Laut Indonesia sepertinya masih berjaya, setidaknya hingga hari ini. Pembuktian sederhananya bisa didapat dari beberapa fenomena, seperti banyaknya kapal asing yang sering mencoba menerobos garis-garis teritorial Indonesia. Untuk apa mereka berbondong-bondong datang kemari kalau tidak ada harta karun yang dikejar?

Pancaran dari pesona laut Indonesia pun akhirnya sampai pada dua orang pemuda bernama Arief dan Sigit. Setelah lama terpisah, akhirnya kedua tersebut bertemu kembali dan membentuk sebuah grup musik bernama Irama Pantai Selatan.

Kita awal terbentuk itu sekitar akhir tahun 2017. Nggak sengaja juga sih, kita udah ilang kontak hampir selama dua tahun sebenernya dan tiba-tiba ketemu dalam sebuah pekerjaan,” kata Arief. Dalam pertemuan tersebut, secara kebuetulan Sigit membawa ukulele dan spontan bernyanyi lagu yang kini diberi judul “Mengarungi Laut Indonesia”.

“Sebenernya Irama Pantai Selatan ini lagunya duluan yang jadi, setelahnya baru band-nya terbentuk hahaha,” jelas Arief. Irama Pantai Selatan pun hari ini namanya mulai mencuat ke permukaan. Keduanya juga sepakat, bila nama jenis musik yang mereka bawakan bernama “maritim pop”.

“Ini sebenernya akal-akalan kita sih karena kita sulit mendeskripsikan genre musik yang kita mainin. Akhirnya kita bikin genre sendiri namanya ‘maritim pop’,” lanjut Arief. Definisinya sederhana, yaitu  musik pop dengan tema dan lirik  yang mengangkat nuansa kelautan dan kehidupan di pesisir.

“Satu lagi, menggunakan nama ‘maritim pop’ juga sebenernya supaya kita nggak kejebak di imej dan genre Hawaiian yang lekat dengan instrument ukulele sih. Pake genre ‘maritim pop’ bisa ngebuat kita lebih eksplor juga secara musik dan nggak dianggap band yang pure mainin musik hawaiian”.

View this post on Instagram

lagi mantau apa tuh?

A post shared by Irama Pantai Selatan (@iramapantaiselatan) on

Saat ini, Irama Pantai Selatan tengah disibukkan oleh penggarapan album penuh perdana yang rencananya akan diberi tajuk Dendang Samudera. Temanya akan tetap sama, yaitu masih seputar kelautan tapi nantinya ada banyak sudut pandang yang mereka ambil.

“Jadi nggak sekedar tentang lautan dan isinya aja, tapi kehidupan orang-orang yang hidup di sekitar pantai juga kita bahas di sini mulai dari pesta rakyat, jatuh cinta bahkan patah hati sekalipun ada haha,” ungkapnya.

Dari segi musikalnya pun mereka lebih bereksplorasi. Selain masih ada sentuhan hawaiian, Dendang Samudra akan terdiri dari irama Lenso, Latin hingga Jazz . Secara referensi, mereka mengatakan kalau kiblat album debut tersebut adalah rilisan musik Indonesia di tahun-tahun 50 dan 60an.

“Perencanaan nya sih sebenernya udah ada dari tahun 2018 pertengahan, tapi baru direalisasikan di pertengahan 2019. Ya waktu setahun kita pake buat bongkar pasang materi sih, lagu mana aja yang cocok masuk album,” tutur Arief.

Proses rekamannya memakan waktu enam bulan di Vakansi Studio, Tebet. Mereka dibantu oleh Ricky Virgana dari White Shoes and The Couples Company yang bertindak sebagai produser.  “Dialah Nakhoda kami selama proses rekaman haha karena dia hampir terlibat di semua proses kreatif album ini. Wah berperan besar dia pokoknya”.

Ditenggarai oleh inisiatif sorang teman bernama Samson, pertemuan pertama Irama Pantai Selatan bersama Ricky sebenarnya sudah terjadi di pertengahan 2018. Saat itu bassist dari White Shoes and The Couples Company tersebut sudah menawarkan diri untuk menjadi produser Arief dan Sigit dalam agenda merampungkan Dendang Samudera. Ide itu baru terealisasi setahun setelahnya.

“Pertemuan pertama tuh bisa dibilang gagal, karena kita kaku banget dan cengangas-cengenges doang. Setelah setahun berlalu, nggak pernah kontekan lagi dan kita juga udah nggak ngarep haha. Eh ternyata dihubungin lagi di pertengahan 2019, yaudahlah sikat, lagian kita juga udah lumayan mateng juga secara materi dan sebagai band juga,” kenang Arief.

Maka setelah semua itu, akan tiba saatnya paket lengkap maritim pop bernama Dendang Samudera terlahir. Mungkin sebentar lagi. Semoga saja.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Irama Pantai Selatan