Dari masa dulu, perkembangan suatu musik pasti tak lepas dari yang namanya teknologi, apalagi di masa sekarang yang kian canggih dan inovatif. Selain musik dalam bentuk audio, juga ada yang berbentuk video pastinya. Kedua hal ini sangat tidak mungkin untuk dipisahkan. Dari banyaknya insan yang ada, nama Allan Soebakir rasa-rasanya tidak bisa dipinggirkan begitu saja. Dia adalah orang dibalik pergerakan dari kolektif Sinema Pinggiran.

Rumah produksi ini telah banyak menghasilkan karya-karya video klip dari band Indonesia dengan kualitas yang tak bisa dipandang sebelah mata. Sinema Pinggiran lahir atas dasar sebuah inisiatif dari kawannya yang ingin membuat sebuah pergerakan saat di IKJ silam. Niat awal hanya untuk menjadi distributor bagi teman mereka yang memiliki karya visual, hingga akhirnya menjadi sesuatu hal yang diseriusi dengan mencoba membuat film dari hasil patungan dan bukan mainnya kini hal tersebut menjadi berkelanjutan.

Oh ya, mereka terbentuk di tahun 2009, kata “pinggiran” digunakan sebagai pertanda bahwa mereka ingin menghadirkan sebuah alternatif tontonan kepada banyak orang, bukannya melawan arus besar yang lebih populer. Sejauh ini, mereka telah banyak menelurkan buah karyanya. Total ada kurang lebih 100 video musik dan 5 film dokumenter musik yang telah dihasilkan. Sebab itulah, mereka akhirnya bisa menjadi pionir kolektif video alternatif yang memiliki basis massa yang besar.

Setiap kolektif pastinya pernah merasakan konflik yang menjadi bumbu cerita. Begitu pun mereka. Bagi Allan, yang paling berkesan di masa perjalanan kolektif ini adalah saat pembuatan video Marjinal yang berjudul “Negeri Ngeri” dan juga video dari Steven Jam. Kini, Sinema Pinggiran menjadi lebih besar lagi berkat kegigihan Allan dan kawanannya. Hal itu terbukti saat dirinya menggelar pameran tunggal yang bertajuk “Allan Soebakir: 100 Video Musik”.

Pameran tunggal ini pun tidak hanya dihelat di satu tempat saja, melainkan dilakukan dalam format tur di beberapa kota, yang mana setiap kota akan melibatkan musisi-musisi yang pernah bekerjasama dengannya. Juga sekaligus, pameran ini untuk merayakan eksistensinya sebagai seorang videografer selama masa satu dekade.

Selain itu, dirinya juga pernah menggarap film dokumenter dari musisi Jason Ranti dalam tajuk “Sesudah Pergaulan Blues” pada tahun 2019 kemarin. Film yang berdurasi 45 menit ini tentunya banyak mengangkat hal-hal yang sangat personal dari diri Jason Ranti atau yang akrab dipanggil Jeje tersebut.

Karya paling terbaru dari dirinya adalah sebuah film dokumenter dari perjalanan tur 5 negara di Eropa Joe Million dan Indra Menus yang akan diberi judul “Jalur Sutra”. Dalam rencananya, film dokumenter ini akan tayang serentak di 20 kota pada tanggal 28 Maret mendatang.

View this post on Instagram

Joe million adalah salah satu Pioneer yg membawa album bombardir Tur 12 kota. Pada pertemuan singkat di Cirebon Joe dan Indra sepakat memulai project Noise x hip hop dan mereka bawa sampai 5 negara di Eropa. Kita bisa tonton di Film Dokumenter "Jalur Sutra" yg rencana nya akan tayang serentak di 20 Kota pada tanggal 28,kalau Corona gak mengganggu ya ? -Diskusi tur mandiri -Pemutaran Film – Perfomence "Jalur Sutra" dokumenter Tur @joemillionraps dan @indramenus di 5 Kota Eropa akan di putar pada tanggal 28 Maret 2020 serentak di 20 kota melalui jaringan bioskop alternatif dan the power of mafren @layarkeliling , Pontianak @bilikbersenyawa , Banjarmasin @lmgskrg , Lamongan @sarekatkine , Semarang @gresikmovie , Gresik @ruangriung_kuningan , kuningan @ykvvknd , Jogja @kedai_cas , Bandung @kedaikopi.tok , Indramayu @kreatif_filmkendal , Kendal @noirlab.project ,cileungsi @salingxsilang , Boyolali @kisikelir , Solo @sandwichattack_ , Tanggerang @rumahbergerak , Jakarta timur @warungsrawung , Malang @klabinaria , Subang @continuum_sq @potsjam , Jakarta KKK ( Kamar kost king) Media parner @siasatpartikelir , @allyoucanart @longlifemagz

A post shared by Allan Soebakir (@allansoebakir) on

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Allan Soebakir