Setelah Dangdut, Warisan Budaya yang Memiliki Potensi Untuk Bersaing di Kancah Internasional

Masih hangat dalam perayaan hari musik nasional yang jatuh pada minggu lalu, saya mencoba ikut serta memeriahkan dengan menulis tentang warisan budaya berupa musik (setelah dangdut) yang memiliki potensi besar bersaing di kancah Internasional.

Sejak ditetapkannya Hari Musik Nasional oleh Presiden SBY melalui Keppres no 10 Tahun 2013, Tanggal 9 Maret dipilih sebagai peringatan Hari Musik Nasional yang bertepatan dengan tanggal kelahiran Wage Rudolf Soepratman seorang pahlawan nasional yang juga merupakan pencipta lagu “Indonesia Raya” lagu kebangsaan Republik Indonesia.

Penetapan Hari Musik Nasional merupakan upaya meningkatkan apresiasi, prestasi dan rasa percaya diri terhadap insan musik Indonesia, 8 Tahun berlalu sejak penetapan hari musik nasional, tahun ini tentunya salah satu tahun yang sulit bagi insan musik Indonesia, karena Dunia sedang dilanda Wabah Covid-19 yang tidak memungkinkan bagi musisi untuk menggelar pertunjukan langsung karena melanggar protocol Kesehatan, namun Ketika Hari Musik Nasional pada tanggal 9 Maret lalu tentunya banyak apresiasi dan ucapan dari berbagai pihak untuk para musisi dan penikmat musik, salah satu apresiasi yang menarik perhatian saya adalah ucapan dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi kreatif melalui unggahan Instagram Pribadinya @sandiuno.

Beliau mengunggah cuplikan klip dari sang Raja Dangdut yaitu Rhoma Irama sedang menyanyikan lagunya yang berjudul musik, beserta caption yang berisi : “Selamat malam sobat pariwisata dan ekonomi kreatif.
Di #HariMusikNasional ini kalian mendengarkan lagu apa?
Yang suka nyetel lagu dangdut, kumpul..!!
Beberapa waktu lalu saya mengusulkan musik dangdut ke UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia. Potensi musik dangdut ini sangat besar sebagai modal utama dalam pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif, dan juga dalam penciptaan lapangan kerja.
Kalau Korea punya K-POP, Jepang Punya J-ROCK, Indonesia punya DANGDUT. Kita jangan sampai kalah dengan negara lain!”

Diusulkannya musik dangdut ke UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia tentunya membuat angin segar bagi para pelaku musik dangdut, karena bila dangdut diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dari Indonesia, maka beberapa keuntungan yang didapatkan diantaranya : Warisan budaya otomatis menjadi warisan budaya Dunia, Promosi Dangdut agar lebih dikenal dunia, Mendapat Kucuran dana untuk usaha pelestarian.

Musik dangdut merupakan perpaduan musik khas Indonesia dengan musik India dan music melayu, di populerkan oleh Rhoma Irama hingga ia dijuluki sebagai “Raja Dangdut” musik dangdut kian adaptif terhadap perkembangan zaman dengan banyak penambahan unsur musik lainya terhadap dangdut, membuat musik dangdut selalu bisa diterima oleh semua kalangan masyarakat.

Tapi apakah hanya musik dangdut saja yang pantas diusulkan menjadi warisan budaya ke UNESCO, melihat banyak sekali aliran musik yang berasal dari Indonesia yang merupakan budaya asli yang sudah turun temurun diwariskan dari beberapa generasi, dengan cerita yang unik dan menarik untuk digali lebih dalam seperti : 

Gamang Kromong musik yang awalnya menggunakan nada pentatonis (lima nada) dan alat-alat musik Tiongkok, seiring perkembangan zaman musik Gamang Kromong pun mulai berkembang dengan memasukan unsur alat musik modern, lagu lagunya dinyanyikan pasangan pria dan wanita, lirik yang disajikan berupa sindiran jenaka.

