Meski terhalangi oleh lapisan peredam, suara hentakan “The Annual Horrors” masih terdengar hingga ke tempat saya duduk. Avhath sudah di dalam studio. Beberapa jam sebelumnya, kami memang bersepakat untuk berjumpa, dan karena satu dan lain hal, pertemuan pun berlangsung bertepatan dengan jadwal latihan mereka.

Entah lewat iblis yang mana, tapi sepertinya “The Annual Horrors” telah diberi berkat. Dosis kegelapannya, mampu menyihir jajaran juri ajang bergengsi sekelas AMI Awards untuk memilih Avhath sebagai peraih gelar pemenang untuk kategori “Karya Produksi Metal/Hardcore Terbaik”.

View this post on Instagram

#THEANNUALHORRORS ? BY @MOSESMMMS

A post shared by ?????? (@avhath) on

“Padahal, tadinya ‘The Annual Horrors’ tidak akan direkam, tapi pas kita rekaman materi EP The Avhath Rites, masih ada sisa waktu. Jadi ya udah, sekalian kita rekam saja,” Kata Ekrig atau Rezky Pratama sang vokalis.

Seperti biasa, citra selalu direpresentasikan lewat kebiasaan. Persona kegelapan yang dimiliki oleh Avhath pun dibentuk dari tidak tanduk macam membakar dupa sebelum manggung dalam rangka mengusir energi negatif lain agar mereka pun bisa dapat giliran.

“Jadi, dupa yang kami itu berjenis sage yang konon mampu mengusir energi-energi negatif dalam ruangan. Nah, kita membakarnya sebelum manggung itu dalam rangka memastikan kalau cuma kami sumber energi negatifnya,” kata Ekrig menceritakan duduk perkara dari ritus yang sering dilakukan Avhath sebelum manggung.

Terbentuk di tahun 2012, sejauh ini band dengan personil Ekrig (vokal), BxP( bass), Kvvlt (gitar), Yvd (gitar), dan Svnn (drum) ini telah menciptakan sejumlah single, EP, serta proyek split dengan beberapa musisi semisal Aneka Digital Safari dan Violance of Crusade. Mereka menghindari membuat album penuh karena prosesnya yang rumit.

View this post on Instagram

Two nights ago we were basked in his eternal radiance The Moon is Black and Red is made possible by the help of @krazykosmickid & her @satan.school for the graphic concept & direction @hotelmonopoli & @arickahong for the venue Hampton’s Famiglia, @maternal_disaster, and @jagermeisterindonesia for the supports live visual motion by @azeten & @cutssss live sound engineered by @_haxprocess sound system by @solidnstated our very own stage team @d333333r, @prasarp , @fauzi.tm, @nanangsopuan, and @tuanrioo opening set by @curegodlast, closing set by @bagvs merch screen-printed by @centralheatingstudio press release by @bingluther And your constant supports and interests towards the Avhath rites Some captured scenes will be available in the coming days, we’ll see you next year! #THEAVHATHRITES #themoonisblackandred

A post shared by ?????? (@avhath) on

“Kita kayaknya tidak akan pernah bikin album, soalnya gue agak kritis sih sama sebuah album. Karena bagi gue album itu perlu suatu riset lama agar konsepnya kuat. Males banget nggak sih? Jadi untuk saat ini, EP, single, dan split album itu sudah cukup buat Avhath,” ungkap Ekrig. Album penuh Avhath mungkin tidak akan pernah ada, tapi juga belum tentu. Semuanya hanya soal mood. Banyak kemungkinan bisa terjadi.

The Avhath Rites adalah karya EP terbaru Avhath yang dirilis pada 1 Februari 2019. Topik bahasannya masih sama seperti karya-karya lainnya, yaitu dari mulai seputar tingkah laku masyarakat hingga depresi. Kendala yang mereka alami adalah seputar teknis, tepatnya pada proses mixing tiap lagu.

“setelah memilih-milih studio, akhirnya kami memilih mengeksekusinya di ALS Studio. Kendalanya terjadi di masalah mixing, sih. Kita banyak coba-coba banyak sound hingga jadi seperti yang sekarang. Kalau lo dengerin lagu di The Avhath Rites, itu kan reverb-nya agak lebay kan? Nah, gue emang pengen sound seperti itu,” kenangnya.

Konsistensi Avhath dalam bermusik terbentuk karena sikap para personil yang menganggap musik adalah sarana untuk bersenang-senang. Meski bagi mereka, hidup sepenuhnya dari musik adalah angan-angan yang tidak menginjak bumi, selama mampu melepas kepenatan hasil aktifitas harian, bermusik akan selalu dilakukan.

“Cita-cita kami itu bukan album,tapi kami pengen banget bisa melangsungkan tour di luar negeri, pengen Avhath bisa menginjak benua Amerika. Kalau ke Eropa gue takut dianggap kurang black metal”. Tutup Ekrig.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Avhath