Bonek bukanlah nama yang asing. Kependekan dari Bondo Nekat, kelompok ini adalah salah satu entitas penting di sepakbola lokal. Bonek selalu setia mendukung Persebaya Surabaya.

Depri Hariyanto punya banyak pekerjaan yang berhubungan dengan Bonek. Resminya, ia merupakan seorang security official Persebaya Surabaya. Kebetulan juga, di irisan hidupnya, ia merupakan seorang hardcore kid.

Malam itu, setelah kembali dari pertandingan away Persebaya Surabaya melawan Madura United di Stadion Gelora Ratu Pamelingan Pamekasan, Madura, Depri bercerita tentang awal mula dia menjadi fans Persebaya Surabaya.

“Saya itu mulai jadi fans Persebaya tahun 1998 pas umur delapan tahun. Waktu itu pertama kali diajak kakak ke stadion. Lupa saya matchnya sama siapa,” katanya mencoba mengingat.

Mencintai sepakbola, terutama Persebaya Surabaya adalah sebuah hal yang perlu dibela, sesuatu yang memang sudah masuk tanpa dikehendaki ke dalam diri. “Itu bukan sebuah ketertarikan sih, tapi lebih ke marwah kepada kota yang saya cintai,” ungkap Depri hidup di sebuah keluarga yang seluruhnya merupakan pencinta sepakbola.

Bonek dimiliki oleh Surabaya. Otomatis, di dalamnya ada banyak orang dengan berbagai macam profesi. Termasuk musisi dan para pemain band. Mereka yang cinta sepakbola dan bangga akan Surabaya, kemungkinan besar bangga menyebut dirinya Bonek.

“Resminya ya masuk di komunitas bonek secara umum. Banyak tuh kayak gitaris Crucial Conflict, gitaris Screaming Out juga suka,” katanya menyebut beberapa contoh yang bisa menunjukkan kedekatan kultur musik Surabaya dengan Bonek.

Sekedar catatan, tahun 2007 Depri mulai bermain musik bersama band oldschool Hardcore, Wolf Feet. Band yang merilis album Someone Hate Everyone Care (2014) dan kemudian Blessed By The Streets (Grounderz Records) ini juga berbicara mengenai keadaan yang terjadi di lingkungan suporter Persebaya.

Salah satu lagu mereka berjudul 10 Maret 2012 bercerita tentang empat orang suporter Persebaya Surabaya yang meninggal karena dilempari batu oleh oknum suporter Persela Lamongan ketika naik kereta ke Bojonegoro untuk mendukung pertandingan tandang Persebaya Surabaya melawan Persibo Bojonegoro.

Jawa Timur memang kantong sepakbola Indonesia. Ada begitu banyak tim yang secara geografis bersisian lokasinya. Nyaris seluruh kota di provinsi ini, punya catatan jika perbincangannya sepakbola.

Itu tadi cerita jelek dengan Persela Lamongan. Permusuhan abadi dengan Arema FC juga sudah menjadi rahasia umum.

Salah satu titik awal perseteruan Persebaya Surabaya dengan Arema FC dipicu di area musik, yaitu konser Kantata Takwa di Stadion Tambaksari, 23 Januari 1990. Nyaris tiga puluh tahun yang lalu.

Ketika ditanya apakah hal tersebut merembet juga ke skena musik di dua kota yang berseteru ini, ia mengungkapkan sebuah fakta yang menyejukan. “Dari segi musik, sekarang sudah tidak ada perseteruan antara musisi atau band yang mendukung Arema FC dengan Persebaya Surabaya. Teman-teman saya yang di Malang itu juga main band dan juga suporter. Tapi, ya bisa memilah sih. Misalnya nih, pernah band saya launching album, mengundang band teman asal Malang ke Surabaya, begitu juga sebaliknya. Nggak ada apa-apa, bahkan pernah saya main dua kali sehari di Malang,” katanya.

Ia melihat bahwa para suporter bola ini sudah bisa memilah antara fanatisme sepakbola dan bermain musik.

“Kita berteman itu ketemu band, jadi fine-fine aja. Dulu sempat ada gesekan, generasinya Mas Reza (Garasi 337 distro, drummer The Sinners & Ballerina Killer) mungkin mengalami hal itu tapi sekarang sih nggak. Malah kalau kami kumpul dengan anak Malang itu seringnya interaksi bahas bola, saling ngejek juga tapi ya nggak sampe ribut-ribut. Dibawa santai saja. Hehe,” jelasnya sambil terkekeh.

Ada kesepakatan yang coba dibangun. Ketika di luar stadion, mereka adalah satu keluarga besar. “Tapi di dalam stadion ya, kita nggak tahu apa yang akan terjadi. Ya itu dianggap biasa saja, rivalitas itu diselesaikan 90 menit, begitu keluar ya sudah berteman lagi,” ceritanya.

Pekerjaannya sebagai security official Persebaya Surabaya membuatnya punya tugas spesifik. “Ya, tugas saya itu mengurus perizinan polisi untuk pertandingan kandang. Jadi perizinan itu atas nama saya mulai dari tingkat polsek, polres sampai ke polda. Selain itu, juga koordinasi keamanan dengan instansi keamanan mulai dari polisi, keamanan swasta (namanya Big Force) sampai marinir,” jelasnya.

Yang unik, dalam menjalankan pekerjaannya, ia lebih sering terlihat menggunakan kaos band. “Sering sih dikritik kenapa nggak pakai kaos Persebaya Surabaya. Buat saya, Persebaya Surabaya itu di hati,” terangnya.

