Dengan tema sentral Maritim : Migrasi – Sungai – Kuliner , gelaran Makassar Biennale tahun ini juga besar menyoroti dan mengupas peran seni rupa sebagai bagian tak terpisahkan dari pergerakan masif seni yang terjadi dimana-mana termasuk di Makassar.

Pelaku seni rupa bertambah dari waktu ke waktu dan akan terus seperti itu entah sampai kapan. Kenaikan secara kuantitas tentu perlu juga diimbangi oleh pergerakan naik dari sisi kualitas, yang sangat bergantung dari seberapa siap pelaku dan pecinta seni rupa itu juga untuk makin sadar akan kebutuhan industrinya yang mengikat erat berbagai sektor kehidupan.

Di sisi lain para pelaku seni rupa baik yang mengakar dari unsur tradisional dan kontemporer juga harus tetap memberi ruang bagi tema-tema kerakyatan dan keseharian agar mampu mengimbangi pesatnya pertumbuhan dan menjawab tantangan jaman. Seni rupa dan bidang seni lainnya termasuk seni musik juga harus mampu mengisi dinding peran masing-masing dan saling memberi ruang untuk berkembangnya seni itu sendiri, dan nantinya seni bukan hanya menjadi elemen pelengkap namun mampu meretas gairah masyarakat untuk tetap bertumbuh dan berkembang sebagai individu-individu yang mempunyai nafas seni yang tinggi pula.

Untuk mengupas dan menempatkan hal-hal tersebut sesuai porsi dan peruntukannya, Makassar Biennale dan gerakan kolektif Siasat Pertikelir menggagas sebuah simposium terbuka dengan tema sentral Seni Rupa Dan Musik di pelaksanaan tanggal 3 September 2019 bertempat di gedung Kesenian Sulawesi Selatan kota Makassar.

Vokalis dari band FSTVLST sekaligus seniman gambar asal Jogjakarta Sirin Farid Stevy yang baru saja merilis album ke-2 bandnya didapuk sebagai pembicara bersama-sama dengan Woto Wibowo, perancang grafis sekaligus seniman yang kerap bereksperimen dengan ruang kolektif dengan menggunakan estetika kuratorial dan juga penggagas ruang kreatif bernama Mes 56 yang lebih dikenal dengan nama Wok The Rock. Lalu ada seorang penggiat seni dan aktivis budaya asal Surabaya Anitha Silvia yang terkenal dengan keterlibatannya sebagai sukarelawan perpustakaan C20, aktivis Netlabel Union Indonesia serta Sunday Market. Dia  juga adalah manager dari duo musisi mandiri bernama Silampukau. Ketiganya berbagi cerita dan pengalaman dengan dipandu oleh Andi Muhammad Ikhlas (Iko md) seorang pemerhati seni musik yang malang melintang di industri media radio, event organizer dan juga telah lama menggagas label musik independen bernama Milisi di Makassar.

Simposium yang berjalan sangat santai dan mengalir ini dimulai sekitar jam 4 sore dan dihadiri puluhan penggiat seni dan pelaku industri seni dari berbagai kolektif seni budaya berbagai tingkatan usia. Tiga pembicara diajak untuk menapaktilas rekam jejak berkesenian mereka terlebih dulu sebelum kemudian dicecar oleh berbagai pertanyaan dari moderator ataupun dari peserta simposium.

Farid Stevy yang ternyata lebih menyukai berada di studio gambar dibanding studio musik menyampaikan cerita-cerita menarik tentang betapa kegiatan seni rupanya mampu menyokong banyak hal dari hidupnya termasuk untuk memenuhi kebutuhan harian sampai dampak baik dimana ia mendapatkan posisi yang menguntungkan dengan predikatnya sebagai pekerja seni gambar yang menelurkan banyak hal popular lainnya. Ia juga menekankan bahwa berseni rupa dan musik tidak hanya berbicara tentang “seberapa banyak kita mendapatkan keuntungan materi” namun lebih dari itu adalah seberapa besar karya kita mempu menjadi “alat tukar” demi mendapatkan sesuatu yang sepadan nilainya. “Uang itu bukan nomer satu, namun bagaimana hasil berkesenian kita mampu membuat nilai tawar kita menjadi lebih baik dari waktu ke waktu,” ujarnya.

Pendapat itu diaminkan oleh Anitha Silvia, yang berdasarkan pengalamannya dalam membesarkan dan mengelola unit pop ballad Silampukau. Ia menemukan kenyataan betapa bergunanya jaringan pertemanan itu hingga Silampukau mampu melahirkan karya lagu dalam bentuk fisik dengan sistem barteran dan royalti dengan seorang seniman desain dan gambar yang juga mampunyai visi yang sama dengannya.

Sementara itu, Wok The Rock banyak membandingkan suasana dunia seni jaman sebelumnya yang ternyata punya tantangan lebih besar dibanding masa dimana semua dikotak-kotakkan, diberi label genre dan semacamnya yang membuat para seniman sebenarnya tidak berada di posisi ideal dalam industri karena sibuk untuk memperdebatkan banyak hal yang sebenarnya tidak perlu ada.

“Karya seni itu, baik seni rupa maupun seni musik sepantasnya dinikmati saja dengan gembira bukan malah diperbandingkan satu dengan lainnya,” tukasnya saat memberikan pandangan atas pertanyaan seorang peserta simposium yang menyatakan bahwa di kota sebesar Makassar pun masih sulit untuk seniman beroleh apresiasi yang wajar dari pihak lain.

Diselingi dengan banyak pernyataan yang memukau dari ketiga pembicara tamu, moderator menggiring opini peserta dan jawaban dan tanggapan pemateri ke satu titik kompromi yang realistis bahwa semua cabang seni dan disiplin seni berlabel apapun sebaiknya disandingkan satu sama lain. Karena hal-hal yang dikerjakan dan dijalankan secara kolektif akan menghasilkan karya-karya yang lebih kaya dan akan berdampak baik untuk kehidupan maupun perjalanan berkesenian dari para seniman itu sendiri pada akhirnya.

Tepat jam 17.35 waktu setempat, simposium yang hangat dan cair ini usai dan dilanjutkan dengan sesi bincang-bincang bebas antara semua seniman dan para pelaku industri serta pengunjung Makassar Biennale 2019 yang tampak berbahagia dengan adanya gelaran berkualitas ini.

Sampai bertemu di ajang bertukar pikiran selanjutnya.

Teks: Iko MD
Visual: Arsip Anwar Jimpe Rachman