Diantara riuhnya perayaan momen-momen berharga, sangat umum kita jumpai segelintir orang yang berusaha mengabadikannya. Fotografer, tentu saja jadi salah satunya. Dalam hal ini, kita perlu banyak-banyak berterima kasih kepada mereka, dikarenakan usahanya untuk menangkap gambar dari peristiwa agar mampu dikenang di kemudian hari. Alfi Prakoso adalah salah satunya. Tahun 2020 ini merupakan tahun keduanya tergabung dalam tim sukses dari band asal Bandung bernama The Panturas, tepatnya sebagai fotografer. Dia juga salah satu fotografer dari sebuah majalah, Popular Magazine namanya.

“Suka dengan fotografi dari kelas 2 SMA, aktif di fotografi dari 2014 sampai sekarang. Alasannya suka aja dengan dunia visual, dulu sempet juga di musik tapi ngerasa nggak bakat jadinya milih buat bertahan di fotografi,” ungkapnya.

Kesukaannya tersebut berlanjut menjadi sebuah rutinitas. Di tahun 2013, ia rajin mendatangi beragam gigs di Bandung untuk mendokumentasikannya serta sering menggarap foto band-band milik teman-temannya.

“Tahun 2014 diajakin buat join di salah satu media online, makin rajin tuh tiap weekend liputannya motret band termasuk mulai jadi official photographer buat salah satu band emo kenamaan Bandung. Tahun-tahun selanjutnya mulai explore bareng band-band lain disamping kerjaan di media, termasuk ke band-band yang jadi idola waktu sekolah sampai akhirnya sekarang udah di tahun kedua bareng The Panturas,” jelas pria yang juga melakoni profesi sebagai fotografer sebuah majalah pria dewasa tersebut.

Bila fotografi panggung adalah tentang bagaimana cara membingkai performer dan elemen-elemen pertunjukan lainnya secara baik dan indah, di majalah, Alfi lebih banyak bersinggungan dengan model sebagai objek foto. Ia mendapati dirinya kembali di titik nol.

“Karena sepanjang motret, saya paling jarang motret model. Tantangannya yang pertama adalah awalnya saya ngga biasa motret model, di tempat kerja saya belajar motret lagi dari nol mulai dari konsep, set-up studio, sampai nge-direct modelnya,” tutur Alfi. Konten dari majalah tempat ia bekerja pun sempat memberikan tantangan tersendiri.

“Tantangan yang kedua adalah gimana caranya menghadapi model-model yang kadang agak rewel dan godaan konsentrasi karena ya, you know lah, model-model yang seliweran di studio kantor itu model-model yang menggoda syahwat lelaki. Tapi untuk godaan yang kedua nggak bertahan lama sih, udah lewat sebulan langsung kebal,” lanjutnya.

Ada pun soal tantangan di ranah fotografi panggung, menurut Alfi, sang pemotret perlu pandai dalam membaca kondisi panggung serta objek yang difotonya. “Belum lagi regulasi-regulasi yang diterapkan panitia atau EO tiap event beda-beda. Kalo sebagai official photographer mungkin kita dapet keleluasaan untuk memotret, yang jadi tambahan ya kita harus bisa dapetin momen-momen yang nggak tertangkap di panggung seperti kegiatan-kegiatan di backstage”.

Untuk mengatasi kejenuhan, ia pun saat ini memiliki hobi baru yang masih berada pada jalur fotografi yaitu bermain kamera analog. Tampaknya gairahnya memang tidak bisa jauh-jauh dari wilayah tersebut. Explorasinya pada fotografi  masih akan berlanjut untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.

“Saya sendiri akan terus menekuni fotografi, meskipun pekerjaan utama saya mungkin tidak berkaitan dengan dunia fotografi. Fotografi sendiri buat saya sudah jadi hal yang menolong saya di berbagai hal termasuk di dunia kerja dan kehidupan personal”.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Alfi Prakoso