sangat apik dan mudah diingat serta tanpa basa-basi. Baginya, musik sangat bagus untuk menjadi medium kritik, asalkan masih dalam takaran yang mudah dimengerti oleh orang banyak. “Okelah kita berusaha mati-matian membuat lirik yang keren, tapi masalahnya banyak yang nggak ngerti arahnya kemana. Tapi kalau kita bikinnya sesuai porsi dan relevan dengan kehidupan mungkin pendengar lebih gampang untuk mengerti”.

Tahun lalu, dia merilis EP pertamanya, Bar-Bar, sebagai persentasi karya yang selama ini dia kumpulkan serta pemanasan sebelum full albumnya rilis. Karya tersebut berisi 6 track yang secara garis besar  menceritakan keadaan kota medan melalui lingkungan kecil dimana tempat dia berada.

“Walaupun kota Medan ini semakin berkembang, rupanya semakin banyak pula tindak kejahatan dan sistem yang bergerak tidak sesuai dengan porsinya,” tuturnya. Topik tersebut jere pilih dikarenakan hal itulah yang benar-benar ia sorot selama ini. “Aku gak pengen membuat apa yang gak aku tahu. Karena dengan apa yang kurasa, apa yang aku lihat, dan apa yang aku dengar jadi aku merangkumnya dari hal hal kecil dari lingkungan kecilku. Jadi aku gak mau membuat hal yang mengada-ngada. Karena menulis lagu yang sesuai realita aja susah apalagi mengarang”.

Dilihat dari bagaimana porses pengerjaan albumnya, jere sendiri sepertinya memiliki kemampuan lain selain nge-rap, yaitu menjadi produser. Hal itu bisa menjadi side job yang menjanjikan untuknya. Bagaimana tidak? mulai dari aransemen lagu, menulis lirik serta merekamnya dia kerjakan secara mandiri.

“Kalau proses penggarapan sih ngambil dari stock lagu dari 2017 tapi sekitar 60% materi fresh yang aku rekam dalam kurun waktu 2 bulan. Terus proses mixing dan mastering aku kirim ke salah satu studio di jakarta dan untuk artwork sendiri yang buat teguh, dia artworker dari kota medan,” kata Jere.

Berbicara tentang konsitensi jelas menjadi tantangan terbesar terhadap musisi manapun, namun Jere sendiri mempunya pandangan lain terhadap ini. Dia lebih memilih membuatnya mengalir daripada harus berfikir tentang 10 tahun kedepan. Karya untuk 2 tahun kedepan pun sedang dipersiapkan.

Teks: Friend Gultom
Visual: Arsip Jere Fundamental