Eisen adalah perwujudan baru dari band bernama Jakebird. Terbentuk pada tahun 2015, kini unit psychedelic-Desert rock asal Surabaya tersebut  solid dengan formasi Khaisar (vokal/gitar). Bintang (gitar), Arya (bass), dan Uned (drum).

“Eisen itu dulu namanya Jakebird. Nah, sebelum itu, Bintang, Uned, dan bassist-nya yang dulu itu sudah punya band, terus saya diajak Uned untuk mengisi vokal karena ia suka dengan karakter vokal dan referensi musik saya. Lalu, mulailah kita jamming-jamming bareng nge-cover lagu orang, hingga waktu itu saya coba buat materi sendiri,” jelas Khaisar.

Lalu seiring berjalannya waktu, Eisen pun berhasil menelurkan sebuah EP perdana bertajuk “Unhodiernal” pada tanggal 25 April 2019 lalu. Mini album yang mengandung 6 buah nomor tersebut dirilis dalam bentuk fisik sekaligus digital melalui UrbanHustlet Music, sebuah music house asal Kota Surabaya yang berdiri sejak tahun 2018.

Sebagai langkah untuk menyambung nafas dari karya tersebut, Eisen pun menggelar sebuah perjalanan konser bertajuk “Unhodiernal Tour 2019” yang terlaksana sejak tanggal 8 hingga 30 November 2019 dan berlangsung di Denpasar, Tangerang, Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Malang.

“Jadwal di Kota Surabaya dan Makassar ini munculnya belakangan,” kata Khaisar. Pada dua kota tersebut, Eisen bermain satu panggung bersama unit sludge metal band asal New Orleans, Amerika yaitu Eye Hate God.

“Meski baru terlaksana sekarang, tour ini sudah kami mimpikan sejak lama, kira-kira sejak tahun 2017, saat Eisen tengah melangsungkan rekaman materi-materi EP Unhodiernal,” ungkapnya. Lalu, ia juga menjelaskan bahwa tour ini menjadi penting karena selain menjadi medium untuk menghampiri secara langsung para calon pendengar musik mereka, perjalanan ini pun berfungsi untuk sarana berjejaring.

Namun, perjalanan konser mereka bukannya tanpa hambatan. Di Kota Tangerang, penampilan mereka gagal dikarenakan terjadinya konflik antar geng tepat di depan venue acara. “Saat kita sedang mempersiapkan alat-alat di atas panggung, panitianya menghampiri kami dan bilang kalau di depan venue ada tawuran dan kita disuruh berhenti dulu,” kenangnya.

“Lalu, panitia itu pun menghampiri kami lagi dan mengatakan bahwa sepertinya kita bisa tampil dan harus cepat-cepat meninggalkan venue karena takut konfliknya menyebar sampai ke dalam area acara”.

Meski begitu, kondisi acara di titik-titik tour lainnya cenderung lancar. Mereka pun banyak mendapat repon-respon positif, misalnya saat Eisen tampil di Denpasar. “Orangnya ramah-ramah banget dan sangat apresiatif,” kata Khaisar. Di kota tersebut, mereka singgah di tiga tempat: Gimme Shelter, Stel Peleng, dan Lucky Street Bar.

Setelah meluncurkan EP dan melangsungkan tour, kini Eisen sedang berencana untuk merancang album penuh perdananya. “Kita pengen banget ngeluarin album. Konsepnya sendiri kita sudah siapkan,” ucap Khaisar, tapi ia belum berani untuk mengatakan kapan tepatnya proyek itu akan mulai digarap.

Jadi, sembari menunggu album penuh itu rampung (entah kapan), ada baiknya kita simak dulu EP “Unhodiernal” milik kawanan Eisen ini. Sembari tiduran boleh, sambil giting aibon juga silakan. Selamat menikmati.


Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Eisen