Sosok: Gabriela Fernandez

Gabriela Fernandez sudah senang bermusik sejak kecil. Sedari duduk di bangku sekolah dasar, ia telah mengikuti kursus piano klasik dan aktif sebagai penyanyi gereja saat menginjak pendidikan sekolah menengah pertama. Inspirasinya saat membuat lagu tidaklah rumit. Hal tersebut biasanya muncul dari hal-hal sederhana di sekitarnya.

Awalnya minat terhadap musik ditentang oleh orang tuanya, namun hal itu malah membuatnya semakin bersemangat untuk memutar otak agar mendapatkan restu dari mereka. “Setelah beberapa waktu berlalu dan mereka menyaksikan sendiri proses yang saya lakukan, mereka akhirnya mendukung dan membuat saya tetap bersemangat untuk terus berkarya,” katanya.

Lalu, pada akhirnya kedua orang tuanya lah sosok yang menjadi alasannya berkarya sampai hari ini. “Saya juga terinspirasi oleh para musisi yang merintis jalurnya sendiri, yang berjuang menyuarakan sesuatu, atau mereka yang punya genre yang berbeda dan tidak mudah diterima, namun tetap yakin pada karya mereka.”

Saat dihubungi, Gabriela baru saja menyelesaikan program tur ke sebelas kota dengan tajuk Trip Menuju Timur Vol. 2. Dengan menenteng tas besar seberat 12 kilogram, penyanyi lagu Rumah, Raga, Tawa tersebut menemukan banyak pengalaman berkesan di tiap perhentiannya.

“Ada banyak! Dari gitar yang saya pinjam di setiap kota (yang dari gitar keren sekali sampai gitar yang tidak bisa distem), tampil di cafe yang kemudian diserobot oleh salah satu pengunjung yang merequest lagu nostalgia dan memaksa bernyanyi berulang ulang, carrier seberat 12 kilogram yang saya bawa-bawa ke 11 kota itu. Tapi yang paling berkesan buat saya, adalah teman teman baru yang saya temui, serta anak- anak yang berwajah ceria ketika saya mengajak mereka menulis lagu mereka sendiri dalam workshop di beberapa kota,” ungkapnya saat ditanya pengalamannya pada perjalanan tersebut.

“Di hari keberangkatan, saya membuka ajakan kolaborasi bagi anak-anak muda di sana, dengan plan yang masih luang. Berbeda dengan yang lalu yang tiap kotanya sudah saya patenkan,” tambahnya.

Tentu saja ia menemukan beberapa kesulitan saat menjalankan turnya tersebut. Selain soal dana, kendala lainnya juga muncul karena Gabriela benar-benar melangsungkannya seorang diri.

“Tentunya kesulitannya pada semua yang harus saya lakukan sendiri dan tidak adanya tim yang berangkat bersama. Semua harus saya lakukan sendiri. Beruntung ada kenalan kenalan baru maupun keluarga di kota kota yang saya datangi yang membantu dengan cara mereka sendiri,” jelasnya.

Berbeda dengan volume perdananya, kali ini perjalanannya tidak dalam rangka perilisan karya apapun dan berujung pada satu daerah, yaitu Lembata. Agendanya dimulai dari tanggal 19 Agustus hingga 3 September lalu, dengan persiapan yang dimulai hanya beberapa hari sebelum Trip Menuju Timur Vol. 2 resmi dimulai.

“Sejak awal memulai Trip Menuju Timur, saya sudah merencanakan untuk terus melakukannya secara berkala. Jadi, sebenarnya tidak menunggu untuk merilis suatu karya, karena yang saya buat rutin ini adalah impian saya sejak dulu, untuk bisa mengangkat NTT dan berkarya disana, atau berbagi dengan adik-adik dan teman teman disana. Apabila trip yang lalu saya melewati banyak kota namun dengan waktu tiap kota yang singkat, untuk trip selanjutnya saya ingin memfokuskan pada daerah daerah tertentu. Sehingga, bisa lebih terfokus dan waktunya bisa lebih Panjang,” ucapnya.

Selanjutnya ia menjelaskan bahwa untuk volume kedua ini semuanya berawal dari sebuah undangan untuk terlibat di dalam kolosal tarian daerah dari pemerintah Lembata beberapa bulan yang lalu. “Karena jangka waktu berada di sana sampai dua minggu, saya memutuskan untuk menjadikannya Trip Menuju Timur untuk sekaligus mengeksplorasi dan berbagi cerita di tanah Lembata,” ceritanya.

Kini, wanita yang juga menekuni dunia seni visual tersebut tengah merancang album perdananya. “Yes, album yang akan mulai dikerjakan di bulan september ini! Semoga lancar ya, supaya bisa segera move on ke ide-ide selanjutnya,” tutupnya.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Gabriela Fernandez

The Box Perkenalkan Formasi Baru Lewat Live Session

Pandemi yang sudah berlangsung selama dua tahun ini telah membuat kita semua kembali dari awal. Menyusun ulang rencana dan mulai menata kembali langkah-langkah yang akan diambil. Kini industri sudah mulai...

Keep Reading

Sajian Ska Berbeda dari Slowright

Slowright, unit ska dari kota Malang baru-baru ini telah melepas album mini teranyarnya bertajuk Believe. Dirilis oleh label rekaman yang bermarkas di Yogyakarta, DoggyHouse Records, lewat rilisannya kali ini Slowright...

Keep Reading

Zizi yang Menyapa Kampung Halaman Lewat Hometown Tour

Setelah menyelenggarakan showcase perdananya yang bertajuk Unelevated Intimate showcase di Bandung pada akhir Februari lalu. Kini, Zizi kembali ke rumah tempat ia tumbuh dan menemukan passion terbesar dalam dirinya. Ia...

Keep Reading

Realita Kaum Pekerja di Nomor Kolaborasi Dzulfahmi dan Tuantigabelas

Dzulfahmi, MC dari kolektif Def Bloc dan Dreamfilled yang bermukim di Jakarta baru-baru ini (6/5) telah memperkenalkan karya terbarunya bertajuk “Rotasi”. Lewat rilisannya kali ini Dzulfahmi menggaet salah satu nama...

Keep Reading