Selama tiga tahun belakangan, Depri langsung terjun ke komunitas. Ia meneliti kepribadian, mendata para anggota komunitas penggemar sekaligus mengajak mereka membuat kartu Persebaya Selamanya, kartu anggota resmi Bonek.

Di pertandingan tandang ke luar kota, Depri juga ikut berkecimpung dalam pertandingan yang dianggap sensitif. “Misalnya pas tandang ke Bali yang animo Boneknya tinggi, saya melakukan koordinasi dengan jajaran yang akan dilewati estafet para Bonek ini. Di antaranya Polres Banyuwangi yang membantu kami menetralisir bonek yang bawa uang dan yang nggak bawa uang. Bonek yang nggak bawa uang, ya dipulangkan. Terus dengan Polres Gianyar kami juga minta untuk dibantu menyiapkan titik berkumpul bagi kawan-kawan ini,” ceritanya.

Peran nyata yang juga dijalankan oleh Depri adalah membantu fans relations yang merupakan kanal hubungan antara manajemen tim dengan Bonek. Ia bertugas melakukan koordinasi dengan koordinator Bonek supaya berhasil mewujudkan niat untuk berstatus zero accident di setiap pertandingan Persebaya Surabaya. “Itu artinya tidak ada kecelakaan atau penjarahan,” tambahnya.

Sebagai kelompok penggemar, Bonek memang berusaha keras untuk mengubah wajahnya. Di masa lalu, mereka dikenal dengan segudang hal negatif. Stigma itu menempel, bahkan hingga sekarang. Padahal, secara umum, sudah terjadi perkembangan yang luar biasa hebat. Misalnya, saat ini, Persebaya Surabaya menjadi tim dengan tingkat penghasilan paling besar dan stabil dari penjualan tiket pertandingan kandang mereka. Nyaris tidak ada lagi orang-orang yang mencoba mencari jalan jebolan. Mendukung tim kesayangan dimulai dengan membeli tiket sekaligus berkontribusi pada kehidupan klub yang dicintai.

Ada sekumpulan Bonek yang berstatus maling atau zombie –istilah yang ditujukan bagi mereka yang masih berbuat rusuh— yang jelas masih menjadi pekerjaan rumah untuk dibina ke arah yang baik. “Bonek di wilayah Surabaya itu sudah terkoordinir, jadi yang selama ini diliput media itu Bonek yang suka rusuh. Rata-rata dari luar Surabaya. Saya ada datanya, kantong terbesar mereka ada di Pasuruan, Jombang, Mojokerto, Jember,” beber Depri mengenai temuan tentang keberadaan Bonek Zombie ini.

Pekerjaan untuk mengkoordinir yang begini, tidak pernah selesai. Masalah koordinasi adalah pekerjaan yang terus menerus harus dilakukannya.

“Misalnya pas main di Jogja pada waktu Piala Presiden 2018. Kami koordinasi dengan beberapa polres yang akan dilewati oleh rombongan Bonek. Saya ke Nganjuk beberapa hari sebelum perjalanan dilangsungkan. Tujuan saya untuk mengamankan jalur yang akan dilalui supaya suporter tidak tercecer. Karena mereka ada yang estafet naik truk. Kadang, ketika turun, mereka bisa saja melakukan kejahatan. Nah, tugas saya supaya mereka tidak turun di Nganjuk dan langsung tetap di sana hingga Jogjakarta,” rincinya tentang strategi khusus yang digunakan pada waktu itu.

Perubahan ke arah yang lebih baik, sangat terasa progresinya. “Bonek yang ada di Surabaya mulai menunjukkan bahwa kami nggak harus ditakuti di luar stadion. Bonek itu juga punya rasa peduli terhadap warga sekitar,” kata Depri.

Rasa kepedulian itu dicontohkan baru-baru ini ketika mereka mengumpulkan boneka untuk anak-anak yang sedang berjuang menghadapi kanker. Di Piala Presiden 2019, mereka membuat aksi lempar boneka dengan tajuk One Man One Doll: Berikan Boneka Terbaikmu untuk Anak-Anak. Ya, boneka yang dibawa dilemparkan ke lapangan dan kemudian dikumpulkan untuk diberikan pada anak-anak yang dituju.

“Saya optimis sih 5-10 tahun mendatang, pasti mereka yang menunggangi nama besar Bonek akan hilang dengan sendirinya. Salah satu contohnya ketika di pertandingan home Persebaya, tidak ada lagi jebolan. Kita udah tahu karakteristik Bonek, kenapa mereka sering jebol tiket. Itu karena mereka yang tidak punya tiket diberi keleluasaan untuk berkeliaran di area stadion. Sekarang kita pake sistem Ring 1, Ring 2, Ring 3, agak rumit memang. Tapi itu untuk menghalangi para Bonek Zombie ini supaya mereka tidak bisa masuk ke ring di dekat stadion,” paparnya.

Fanatisme yang buta, perlu dimusnahkan. Mencintai bisa sepenuh hati, tapi tetap mesti menggunakan akal sehat. “Jangan terlalu fanatik buta, misalnya kita nggak punya uang, terus tim kesayangan kita man di luar kota. Jika kita memaksakan diri untuk ke sana, nah itu sama saja berbuat bodoh. Itu salah satu PR dari Bonek sendiri; fanatisme buta. Banyak yang menghalalkan segala cara untuk sampai ke kota tujuan. Intinya mendukung itu semampunya saja, kalo nggak punya pegangan apapun, ya jangan dipaksakan berangkat. Intinya fanatisme jangan sampe membutakan matamu sehingga melakukan hal bodoh,” tuturnya menutup kisahnya. (*)

 

Teks: Indra Menus
Foto: Dok. Depri Hariyanto