Keroncong Musik yang berakar dari jenis musik Portugal yang bernama “fado”yang mulai diperkenalkan pada Abad 16 oleh pelaut Portugis di Nusantara, seiring zaman musik “fado” mengalami banyak perkembangan dengan dimasukkannya unsur alat musik seperti seruling, Gamelan, sitar, rebab sampai gong sampai jadilah Keroncong seperti yang dikenal sekarang, Keroncong mengalami empat tahap masa perkembangan diantaranya : Masa keroncong tempo doeloe (1880-1920), Masa keroncong abadi (1920-1960), dan Masa keroncong modern (1960-2000), serta Masa keroncong millenium (2000-kini)

Tarawangsa musik instrumental yang terdiri dari alat musik gesek dan juga petik, Dalam tulisan Teguh Permana mengutip pendapat Luki Hendrawan, secara etimologi,Tarawangsa berasal dari tiga gabungan kata yakni Ta – Ra – Wangsa. Ta merupakan akronim dari kata ‘Meta’ berasal dari bahasa Sunda yang berarti pergerakan, lalu ‘Ra’ berarti api yang agung sama dengan arti Ra dalam bahasa Mesir analogi api yang agung adalah matahari. Dan yang terakhir ‘Wangsa’ sinonim dari kata Bangsa, manusia yang menempati satu wilayah dengan aturan yang mengikatnya. Jadi Ta-Ra-Wangsa berarti ‘kisah kehidupan bangsa matahari’. Dengan kata lain, Tarawangsa merupakan kesenian penyambutan bagi hasil panen padi tumbuhan yang sangat bergantung pada matahari sebagai simbol rasa syukur terhadap Tuhan YME. Tarawangsa merupakan ensemble kordofon (alat musik dawai yang sumber bunyinya berupa ruang resonator) dua alat musik. Yang satu dinamakan tarawangsa itu sendiri, dimainkan dengan cara digesek dan yang satunya dinamakan jentreng dimainkan dengan cara dipetik.(sumber kebudayaan.kemdikbud.go.id) 

Karawitan adalah seni gamelan dan seni suara yang bertangga nada slendro dan pelog. Kesenian ini terkenal di Pulau Jawa dan Bali. Istilah karawitan berasal dari Jawa yaitu kata “rawit” yang berarti halus dan lembut. Jadi karawitan berarti kelembutan perasaan yang terkandung dalam seni gamelan.

Karawitan dapat dibagi menjadi 3, yaitu:

Karawitan sekar, Karawitan gending, Karawitan sekar gending

Dan tentunya masih banyak musik dari Indonesia yang lainya, tak mengherankan bila Indonesia dianugerahi budaya yang kaya, merupakan Negara Kepulauan terbesar di Dunia dengan berbagai macam budaya yang berbeda di setiap daerahnya, di momen yang tak jauh dari Hari Musik Nasional ini tentunya apresiasi terhadap musik lokal Indonesia harus banyak diberikan dan ruang lebih agar musik lokal Indonesia bisa tetap hidup, peran pemangku kepentingan pun dirasa perlu dalam ikut andil melestarikan musik lokal termasuk juga mengusulkan musik-musik lokal sebagai warisan budaya non benda ke UNESCO.

 

Teks: Deni Yogi Subakti

Visual: Yuzhar Dwika

Bersama Ello dan Virzha, Dewa19 Rilis Ulang Materi Lama "Still I’m Sure We’ll Love Again"

Dewa19 melanjutkan perilisan karya-karya lama mereka dalam format baru. Kali ini, mereka merilis “Still I’m Sure We’ll Love Again”, sebuah lagu dari album Format Masa Depan yang aslinya menampilkan vokal...

Keep Reading

Langkah Berikutnya dari Bilal Indrajaya

Usai melepas beberapa materi singel dan album mini Purnama (2019) solis dari Jakarta, Bilal Indrajaya, akhirnya melanjutkan perjalanannya dengan meluncurkan karya terbarunya bertajuk “Saujana” lewat label rekaman legendaris yang kini...

Keep Reading

Themilo Rangkum Perjalanannya di Nomor "Flow"

Dua dekade berlalu dan Themilo tetap berjalan dengan syahdu. Pada akhir Juli 2022, unit shoegaze dari Bandung yang berdiri sejak 1996 ini baru saja merilis single terbaru mereka berjudul “Flow”....

Keep Reading

Semeti Medley, MV The Dare Besutan Allan Soebakir

Pantai! Lombok! Apa yang pertama terlintas di benak kita mendengar dua kata diatas. Tentunya hamparan garis pantai nan panjang lengkap dengan pasir putih, ombak yang riang dan air laut yang...

Keep Reading