Di kesehariannya, Sky Sucahyo adalah seorang perempuan biasa.

Ia tidak terlalu pandai membuka percakapan dengan orang baru. Namun sekali merasa cocok, Sky bisa menghabiskan waktu berjam-jam berceloteh tentang hal-hal yang terkesan remeh; film yang baru ditonton, gosip selebriti, hingga makanan favorit.

Mengaku bukan morning person, setiap pagi ia harus bangun dan bersiap melakoni kewajibannya sebagai penulis di salah satu instansi pendidikan swasta. Rutinitas itu bukan hal baru. Sebelumnya, ia sempat bekerja di sebuah media gaya hidup ternama, juga sebagai penulis.

Di balik itu semua, Sky sudah rutin bermain musik sejak kecil. Semasa kuliah, ia gemar membawakan musikalisasi puisi. Single pertamanya, ‘A Dream Within A Dream’ adalah puisi karya Edgar Allan Poe yang diubahnya menjadi alunan nada indah sekaligus membius. Teman-temannya menyukainya. Ia lalu mulai berkeliling dari satu panggung kecil ke panggung kecil lain untuk mementaskan karyanya.

Sampai di sini, beberapa orang mungkin beranggapan ketertarikan Sky terhadap dunia literatur sudah berlangsung lama, apalagi ia merupakan lulusan Sastra Inggris. Benarkah demikian?

“Sejujurnya tidak,” sahut perempuan berusia 25 tahun itu. “Sewaktu SMP-SMA, memang ada beberapa buku yang saya baca seperti Because of Winn-Dixie, To Kill a Mockingbird, dan The Kite Runner. Tapi sejujurnya, buku yang saya baca secara religius justru seri Horrible Histories dan Horrible Science, yang sepertinya tidak bisa dianggap sebagai karya literatur, ya.”

“Ketika berkuliah di Sastra Inggris, saya jadi lebih banyak baca. Apresiasi juga. Tetapi jurusan kemudian mendorong kita untuk membedah tulisan-tulisan itu, menjadi spektator, pengamat. Dan itu sebenarnya saya kurang suka. Saya lebih suka menikmati karya seseorang tanpa banyak pikir. Entah karena saya orangnya pemalas, atau kurang deep, mungkin? Hahaha. Itu juga yang menjadi alasan saya memilih pengutamaan di bidang Linguistik, di mana kita membedah penggunaan bahasa itu sendiri. Jadi, kalau dibilang punya ketertarikan di bidang literatur, sepertinya kurang cocok menggambarkan diri saya. Saya membaca dan mengapresiasi puisi lebih untuk kenikmatan pribadi,” tambah Sky.

FOTO

Sebagai pribadi yang cukup melankolis, Sky adalah orang yang percaya bahwa setiap karya seni dapat diinterpretasikan secara personal oleh penikmatnya. Baginya Taman karya Chairil Anwar adalah puisi bahagia. Romantis. Alih-alih bernuansa sedih seperti dipersepsikan banyak orang.

“Tetapi saya tidak ingin melabeli diri sendiri sebagai pemusikalisasi puisi. Itu menjadi semacam beban. Terkadang saya heran, kok bisa penyair-penyair itu merangkai kata sedemikian rupa dan jadi sebuah puisi yang cantik. Seperti lukisan. Saya tidak akan bisa menulis seperti itu,” tutur Sky.

Dalam kurun waktu dua tahun terahir, banyak yang terjadi di kehidupan Sky Sucahyo. Kini, ia berada di bawah naungan FFWD Records, dan telah merilis beberapa lagu hasil kreasinya sendiri, seperti Lejar, Letters dan To Lust.

“Musikalisasi puisi telah membantu saya ketika belum berani menulis lirik. Sekarang, saya sudah cukup percaya diri. Saya berharap, orang-orang mulai melihat karya yang ditulis sendiri. Lagu-lagu yang terakhir dirilis semuanya tulisan sendiri. Lagu-lagu yang akan datang pun juga tulisan sendiri,” jelasnya.

Identitasnya sebagai musisi kian kokoh. Sky menjebol batas lewat eksplorasi musik yang kaya, dipertajam oleh format band yang semakin solid. Satu hal yang pasti, lagu-lagunya selalu berkelindan dengan episode hidup dan referensi musiknya saat itu. “Julia Nunes, Fleet Foxes, dan Daughter masih jadi influens utama. Di samping itu, akhir-akhir ini saya senang mendengarkan Maggie Rogers, Sigrid, Kimbra, Angel Olsen, dan Rostam. Pasti akan berpengaruh terhadap penulisan lagu. Dulu, The City and the Prairie, Doa Untuk Istriku dan Babe ditulis berdekatan, jadi mood-nya agak mirip,” jelasnya tentang beberapa nama yang menjadi referensi dalam pengkaryaannya.

Pada akhirnya, Sky Sucahyo tetaplah perempuan biasa, yang diliputi oleh segala kompleksitas kepribadiannya. Mendengarkan musik Sky adalah proses berkenalan dengannya, yang ternyata cukup mudah mengingat Sky memperlakukan musik dengan sangat intim. Ini menjadi alasan baik untuk kita menunggu album penuh Sky yang semoga selesai dan dalam waktu dekat. (*)

 

Teks: Dwi Lukita
Foto: Dok. Sky Sucahyo